Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Mengapa Allah Menahan Rezeki? Ini Hikmah Al-Hikam

Mengapa Allah Menahan Rezeki? Ini Hikmah Al-Hikam

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Rezeki dalam Islam bukan sekadar perkara banyak atau sedikitnya harta. Ada kalanya seseorang bekerja keras, tetapi penghasilannya belum mencukupi kebutuhan keluarga. Sebaliknya, ada pula yang hidup berkecukupan, tetapi tetap merasa gelisah dan tidak pernah puas.

Hikmah dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari mengajak manusia memandang pemberian dan penahanan Allah dengan sudut pandang yang lebih dalam. Kelapangan dapat menjadi kesempatan untuk bersyukur, sedangkan keterbatasan dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi diri dan memperkuat ketergantungan kepada-Nya.

Namun, pesan tasawuf ini tidak berarti manusia harus menyerah ketika menghadapi kesulitan. Justru, pemahaman yang tepat perlu berjalan bersama ikhtiar, kesabaran, dan tanggung jawab.

Hikmah Al-Hikam tentang Pemberian dan Penahanan

Ibnu Athaillah menulis sebuah hikmah yang dalam sejumlah sumber berbahasa Indonesia dikenal sebagai Hikmah ke-103. Penomorannya dapat berbeda menurut edisi yang digunakan.

Berikut teks Arabnya:

مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

“Ketika Allah memberimu, Dia memperlihatkan kemurahan-Nya kepadamu. Ketika Dia menahan sesuatu darimu, Dia memperlihatkan kekuasaan-Nya. Dalam kedua keadaan itu, Dia memperkenalkan diri-Nya kepadamu melalui kelembutan-Nya.”

Inti hikmah tersebut bukan mengungkap alasan pasti di balik setiap peristiwa, melainkan mengajak manusia mengenali kebesaran Allah dalam keadaan yang berbeda.

Seseorang tidak selalu mengetahui mengapa usahanya belum berhasil atau mengapa keinginannya belum terwujud. Karena itu, tidak tepat jika setiap kesulitan langsung dianggap sebagai hukuman Allah. Demikian pula, kekayaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang lebih mulia secara spiritual.

Hikmah ini justru mengingatkan manusia agar tidak menilai seluruh perjalanan hidup hanya dari hasil yang terlihat.

Rezeki Lapang Bukan Bukti Seseorang Lebih Mulia

Ketika usaha berkembang, pendapatan meningkat, dan kebutuhan keluarga terpenuhi, seseorang patut bersyukur. Akan tetapi, keberhasilan juga membawa ujian berupa kesombongan dan perasaan bahwa semua pencapaian semata-mata berasal dari kemampuan diri sendiri.

Padahal, kesehatan, kesempatan, dukungan orang lain, dan berbagai keadaan di luar kendali turut memengaruhi perjalanan seseorang.

Allah berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 62:

اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Artinya, Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya pula. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat tersebut menegaskan kekuasaan Allah atas rezeki. Karena itu, banyaknya harta tidak layak dijadikan satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, Sahih Muslim no. 2564c).

Rasa syukur juga tidak cukup berhenti pada ucapan. Dalam kehidupan sehari-hari, syukur dapat diwujudkan melalui kejujuran dalam bekerja, pemenuhan kewajiban, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan membantu orang yang membutuhkan.

Sebaliknya, orang yang sedang berkecukupan perlu menghindari sikap merendahkan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Sebab, kondisi ekonomi seseorang tidak memberikan dasar yang cukup untuk menilai kualitas iman dan akhlaknya.
Rasa syukur tidak cukup berhenti pada ucapan. Seorang Muslim juga perlu memahami cara mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan rezeki secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat kepada sesama.

Saat Rezeki Terasa Sempit, Jangan Berhenti Berikhtiar

Bagaimana jika keadaan justru berlawanan? Usaha merugi, pekerjaan sulit ditemukan, atau kebutuhan keluarga meningkat ketika pendapatan tidak berubah?

Dalam keadaan seperti ini, memaknai rezeki dalam Islam berarti menjaga harapan tanpa mengabaikan kenyataan. Kesabaran bukan alasan untuk membiarkan persoalan berlarut-larut. Seseorang tetap perlu mencari penyebab kesulitan dan mempertimbangkan langkah yang dapat dilakukan.

Pelaku usaha, misalnya, dapat mengevaluasi harga jual, biaya operasional, kualitas produk, serta strategi pemasaran. Pencari kerja dapat meningkatkan keterampilan atau memperluas peluang. Sementara itu, keluarga yang menghadapi tekanan keuangan dapat menyusun kembali anggaran dan mencari bantuan yang tersedia.

Tentu, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan cepat. Kesulitan ekonomi juga dapat berkaitan dengan kondisi pasar, kesehatan, kesempatan kerja, atau keadaan sosial yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali seseorang.

Oleh sebab itu, kita perlu menghindari penilaian sederhana terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan. Mengatakan bahwa seseorang kekurangan rezeki karena kurang bersyukur, misalnya, merupakan kesimpulan yang tidak bisa dibenarkan hanya berdasarkan keadaan ekonominya.

Tawakal bukan sikap pasif. Seorang Muslim dapat bersandar kepada Allah sekaligus menjalankan ikhtiar yang masuk akal dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kesabaran tidak mematikan usaha, tetapi membantu manusia tetap teguh ketika hasil belum sesuai harapan.

Mengenal Allah Melalui Nikmat dan Keterbatasan

Hikmah Ibnu Athaillah mengajak manusia mengenali Allah melalui sifat-sifat-Nya. Di antaranya, Al-Wahhab, yang bermakna Maha Pemberi Karunia, dan Al-Qahhar, yang menunjukkan kemahakuasaan Allah.

Pemahaman ini perlu melahirkan sikap yang seimbang. Ketika menerima nikmat, manusia belajar bersyukur dan menghindari kesombongan. Ketika menghadapi keterbatasan, ia berusaha bersabar, memperbaiki langkah, dan menyadari bahwa tidak semua keinginan dapat terwujud sesuai rencana.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang beriman. Apabila mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Apabila ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, Sahih Muslim no. 2999).

Pesan tersebut menegaskan pentingnya kualitas batin dan perbuatan. Harta tetap memiliki peran penting karena dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan, menunaikan kewajiban keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Namun, nilainya juga berkaitan dengan cara memperolehnya dan bagaimana harta tersebut digunakan.

Karena itu, seseorang tidak perlu merasa lebih tinggi hanya karena memiliki banyak harta. Sebaliknya, orang yang sedang mengalami keterbatasan tidak semestinya kehilangan harapan atau menganggap dirinya tidak berharga.

Jangan Sibuk Mengejar Rezeki hingga Melupakan Pemberinya

Hikmah Al-Hikam tidak meminta manusia meninggalkan pekerjaan, bisnis, atau cita-cita. Mencari penghidupan yang halal tetap menjadi bagian dari tanggung jawab hidup.

Persoalan muncul ketika pengejaran materi mengorbankan kejujuran, ibadah, hubungan keluarga, dan kepedulian sosial. Ada pula orang yang terus membandingkan pendapatannya dengan orang lain, seolah-olah keberhasilan hanya ditentukan oleh jumlah harta yang terkumpul.

Padahal, setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, dan perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan hasil tanpa memahami prosesnya justru dapat menambah kegelisahan.

Hikmah tentang pemberian dan penahanan mengajak manusia memperbaiki cara memandang kehidupan. Ketika rezeki lapang, bersyukurlah tanpa merasa paling berjasa. Ketika keadaan menyempit, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan atau menghukum diri kita.

Teruslah berikhtiar, menjaga akhlak, dan memohon pertolongan-Nya. Jika menghadapi persoalan ekonomi, lakukan evaluasi dan carilah bantuan yang sesuai ketika diperlukan.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual bukan diukur hanya dari seberapa banyak harta yang terkumpul, melainkan juga dari bagaimana seseorang menjaga iman, kejujuran, dan tanggung jawab ketika menerima maupun kehilangan sesuatu yang dicintainya.

Rezeki bukan hanya soal apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga bagaimana manusia menyikapinya. Kelapangan menuntut rasa syukur, keterbatasan membutuhkan kesabaran, dan keduanya tetap menuntut ikhtiar yang tidak berhenti. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less