Banyak Bicara tentang Allah, Apakah Sudah Mengenal-Nya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi orang arif dan makna mengenal Allah menurut Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, HIKMAH — Banyak orang mampu berbicara panjang tentang Allah, tetapi mengenal Allah tidak selesai hanya dengan banyaknya kata. Orang arif, dalam pembacaan Ibnu Athaillah, bukan sekadar orang yang pandai menunjuk kepada Allah melalui ucapan, melainkan hamba yang kesadarannya semakin lepas dari keakuan dan tertuju kepada-Nya. Di situlah ma’rifatullah tidak lagi menjadi istilah yang hanya terdengar indah, tetapi menjadi perjalanan batin.
Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun, jawabannya bisa membuat seseorang berhenti sejenak.
Sebab, manusia terkadang begitu sibuk menilai kedalaman iman orang lain sampai lupa memeriksa apa yang sebenarnya sedang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Orang Arif Tidak Diukur dari Banyaknya Kata
Dalam salah satu hikmah Al-Hikam, Ibnu Athaillah menggambarkan keadaan seorang arif yang tidak lagi bergantung pada isyarat untuk menemukan Allah. Perhatiannya tidak berhenti pada tanda, bentuk, atau sesuatu yang menjadi perantara pandangan. Ia justru digambarkan berada dalam keadaan batin yang kuat dalam penyaksian kepada Allah.
مَا الْعَارِفُ مَنْ إِذَا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ، وَلَكِنِ الْعَارِفُ مَنْ لَا إِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِي وُجُودِهِ وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُودِهِ
Pesan tersebut tentu bukan larangan untuk berbicara tentang agama.
Seorang Muslim tetap perlu belajar, mengajar, berdakwah, mengingatkan sesama, dan menyampaikan kebaikan. Bahkan, ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan penting dalam Islam.
Yang disentuh Ibnu Athaillah adalah sesuatu yang jauh lebih halus: ego yang bisa menyusup ke balik amal baik.
Seseorang dapat berbicara tentang rendah hati sambil berharap dianggap rendah hati. Ia dapat menjelaskan ikhlas sambil menunggu pengakuan. Bahkan, seseorang bisa mengatakan bahwa pujian manusia tidak penting, tetapi hatinya gelisah ketika tidak ada yang memperhatikan kebaikannya.
Di titik itu, masalahnya bukan lagi pada apa yang diucapkan.
Masalahnya adalah siapa yang sebenarnya ingin dilihat melalui ucapan tersebut.
Ma’rifatullah Bukan Perlombaan Kesalehan
Dalam tradisi tasawuf, ma’rifatullah berkaitan dengan pengenalan seorang hamba kepada Allah. Namun, istilah tersebut tidak seharusnya berubah menjadi semacam perlombaan spiritual: siapa paling tinggi, paling khusyuk, paling zuhud, atau paling dekat dengan Allah.
Sebab, orang yang sibuk membuktikan bahwa dirinya paling dekat dengan Allah justru perlu kembali memeriksa dirinya sendiri.
Al-Qur’an memberikan fondasi yang jelas tentang orientasi ibadah. Dalam QS Al-Bayyinah ayat 5, Allah memerintahkan manusia untuk menyembah-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, sekaligus menegakkan salat dan menunaikan zakat.
Pesannya sederhana: amal tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan, tetapi juga kepada siapa amal itu ditujukan.
Karena itu, mengenal Allah semestinya tidak membuat seseorang semakin haus pengakuan. Sebaliknya, kesadaran sebagai hamba seharusnya membuat manusia semakin berhati-hati terhadap kesombongan yang muncul dari amalnya sendiri.
Di sinilah hikmah tentang orang arif menjadi relevan.
Ketika Kesalehan Ikut Masuk ke Panggung
Hari ini hampir semua hal dapat menjadi tontonan.
Makanan difoto. Perjalanan direkam. Pekerjaan dibagikan. Kegiatan sosial dipublikasikan. Bahkan aktivitas keagamaan pun mudah masuk ke layar ponsel.
Tentu, tidak semuanya buruk.
Membagikan ilmu, mengajak kepada kebaikan, dan mendokumentasikan kegiatan keagamaan dapat menjadi sarana dakwah. Persoalannya muncul ketika sebuah kebaikan terasa belum lengkap sebelum diketahui manusia.
Di sinilah pesan Al-Hikam terasa dekat dengan kehidupan modern.
Orang arif tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya arif. Ia tidak menjadikan kedekatannya kepada Allah sebagai identitas yang harus terus dipertontonkan.
Justru, perhatian utamanya adalah bagaimana hati tetap lurus ketika tidak ada manusia yang memberikan tepuk tangan.
Maka, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan kepada diri sendiri:
Bagaimana keadaan hati ketika tidak seorang pun mengetahui amal kita?
Jika tetap tenang, mungkin di sana ada latihan ikhlas.
Sebaliknya, jika muncul kegelisahan karena tidak mendapatkan pengakuan, mungkin ada bagian dari diri yang masih ingin dilihat.
Pertanyaan itu bukan vonis.
Ia adalah bahan muhasabah.
“Lemahnya Ego” Bukan Berarti Manusia Menjadi Allah
Hikmah Ibnu Athaillah juga perlu dibaca secara hati-hati, terutama oleh pembaca yang baru mengenal bahasa tasawuf.
Dalam teks tersebut terdapat ungkapan tentang fana dan kuatnya penyaksian kepada Allah. Ungkapan semacam “lenyap dalam wujud Allah” tidak semestinya diterjemahkan secara serampangan sebagai manusia menyatu dengan Zat Allah.
Pembacaan yang lebih hati-hati melihatnya sebagai bahasa spiritual tentang berkurangnya dominasi keakuan seorang hamba dan kuatnya perhatian hati kepada Allah.
Ini penting karena bahasa tasawuf memiliki istilah dan konteks yang tidak selalu dapat dipahami secara harfiah.
Dengan kata lain, pesan praktisnya bukan bahwa manusia kehilangan statusnya sebagai hamba.
Justru sebaliknya.
Semakin dalam pengenalan seorang hamba kepada Allah, semakin kuat kesadarannya bahwa dirinya tetap seorang hamba yang memiliki keterbatasan.
Tanda yang Perlu Diperiksa Bukan Orang Lain
Di sinilah hikmah tersebut sebaiknya berhenti sebagai bahan refleksi, bukan berubah menjadi alat untuk menghakimi.
Kita tidak perlu menunjuk seseorang lalu berkata, “Dia belum mengenal Allah.”
Tidak ada yang mengetahui kedalaman hati manusia secara sempurna.
Pertanyaan itu jauh lebih berguna jika diarahkan kepada diri sendiri.
Mengapa saya beribadah?
Mengapa saya ingin dipuji?
Mengapa saya kecewa ketika amal saya tidak diketahui?
Mengapa saya merasa lebih baik setelah melihat kesalahan orang lain?
Dan yang paling sulit: apakah saya sedang mencari Allah, atau sedang mencari pengakuan manusia melalui jalan menuju Allah?
Pertanyaan terakhir mungkin terasa paling menusuk.
Namun, justru di situlah muhasabah memiliki makna.
Ibnu Athaillah tidak sedang memberikan sertifikat kepada siapa pun untuk menyatakan dirinya sebagai orang arif. Hikmah tersebut justru mengajak manusia melihat lebih dalam: jangan sampai perhatian kepada Allah berubah menjadi alasan baru untuk membesarkan diri.
Pada akhirnya, orang arif bukanlah orang yang paling sering mengumumkan kedekatannya kepada Allah. Ia adalah hamba yang terus berusaha mengurangi keakuan, memurnikan niat, dan mengembalikan pusat perhatiannya kepada Allah.
Sebab, semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia memahami kecilnya dirinya.
Bisa jadi masalah kita bukan kurang banyak menyebut Allah. Bisa jadi kita terlalu sering menyebut nama-Nya sambil diam-diam berharap manusia menyebut nama kita. Jika itu terjadi, yang perlu dicari bukan tepuk tangan manusia, melainkan hati yang kembali ikhlas di hadapan Allah. (Red)
- Penulis: redaktur






