Hasad dalam Islam: Mengapa Kita Sulit Rela Melihat Nikmat Orang Lain?
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang yang merasa gelisah melihat keberhasilan orang lain, menggambarkan hasad dan kedengkian terhadap nikmat sesama.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada kabar baik yang seharusnya membuat kita ikut bahagia, tetapi justru meninggalkan kegelisahan. Seorang teman berhasil mengembangkan usahanya. Saudara membeli rumah. Rekan kerja mendapat promosi. Kita mengucapkan selamat, memasang senyum, lalu diam-diam bertanya, “Mengapa dia bisa, sedangkan saya belum?”
Perasaan seperti itu bisa muncul pada siapa saja. Namun, ada perbedaan besar antara menginginkan kehidupan yang lebih baik dan tidak rela melihat orang lain memperoleh kebaikan.
Hasad dalam Islam bukan sekadar keinginan memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Hasad berkaitan dengan kedengkian terhadap nikmat sesama, terutama ketika seseorang berharap nikmat itu hilang dari pemiliknya.
Persoalannya bukan semata-mata orang lain lebih berhasil. Persoalannya adalah ketika keberhasilan tersebut terasa seperti ancaman bagi harga diri kita sendiri.
Hasad Bukan Sekadar Ingin Menjadi Seperti Orang Lain
Bayangkan dua pedagang yang melihat usaha rekannya berkembang pesat.
Pedagang pertama mempelajari strategi pemasaran, memperbaiki pelayanan, dan mengevaluasi produknya. Ia ingin meraih keberhasilan serupa, tetapi tidak berharap usaha rekannya mengalami kemunduran.
Pedagang kedua justru mencari-cari kesalahan, menyebarkan kabar buruk, atau berharap usaha rekannya bangkrut agar persaingan terasa lebih seimbang.
Keduanya sama-sama melihat keberhasilan orang lain. Namun, arah hati dan tindakan mereka berbeda.
Keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang dikenal sebagai ghibthah. Adapun hasad mengandung kedengkian terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
Pembedaan ini penting. Islam tidak melarang manusia bercita-cita, bekerja keras, atau memperbaiki taraf hidup. Yang perlu diwaspadai adalah ketika ambisi berubah menjadi kebencian dan kebahagiaan orang lain justru menjadi sesuatu yang ingin dihancurkan.
Rasulullah saw. memperingatkan umatnya agar tidak saling mendengki, membenci, dan memutus hubungan. Peringatan tersebut tercantum dalam hadis riwayat Muslim nomor 2563a.
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَنَافَسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Mengapa Keberhasilan Orang Lain Terasa Menyakitkan?
Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengukur harga diri melalui pencapaian orang lain.
Kita merasa berhasil jika lebih kaya daripada teman, lebih dihormati daripada tetangga, atau lebih maju daripada saudara sendiri. Tanpa disadari, kehidupan berubah menjadi perlombaan yang garis finisnya terus berpindah.
Ketika orang lain memperoleh sesuatu yang belum kita miliki, kita merasa tertinggal. Bahkan, pencapaian yang sebenarnya tidak merugikan kita dapat terasa seperti kekalahan pribadi.
Di sinilah hasad menemukan ruang untuk tumbuh. Kita bukan hanya menginginkan sesuatu, melainkan mulai sulit menerima kenyataan bahwa orang lain telah lebih dahulu mendapatkannya.
Al-Qur’an memberikan pedoman dalam Surah An-Nisa ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
Ayat tersebut juga mengarahkan manusia untuk memohon karunia Allah. Pesannya bukan agar kita berhenti berusaha, melainkan agar tidak menjadikan nikmat orang lain sebagai alasan untuk memelihara kedengkian.
Kita boleh memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Namun, keberhasilan orang lain tidak perlu dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan apakah hidup kita bernilai.
Islam Tidak Melarang Kita Menginginkan Kebaikan
Jika hasad perlu dihindari, apakah kita tidak boleh menginginkan kekayaan, ilmu, atau keberhasilan seperti yang dimiliki orang lain?
Tentu tidak demikian.
Dalam hadis riwayat al-Bukhari nomor 73:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Rasulullah saw. menjelaskan dua keadaan yang patut menjadi perhatian: seseorang yang diberi harta lalu menggunakannya untuk kebaikan, dan seseorang yang diberi hikmah lalu mengamalkan serta mengajarkannya.
Hadis ini dikenal dalam pembahasan tentang ghibthah: keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa berharap nikmat orang lain dicabut.
Artinya, kita boleh terinspirasi oleh pengusaha yang jujur, orang berilmu yang bermanfaat, atau seseorang yang menggunakan hartanya untuk menolong sesama. Kita dapat meneladani perbuatannya tanpa harus merasa terganggu oleh keberhasilannya.
Perbedaan sederhananya terletak pada satu pertanyaan: ketika orang lain memperoleh kebaikan, apakah kita terdorong untuk ikut berbuat baik atau justru berharap ia kehilangan apa yang dimilikinya?
Jawaban jujur atas pertanyaan itu dapat menjadi awal untuk memeriksa keadaan hati.
Cara Menyikapi Hasad dalam Kehidupan Sehari-hari
Membersihkan hati bukan berarti berpura-pura tidak pernah iri. Langkah awalnya adalah mengenali perasaan tersebut tanpa membiarkannya mengendalikan tindakan.
Pertama, akui perasaan tanpa membenarkannya. Jika muncul rasa tidak senang ketika orang lain berhasil, jangan buru-buru mencari pembenaran untuk merendahkannya. Akui bahwa ada sesuatu dalam diri yang perlu diperbaiki.
Kedua, ubah rasa iri menjadi bahan evaluasi. Jika keberhasilan orang lain mengingatkan kita pada cita-cita yang belum tercapai, tentukan langkah yang dapat dilakukan. Pelajari prosesnya, perbaiki kemampuan, dan susun target yang realistis.
Ketiga, jaga ucapan dan tindakan. Jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, meremehkan pencapaian, atau sengaja merusak reputasi seseorang hanya karena tidak menyukai keberhasilannya.
Keempat, latih rasa syukur tanpa mematikan ikhtiar. Menghargai nikmat yang sudah dimiliki tidak berarti harus berhenti berkembang. Kita dapat bersyukur sekaligus bekerja lebih baik.
Kelima, doakan kebaikan bagi orang lain. Mendoakan seseorang tidak selalu langsung menghapus rasa iri. Namun, tindakan tersebut dapat menjadi latihan untuk tidak terus-menerus mengikuti dorongan negatif dalam hati.
Jika persoalannya berkaitan dengan kebiasaan mengukur kehidupan melalui pencapaian orang lain, baca juga artikel AlbadarPost tentang membandingkan diri di media sosial. Pembahasan tersebut melengkapi artikel ini, yang berfokus pada kedengkian dan cara menyikapinya.
Jangan Biarkan Nikmat Orang Lain Merampas Ketenangan Kita
Surah Al-Falaq ayat 5 mengajarkan kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan pendengki ketika ia menjalankan kedengkiannya.
Peringatan ini mengingatkan bahwa kedengkian bukan perasaan yang patut dipelihara hingga berubah menjadi tindakan yang merugikan. Hasad dapat merusak hubungan, mengaburkan penilaian, dan membuat seseorang sibuk memikirkan kehidupan orang lain.
Kita tidak selalu dapat menentukan siapa yang lebih dahulu berhasil atau kapan keinginan kita terwujud. Namun, kita dapat memilih cara menyikapi keberhasilan orang lain.
Tidak perlu merendahkan seseorang agar diri sendiri terasa lebih tinggi. Tidak perlu berharap orang lain jatuh agar kita merasa menang. Dan tidak perlu menganggap setiap keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa hidup kita gagal.
Sebab, orang yang sibuk berharap nikmat orang lain hilang bisa lupa membangun kehidupannya sendiri. Orang yang ia dengki mungkin terus melangkah maju, sementara dirinya justru tertahan oleh kedengkian yang dipelihara sendiri.(Red)
- Penulis: redaktur
