Tradisi Merlawu Ciamis, Warga Perantauan Pulang Kampung
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Warga Desa Wanasigra, mendatangi Joglo Pendopo Bupati Ciamis dengan membawa aneka makanan khas dan hasil bumi (Foto: Galuh News).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Tradisi Merlawu Ciamis 2026 kembali mempertemukan warga Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, di kawasan Situs Kabuyutan Gandoang, Jumat (28/8/2026).
Sejak pagi, warga berdatangan menuju kawasan situs yang berada di ujung persawahan. Mereka membawa rantang, termos, hingga kantong berisi makanan dari rumah. Bekal tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi botram setelah rangkaian doa dan kegiatan di kawasan makam selesai.
Berdasarkan laporan detikJabar, warga yang mengikuti Merlawu datang dari berbagai kalangan. Anak-anak, ibu-ibu, hingga orang tua berkumpul dalam satu rangkaian tradisi yang berlangsung setiap bulan Rabiul Awal atau Maulid Nabi.
Yang menarik, Merlawu bukan hanya menghadirkan warga yang tinggal di Wanasigra. Sejumlah warga yang merantau di luar daerah juga menyempatkan diri pulang kampung untuk mengikuti tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Wanasigra, momentum itu menjadi ruang untuk bersyukur, bersilaturahmi, mendoakan leluhur, sekaligus menjaga kebersamaan.
Merlawu Membuat Warga Perantauan Pulang
Ada alasan khusus mengapa Tradisi Merlawu Ciamis tetap memiliki daya tarik bagi warga yang tinggal jauh dari kampung halaman.
Kepala Desa Wanasigra Yudi Wahyudi mengatakan warga yang merantau kerap menyempatkan diri pulang ketika Merlawu digelar. Menurut dia, kepulangan tersebut bahkan terasa seperti tradisi mudik tersendiri.
“Yang unik, warga yang merantau di luar kota juga ikut pulang untuk merayakan kegiatan ini,” kata Yudi, seperti dikutip detikJabar.
Dengan demikian, Merlawu Wanasigra tidak hanya menjadi agenda budaya. Tradisi tersebut juga menjadi kesempatan bagi warga untuk kembali bertemu keluarga, kerabat, dan tetangga.
Bagi perantau, momen seperti ini memberi kesempatan untuk kembali merasakan suasana kampung halaman. Sementara bagi warga yang menetap di Wanasigra, kepulangan para perantau membuat pertemuan tahunan itu semakin bermakna.
Namun, daya tarik Merlawu tidak semata-mata terletak pada keramaiannya. Rangkaian prosesi yang menyertainya juga menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat.
Sebelum Acara Utama, Ada Ngarangki hingga Nyembah
Rangkaian Tradisi Merlawu 2026 berlangsung melalui beberapa tahapan. Masyarakat terlebih dahulu menjalankan sejumlah prosesi yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satunya Ngarangki, yaitu kegiatan gotong royong mengganti pagar makam Syekh Padamatan di kawasan Situs Kabuyutan Gandoang.
Kemudian ada Nyiraman Benda Pusaka yang berlangsung di Bumi Pakuncen. Masyarakat juga menjalankan prosesi Nyembah, yakni mendatangi pupuhu atau pimpinan Ciamis sekaligus menyampaikan undangan untuk menghadiri Tradisi Merlawu.
Sehari sebelum acara utama, warga menggelar pawai keliling desa. Pawai tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sekaligus penanda bahwa Merlawu akan berlangsung keesokan harinya.
Pada Jumat pagi, acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari pemerintah daerah serta pemerintah desa.
Setelah itu, warga bergerak menuju kawasan makam Syekh Padamatan untuk mengikuti tawasul dan doa bersama.
Ada pula aturan yang tetap dijaga ketika masyarakat memasuki kawasan makam. Warga diminta melepas alas kaki sebelum melewati gapura yang menjadi batas area makam.
Menurut keterangan dalam laporan detikJabar, aturan tersebut menjadi bentuk penghormatan warga terhadap tempat yang mereka anggap sakral.
Setelah Doa, Warga Berbagi Makanan
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan suasana yang lebih cair.
Setelah tawasul dan doa bersama selesai, warga keluar dari area makam. Bekal yang sejak pagi dibawa dari rumah mulai dikeluarkan.
Rantang dan makanan yang dibawa warga kemudian menjadi bagian dari kegiatan botram Tradisi Merlawu.
Masyarakat makan bersama sambil berbagi dan bertukar makanan. Bagi Kepala Desa Wanasigra Yudi Wahyudi, kegiatan tersebut memiliki makna kebersamaan dan kegotongroyongan.
“Setelah melaksanakan tawasul dan doa bersama, masyarakat berbagi makanan. Masing-masing membawa makanan dari rumah, kemudian di sini saling berbagi dan bertukar makanan,” ujarnya.
Tradisi makan bersama itu menjadi salah satu bagian yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Tidak ada sekat antara makanan yang dibawa satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Semangat berbagi tersebut kemudian memperkuat suasana silaturahmi yang menjadi bagian dari tradisi budaya Ciamis.
Syekh Padamatan dan Pesan untuk Generasi Berikutnya
Kepala Disbudpora Ciamis Dian Budiyana turut mengapresiasi partisipasi masyarakat dalam mempertahankan Tradisi Merlawu.
Menurut Dian, antusiasme masyarakat terlihat dari tahun ke tahun. Bahkan, warga dari luar daerah juga datang untuk berziarah ke makam sesepuh atau karuhun di Gandoang.
Dian menyebut Merlawu memiliki sejumlah makna, termasuk sebagai bagian dari syukuran pada bulan Maulid serta upaya menjaga peninggalan leluhur melalui pembersihan benda pusaka dan ziarah.
Dalam keterangannya, Dian menyebut Syekh Padamatan sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran dalam membuka dan mengembangkan kawasan yang kemudian menjadi tempat tinggal masyarakat.
Karena itu, ia berharap masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisinya, tetapi juga meneruskan semangat perjuangan para pendahulu.
“Semangat membangun harus terus kita pupuk agar kita juga bisa mewariskan hal-hal baik kepada generasi yang akan datang,” kata Dian.
Pernyataan tersebut menempatkan Merlawu bukan semata sebagai kegiatan mengenang masa lalu. Tradisi itu juga menjadi ruang untuk mengambil nilai yang dianggap masih relevan bagi kehidupan masyarakat sekarang.
Merlawu Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
Tradisi Merlawu Ciamis memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat.
Di satu tempat, warga menjalankan doa dan ziarah. Setelah itu, mereka kembali berkumpul untuk berbagi makanan. Pada saat yang sama, para perantau mendapat alasan untuk kembali ke kampung halaman.
Karena itu, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan rangkaian acaranya. Generasi berikutnya juga perlu memahami nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk silaturahmi, gotong royong, berbagi, dan kepedulian terhadap warisan budaya.
Merlawu akhirnya memiliki dua wajah sekaligus. Ia menjadi pengingat terhadap leluhur, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan warga yang masih tinggal di kampung maupun mereka yang sudah lama merantau.
Sebab, tradisi yang benar-benar hidup bukan hanya yang terus digelar setiap tahun. Tradisi yang hidup adalah tradisi yang masih mampu membuat orang pulang, membuat warga berkumpul, dan membuat generasi berikutnya merasa punya alasan untuk menjaganya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar