Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Menunda Amal, Dosa yang Sering Menyamar Jadi Kesibukan

Menunda Amal, Dosa yang Sering Menyamar Jadi Kesibukan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 123
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Menunda amal telah menjadi kebiasaan yang diam-diam dianggap wajar. Banyak orang berkata akan mulai mengaji setelah pekerjaan selesai. Ada yang berjanji memperbanyak sedekah ketika penghasilannya meningkat. Sebagian lagi ingin memperbaiki salat jika hidup sudah lebih tenang. Menunda amal, menangguhkan ibadah, atau menunggu waktu yang dianggap ideal terdengar masuk akal. Namun, menurut Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, cara berpikir seperti itu justru merupakan tanda kebodohan yang menguasai jiwa.

Ironisnya, manusia modern hampir selalu memiliki waktu untuk hal-hal yang disukai.

Notifikasi diskon belanja berbunyi pukul sebelas malam, mata langsung terbuka. Video pendek berganti tanpa terasa hingga satu jam berlalu. Akan tetapi, ketika azan Subuh berkumandang, tombol snooze ditekan berkali-kali sambil berkata, “Lima menit lagi.”

Aneh memang.

Kita pandai menyusun target lima tahun ke depan, tetapi membaca satu halaman Al-Qur’an hari ini saja masih ditunda.

Kita sibuk mengejar dunia yang belum tentu menjadi milik kita, sementara bekal menuju akhirat terus dimasukkan ke daftar “nanti”.

Padahal, “nanti” adalah kata yang paling disukai hawa nafsu.

Ibnu Athaillah: Menunggu Waktu Luang Adalah Tipu Daya Jiwa

Dalam Hikmah ke-26 kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah berkata:

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

Artinya:

“Menunda amal karena menunggu waktu luang merupakan tanda kebodohan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu.”

Kalimat ini terasa sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, hampir semua orang pernah mengalaminya.

Kita tidak menolak berbuat baik.

Kita hanya ingin melakukannya “nanti”.

Masalahnya, “nanti” sering berubah menjadi “tidak pernah”.

Kesibukan Sering Hanya Berganti Nama

Ada orang yang berkata akan rajin salat berjamaah setelah bisnisnya stabil.

Setelah bisnis stabil, ia berkata akan fokus beribadah setelah anak-anak dewasa.

Ketika anak-anak dewasa, ia merasa harus mengejar investasi.

Sesudah investasi berkembang, kesehatan mulai menurun.

Lalu muncul penyesalan.

Hidup ternyata habis bukan karena kekurangan waktu, melainkan karena terlalu banyak menunggu waktu yang sempurna.

Inilah satir kehidupan.

Kesibukan sebenarnya tidak pernah selesai. Ia hanya berganti bentuk.

Karena itu, orang yang menggantungkan amal pada waktu luang sesungguhnya sedang mengejar sesuatu yang hampir tidak pernah ada.

Allah Sudah Mengingatkan Bahaya Mengutamakan Dunia

Allah SWT berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

(QS. Al-A’la: 16–17)

Ayat ini bukan melarang bekerja ataupun mencari nafkah. Islam justru memerintahkan umatnya untuk berikhtiar.

Namun, persoalannya muncul ketika dunia selalu mendapat tempat pertama, sedangkan amal saleh terus dipindahkan ke urutan terakhir.

Akibatnya, umur bertambah, tetapi bekal akhirat tidak ikut bertambah.

Tidak Ada yang Memiliki Jaminan Hari Esok

Alasan kedua mengapa menunda amal termasuk kebodohan ialah karena tidak ada seorang pun yang mengetahui umur dirinya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan mati.”

(QS. Luqman: 34)

Karena itu, setiap kali seseorang berkata, “Besok saja,” sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang bukan miliknya.

Hari ini berada dalam genggaman.

Besok masih menjadi rahasia Allah.

Semangat Bisa Padam Sewaktu-waktu

Hari ini hati terasa lembut.

Besok belum tentu.

Hari ini muncul keinginan untuk bertaubat.

Minggu depan bisa saja hati kembali keras.

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa azam, niat, dan hasrat dapat berubah.

Oleh sebab itu, amal tidak boleh bergantung pada suasana hati.

Justru amal yang dilakukan secara istiqamah akan membantu menjaga hati tetap hidup.

Allah SWT berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan.”

(QS. Al-Baqarah: 148)

Allah juga berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu.”

(QS. Ali Imran: 133)

Perhatikan, Allah memerintahkan untuk bersegera, bukan menunggu.

Rasulullah SAW Mengajarkan Segera Bertindak

Rasulullah SAW bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”

(HR. Al-Hakim)

Dalam hadis lain beliau bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ

“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh.”

(HR. Muslim)

Nasihat Rasulullah SAW sangat jelas. Yang perlu dipercepat bukan hanya urusan dunia, melainkan juga amal menuju akhirat.

Jangan Biarkan Kata “Nanti” Mengalahkan “Sekarang”

Seorang pujangga Arab berkata:

لَا تُؤَخِّرْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ

“Janganlah menunda sampai besok apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.”

Ia juga mengingatkan:

الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تَصْرِفْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ

“Waktu sangat berharga, maka jangan habiskan kecuali untuk sesuatu yang bernilai.”

Hari ini mungkin hanya satu hari biasa.

Namun, bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan untuk memperbanyak amal.

Tidak ada manusia yang mengetahui kapan pintu kesempatan ditutup.

Yang pasti, setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Kuburan tidak dipenuhi orang-orang yang kehabisan waktu. Kuburan dipenuhi orang-orang yang mengira mereka masih punya waktu. Maka, jangan biarkan kata “nanti” menjadi warisan terakhir dari hidup kita. Mulailah amal hari ini, karena belum tentu Allah masih memberi kita esok. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • manajemen sekolah

    Strategi Manajemen Sekolah Efektif di Tengah Anggaran Terbatas

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 261
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Sekolah dengan keterbatasan anggaran tetap dapat menjaga mutu pendidikan jika menerapkan manajemen sekolah yang efektif dan terukur. Di tengah tekanan biaya operasional, tuntutan kualitas pembelajaran, serta ekspektasi publik, pengelolaan sekolah tidak lagi bisa bertumpu pada dana semata, melainkan pada ketepatan strategi dan disiplin tata kelola. Fakta ini terlihat dari praktik sejumlah sekolah […]

  • Kasus Pengusaha Nasi Kuning

    Rentannya Pekerja Perempuan di Lingkungan Kerja

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Kasus pengusaha nasi kuning ungkap kekerasan seksual di tempat kerja dan rentannya pekerja perempuan. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus kekerasan seksual kembali mengguncang ruang publik. Kali ini, sorotan tertuju pada kasus pengusaha nasi kuning yang melibatkan relasi majikan dan karyawan. Seorang pekerja perempuan dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan kerjanya sendiri, tempat yang seharusnya memberikan […]

  • ancaman anak presiden uganda

    Dunia Heboh! Ancaman Anak Presiden Uganda ke Erdogan Tuai Sorotan

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Isu ancaman anak presiden Uganda mendadak ramai dibicarakan. Nama Muhoozi Kainerugaba muncul di berbagai pemberitaan setelah pernyataannya yang mengejutkan ditujukan kepada Recep Tayyip Erdoğan. Ucapan tersebut langsung memancing perhatian karena dinilai tidak biasa untuk konteks hubungan antarnegara. Tidak butuh waktu lama, respons publik pun bermunculan. Banyak yang terkejut, sebagian lagi menganggapnya […]

  • Chef Profesional Wajib Hadir di Dapur MBG, BGN Perketat Standar Layanan

    Chef Profesional Wajib Hadir di Dapur MBG, BGN Perketat Standar Layanan

    • calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 334
    • 0Komentar

    BGN wajibkan chef profesional MBG di setiap dapur SPPG. Aturan baru ini jamin keamanan pangan dan tingkatkan kualitas program makan bergizi gratis. albadarpost.com, LENSA. adan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas memperkuat mutu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mewajibkan kehadiran chef profesional MBG di setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kebijakan baru ini […]

  • “Aktivitas bongkar muat kontainer ekspor Indonesia menuju negara-negara Asia Tenggara di pelabuhan”

    Eksportir RI Mulai Beralih ke ASEAN, Biaya Lebih Murah dan Pasar Dekat

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar Asia Tenggara justru mulai dilirik banyak pelaku usaha Indonesia sebagai tujuan ekspor paling realistis tahun ini. Selain jaraknya lebih dekat, biaya logistik ke negara-negara ASEAN juga dinilai jauh lebih efisien dibanding pengiriman ke kawasan Eropa atau Amerika Serikat. Laporan terbaru Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional […]

  • Thomas Tuchel

    Tuchel Tetap Yakin Meski Inggris Gagal ke Final

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Dilansir dari AFP, pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel tetap mempertahankan keputusan taktiknya setelah Inggris kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026, Rabu waktu setempat. Kekalahan tersebut sekaligus mengakhiri langkah Three Lions menuju final dan memperpanjang penantian mereka untuk kembali tampil di partai puncak sejak menjadi juara dunia pada 1966. […]

expand_less