Menunda Amal, Dosa yang Sering Menyamar Jadi Kesibukan
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 44
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang duduk memandang jam sambil menunda ibadah sebagai gambaran Hikmah Ibnu Athaillah tentang menunda amal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Menunda amal telah menjadi kebiasaan yang diam-diam dianggap wajar. Banyak orang berkata akan mulai mengaji setelah pekerjaan selesai. Ada yang berjanji memperbanyak sedekah ketika penghasilannya meningkat. Sebagian lagi ingin memperbaiki salat jika hidup sudah lebih tenang. Menunda amal, menangguhkan ibadah, atau menunggu waktu yang dianggap ideal terdengar masuk akal. Namun, menurut Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, cara berpikir seperti itu justru merupakan tanda kebodohan yang menguasai jiwa.
Ironisnya, manusia modern hampir selalu memiliki waktu untuk hal-hal yang disukai.
Notifikasi diskon belanja berbunyi pukul sebelas malam, mata langsung terbuka. Video pendek berganti tanpa terasa hingga satu jam berlalu. Akan tetapi, ketika azan Subuh berkumandang, tombol snooze ditekan berkali-kali sambil berkata, “Lima menit lagi.”
Aneh memang.
Kita pandai menyusun target lima tahun ke depan, tetapi membaca satu halaman Al-Qur’an hari ini saja masih ditunda.
Kita sibuk mengejar dunia yang belum tentu menjadi milik kita, sementara bekal menuju akhirat terus dimasukkan ke daftar “nanti”.
Padahal, “nanti” adalah kata yang paling disukai hawa nafsu.
Ibnu Athaillah: Menunggu Waktu Luang Adalah Tipu Daya Jiwa
Dalam Hikmah ke-26 kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah berkata:
إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ
Artinya:
“Menunda amal karena menunggu waktu luang merupakan tanda kebodohan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu.”
Kalimat ini terasa sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, hampir semua orang pernah mengalaminya.
Kita tidak menolak berbuat baik.
Kita hanya ingin melakukannya “nanti”.
Masalahnya, “nanti” sering berubah menjadi “tidak pernah”.
Kesibukan Sering Hanya Berganti Nama
Ada orang yang berkata akan rajin salat berjamaah setelah bisnisnya stabil.
Setelah bisnis stabil, ia berkata akan fokus beribadah setelah anak-anak dewasa.
Ketika anak-anak dewasa, ia merasa harus mengejar investasi.
Sesudah investasi berkembang, kesehatan mulai menurun.
Lalu muncul penyesalan.
Hidup ternyata habis bukan karena kekurangan waktu, melainkan karena terlalu banyak menunggu waktu yang sempurna.
Inilah satir kehidupan.
Kesibukan sebenarnya tidak pernah selesai. Ia hanya berganti bentuk.
Karena itu, orang yang menggantungkan amal pada waktu luang sesungguhnya sedang mengejar sesuatu yang hampir tidak pernah ada.
Allah Sudah Mengingatkan Bahaya Mengutamakan Dunia
Allah SWT berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 16–17)
Ayat ini bukan melarang bekerja ataupun mencari nafkah. Islam justru memerintahkan umatnya untuk berikhtiar.
Namun, persoalannya muncul ketika dunia selalu mendapat tempat pertama, sedangkan amal saleh terus dipindahkan ke urutan terakhir.
Akibatnya, umur bertambah, tetapi bekal akhirat tidak ikut bertambah.
Tidak Ada yang Memiliki Jaminan Hari Esok
Alasan kedua mengapa menunda amal termasuk kebodohan ialah karena tidak ada seorang pun yang mengetahui umur dirinya.
Allah SWT berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
(QS. Luqman: 34)
Karena itu, setiap kali seseorang berkata, “Besok saja,” sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang bukan miliknya.
Hari ini berada dalam genggaman.
Besok masih menjadi rahasia Allah.
Semangat Bisa Padam Sewaktu-waktu
Hari ini hati terasa lembut.
Besok belum tentu.
Hari ini muncul keinginan untuk bertaubat.
Minggu depan bisa saja hati kembali keras.
Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa azam, niat, dan hasrat dapat berubah.
Oleh sebab itu, amal tidak boleh bergantung pada suasana hati.
Justru amal yang dilakukan secara istiqamah akan membantu menjaga hati tetap hidup.
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Allah juga berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu.”
(QS. Ali Imran: 133)
Perhatikan, Allah memerintahkan untuk bersegera, bukan menunggu.
Rasulullah SAW Mengajarkan Segera Bertindak
Rasulullah SAW bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh.”
(HR. Muslim)
Nasihat Rasulullah SAW sangat jelas. Yang perlu dipercepat bukan hanya urusan dunia, melainkan juga amal menuju akhirat.
Jangan Biarkan Kata “Nanti” Mengalahkan “Sekarang”
Seorang pujangga Arab berkata:
لَا تُؤَخِّرْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ
“Janganlah menunda sampai besok apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.”
Ia juga mengingatkan:
الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تَصْرِفْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ
“Waktu sangat berharga, maka jangan habiskan kecuali untuk sesuatu yang bernilai.”
Hari ini mungkin hanya satu hari biasa.
Namun, bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan untuk memperbanyak amal.
Tidak ada manusia yang mengetahui kapan pintu kesempatan ditutup.
Yang pasti, setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Kuburan tidak dipenuhi orang-orang yang kehabisan waktu. Kuburan dipenuhi orang-orang yang mengira mereka masih punya waktu. Maka, jangan biarkan kata “nanti” menjadi warisan terakhir dari hidup kita. Mulailah amal hari ini, karena belum tentu Allah masih memberi kita esok. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar