Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hijab Allah: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata

Hijab Allah: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 86
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Pernahkah kita merasa begitu gelisah ketika sinyal internet hilang, baterai ponsel hampir habis, atau saldo rekening tiba-tiba berkurang? Anehnya, kegelisahan yang sama sering kali tidak muncul ketika hati sudah berhari-hari terasa jauh dari Allah. Di situlah Hijab Allah bekerja dengan cara yang sangat halus. Menurut Syekh Ibnu Athaillah, tabir hati atau hijab menuju Allah tidak selalu hadir melalui kemaksiatan yang tampak. Justru, ia dapat muncul ketika manusia terlalu terpukau oleh dunia hingga lupa kepada Dzat yang menciptakannya.

Satirnya terasa dekat dengan kehidupan kita. Banyak orang sanggup menghabiskan berjam-jam memantau harga saham, tren media sosial, atau perkembangan investasi. Sebaliknya, hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bermuhasabah. Dunia memang tidak salah. Namun, ketika dunia berubah dari sekadar sarana menjadi tujuan utama, di situlah hijab mulai menebal tanpa disadari.

Syekh Ibnu Athaillah: Hijab Terbesar Bisa Berasal dari Sesuatu yang Tidak Mandiri

Dalam salah satu hikmahnya, Syekh Ibnu Athaillah berkata:

مِمَّا يَدُلُّكَ عَلى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ، أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ

“Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa ialah Dia dapat menghijabmu dari melihat-Nya dengan hijab yang pada hakikatnya tidak memiliki wujud di sisi Allah.”

Kalimat ini sering disalahpahami.

Sebagian orang mengira Syekh Ibnu Athaillah sedang mengatakan bahwa alam semesta tidak benar-benar ada. Padahal, para ulama yang mensyarahkan Al-Hikam menjelaskan makna yang berbeda.

Ibnu ‘Ajibah dalam Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam menerangkan bahwa alam memiliki keberadaan yang nyata sebagai makhluk. Namun, keberadaannya bukan berdiri sendiri. Alam bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dalam istilah ilmu kalam, Allah adalah Wājib al-Wujūd (Yang Wajib Ada), sedangkan alam termasuk Mumkin al-Wujūd, yakni makhluk yang keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Karena itu, ketika Syekh Ibnu Athaillah menyebut dunia seperti bayangan, beliau sedang mengingatkan bahwa manusia sering terpaku pada ciptaan, tetapi lupa kepada Penciptanya.

Satir Zaman Modern: Panik Kehilangan Sinyal, Tenang Kehilangan Zikir

Coba lihat kehidupan hari ini.

Ponsel tertinggal lima menit, kita segera kembali mencarinya.

Dompet hilang, jantung berdebar.

Data pekerjaan rusak, kepala terasa penuh.

Namun, shalat Subuh terlewat karena tidur? Sebagian orang menganggapnya sekadar “besok bisa diperbaiki.”

Inilah satir yang menampar hati.

Kita sangat takut kehilangan sesuatu yang sifatnya sementara, tetapi sering tidak merasa kehilangan ketika hubungan dengan Allah mulai merenggang.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah (Dzat) Allah.”

(QS. Al-Qashash 88)

Menurut para mufasir, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kehancuran alam pada hari kiamat. Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa semua yang bergantung kepada makhluk memiliki batas. Hanya Allah yang kekal dan menjadi sandaran seluruh makhluk.

Rasulullah ﷺ Menguatkan Pesan Itu

Pesan yang sama juga muncul dalam hadis sahih ketika Rasulullah ﷺ membenarkan syair Labid bin Rabi’ah:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”

Kemudian syair itu berbunyi:

وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ

“Setiap kenikmatan dunia pasti akan lenyap.”

(HR. al-Bukhari)

Kata bāṭil dalam konteks ini tidak berarti seluruh makhluk itu sia-sia atau tidak ada. Para ulama menjelaskan bahwa seluruh makhluk bersifat fana, bergantung kepada Allah, dan tidak layak menjadi sandaran hati melebihi Sang Khalik.

Hijab Tidak Menutup Mata, Tetapi Menutup Hati

Hijab yang paling berbahaya bukanlah ketika mata tidak melihat.

Hijab yang paling berat justru terjadi ketika hati tidak lagi mampu merasakan kehadiran Allah di balik setiap nikmat yang diterima.

Karena itu, para ulama tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia dapat menjadi jalan menuju Allah apabila berada di tangan, bukan menguasai hati.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Kembangkan usaha.

Raih prestasi terbaik.

Namun, jangan biarkan semua itu mengambil tempat yang hanya layak dimiliki oleh Allah di dalam hati.

Saat Bayangan Menghilang, Yang Tersisa Hanyalah Cahaya

Bayangan selalu berubah mengikuti arah cahaya.

Pagi ia memanjang.

Siang ia memendek.

Petang ia menghilang.

Begitu pula dunia.

Jabatan akan berganti.

Harta akan berpindah.

Popularitas akan memudar.

Tubuh yang kuat suatu hari akan melemah.

Semua bergerak menuju kefanaan.

Sebaliknya, Allah tetap kekal. Dia tidak bergantung kepada siapa pun, sementara seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

Inilah inti hikmah yang ingin ditanamkan Syekh Ibnu Athaillah. Jangan berhenti pada bayangan hingga lupa kepada Cahaya yang membuat bayangan itu ada.

Barangkali pada Hari Kiamat nanti Allah tidak akan bertanya berapa banyak pengikut media sosial yang kita miliki, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih, atau berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Yang akan menjadi ukuran adalah: apakah hati ini mengenal Allah ketika masih hidup, atau justru sepanjang umur hanya sibuk mengejar bayangan ciptaan-Nya. Jangan sampai kita pulang membawa dunia di tangan, tetapi kehilangan Allah di dalam hati. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • radikalisme digital

    Eks Kepala Densus 88 Peringatkan Radikalisme Digital yang Bidik Remaja

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Eks Kepala Densus 88 mengingatkan radikalisme digital makin menyasar remaja dan menuntut pengawasan keluarga Radikalisme Digital Kian Masif, Mantan Kepala Densus 88 Ingatkan Ancaman pada Remaja albadarpost.com, HUMANIORA – Peringatan keras kembali muncul dari aparat keamanan mengenai peningkatan radikalisme digital yang kini menyasar kelompok usia paling rentan: remaja awal. Mantan Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror […]

  • WFASN Pangandaran bekerja dari rumah saat kebijakan WFH setiap hari Rabu untuk efisiensi dan digitalisasi layanan publikH ASN Pangandaran

    WFH ASN Pangandaran Mulai Berlaku, Ini Dampak Besarnya ke Layanan Publik

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 184
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kebijakan WFH ASN di Pangandaran resmi diberlakukan. Pemerintah Kabupaten Pangandaran mulai menerapkan work from home ASN setiap hari Rabu sebagai bagian dari transformasi budaya kerja dan percepatan digitalisasi birokrasi. Kebijakan ini sekaligus menjadi strategi baru untuk mendorong efisiensi anggaran tanpa mengorbankan kualitas layanan publik. Langkah tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor […]

  • Beras Rendah Emisi

    Beras Rendah Emisi: Saat Sawah Tak Lagi Harus Selalu Tergenang

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 30
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Beras rendah emisi mulai menjadi perhatian dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia. Pendekatan ini berupaya menekan emisi dari budidaya padi sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air dan input pertanian. Salah satu metode yang diuji di Indonesia adalah pengaturan pengairan sawah dengan pola basah dan kering secara bergantian. Uji coba tersebut berlangsung antara […]

  • jangan putus asa dari rahmat Allah

    Dosa Bukan Akhir Segalanya, Jangan Kehilangan Harapan kepada Allah

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 63
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu kesalahan yang sering dilakukan manusia setelah berbuat dosa: bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi kemudian merasa dirinya sudah terlalu jauh untuk kembali. Karena itu, pesan jangan putus asa dari rahmat Allah menjadi penting. Dalam bahasa lain, seorang Muslim diminta tetap memiliki husnuzan atau prasangka baik kepada Allah, meski pada saat yang […]

  • Iduladha Garut 2026

    Pesan Iduladha Bupati Garut Bikin Jamaah Tersentuh, Singgung Haji dan Kurban

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana Lapangan Otto Iskandar Di Nata atau Alun-Alun Garut sejak pagi tampak lebih padat dibanding hari biasa, Rabu (27/5/2026). Takbir menggema dari pengeras suara. Beberapa jamaah datang membawa sajadah lipat dari rumah, sementara anak-anak terlihat berlarian kecil di sela barisan sebelum salat dimulai. Di tengah momentum Iduladha Garut 2026, Bupati Garut […]

  • PCINU ANZ

    Jelang Konfercab X, PCINU ANZ Gelar Tahlil dan Istighosah Kubro

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Di tengah berbagai dinamika organisasi, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia dan New Zealand (PCINU ANZ) memilih cara yang berbeda untuk menyambut Konferensi Cabang (Konfercab) ke-10. Alih-alih langsung berbicara soal kepengurusan atau agenda organisasi, PCINU ANZ terlebih dahulu mengajak warga Nahdliyin memperkuat ikatan spiritual melalui Tahlil dan Istighosah Kubro. Kegiatan bertajuk […]

expand_less