Al-Hikam: Rahasia Ujian yang Tidak Dipahami Banyak Orang
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang duduk sendirian di malam hari sambil memegang tasbih dan merenungkan makrifat Allah di tengah ujian hidup.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Selepas salat Isya di sebuah rumah samping masjid kampung, seorang wanita duduk sendirian di pojok serambi. Tasbih kayu masih tergenggam di tangan kanannya. Ia tidak menangis. Ia juga tidak sedang berdoa keras. Ia hanya memandang lantai keramik yang mulai kusam.
“Tadinya saya kira kalau rajin ibadah, hidup pasti jadi mudah,” katanya pelan.
Kalimat itu mungkin pernah terlintas di kepala banyak orang.
Kita hidup di zaman ketika makrifat Allah, kedekatan kepada Allah, dan bahkan kesalehan sering kali tanpa sadar diukur seperti laporan keuangan: berapa kali khatam, berapa rakaat tahajud, berapa nominal sedekah, dan berapa banyak amal yang berhasil dikumpulkan.
Lalu, ketika musibah datang, kita mulai bertanya:
“Mengapa saya yang diuji?”
Padahal, lebih dari tujuh abad lalu, Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari sudah memberikan sindiran yang sangat halus melalui Al-Hikam.
إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ، فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ؛ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ
“Apabila Allah membukakan bagimu satu jalan untuk mengenal-Nya, maka jangan hiraukan sedikitnya amalmu. Sebab Allah tidak membukakan jalan itu kecuali karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu.”
Kalimat ini terdengar sederhana. Namun, jika direnungkan, ia seperti membongkar cara berpikir kita selama ini.
Kita Sibuk Membawa Hadiah Kecil
Manusia senang menghitung.
Kita menghitung usia, rezeki, jabatan, tabungan, pahala, bahkan doa yang belum dikabulkan.
Sebaliknya, Allah tidak pernah meminta kita menghitung kedekatan-Nya.
Di sinilah letak satir kehidupan spiritual manusia modern.
Kita sibuk membawa “hadiah kecil” berupa amal, sementara Allah justru sedang menyiapkan hadiah yang jauh lebih besar: mengenalkan diri-Nya kepada seorang hamba.
Bukankah banyak orang yang justru mulai mengenal Allah ketika usahanya bangkrut?
Bukankah tidak sedikit orang yang baru menemukan kekhusyukan setelah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya?
Serta bukankah ada orang yang baru belajar berdoa dengan sungguh-sungguh ketika rumah sakit menjadi tempat yang paling sering ia kunjungi?
Jika demikian, apakah ujian selalu berarti murka?
Belum tentu.
Ketika Ujian Ternyata Adalah Undangan
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan Allah memilih siapa yang Dia kehendaki untuk mendekat kepada-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 13)
Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam: kedekatan dengan Allah bukan semata-mata hasil usaha manusia, melainkan karunia yang Allah pilihkan.
Ironisnya, manusia sering mengira bahwa kedekatan itu selalu hadir dalam bentuk kenyamanan.
Padahal sejarah para nabi menunjukkan hal yang berbeda.
Nabi Ayyub mengenal kesabaran melalui penyakit.
Nabi Yusuf mengenal pertolongan Allah melalui penjara.
Dan Nabi Yunus mengenal kelembutan Allah dari dalam perut ikan.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang sampai kepada maqam tinggi tanpa melewati jalan yang menyakitkan.
Karena itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini tidak sedang mengajarkan kita untuk mencari musibah.
Namun, hadis ini mengingatkan bahwa ujian tidak selalu identik dengan hukuman.
Kadang-kadang, ujian adalah surat undangan yang dikirim Allah kepada seorang hamba agar ia pulang lebih dekat kepada-Nya.
Kita Mengira Allah Menjauh
Ada satu kebiasaan manusia yang sulit diubah.
Ketika doa belum terkabul, kita menganggap Allah sedang menjauh.
Ketika rezeki seret, kita merasa Allah tidak peduli.
Dan ketika sakit datang, kita mulai bertanya tentang keadilan.
Padahal, boleh jadi yang terjadi justru sebaliknya.
Boleh jadi Allah sedang memperpanjang perjumpaan.
Karena jika semua keinginan langsung diberikan, mungkin kita tidak akan pernah lagi mengetuk pintu-Nya.
Sebagian ulama tasawuf meriwayatkan sebuah hikmah bahwa Allah berfirman kepada salah seorang nabi-Nya:
“Bagaimana Aku akan menghilangkan ujian itu, padahal di dalamnya terdapat rahmat-Ku?”
Kalimat ini memang sulit diterima ketika hati sedang terluka.
Namun, bukankah sering kali kita baru menyadari hikmah sebuah musibah setelah bertahun-tahun berlalu?
Bukankah banyak orang yang akhirnya berkata:
“Kalau dulu saya tidak jatuh, mungkin saya tidak akan pernah mengenal Allah sedekat ini.”
Makrifat Tidak Pernah Bisa Dibeli
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
Ayat ini bukan sekadar janji tentang datangnya solusi.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa terkadang kemudahan terbesar bukanlah hilangnya masalah, melainkan hadirnya Allah dalam hati seorang hamba.
Karena itu, makrifat tidak pernah bisa dibeli dengan banyaknya amal.
Makrifat juga tidak lahir dari kebanggaan atas kesalehan.
Makrifat adalah keputusan Allah.
Dan sering kali, Allah tidak mengirimkan jalan itu melalui kemewahan, popularitas, atau tepuk tangan manusia.
Dia justru mengirimkannya melalui kesepian, kehilangan, kegagalan, dan air mata.
Sebab setelah semua sandaran dunia runtuh, barulah seorang hamba memahami bahwa sejak awal, satu-satunya tempat bersandar hanyalah Allah.
Maka, jika hari ini hidupmu terasa berat, amalmu terasa sedikit, dan doamu belum juga terjawab, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang menjauh.
Sebab bisa jadi, justru ketika dunia perlahan menjauh darimu, Allah sedang berjalan lebih dekat menuju hatimu. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar