Kaget! Ini Jawaban Pemilik Cahaya Minang Saat Ditanya Soal Rugi
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah Makan Cahaya Minang Cigeureung, Kota Tasikmalaya, Kamis (25/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Tepat ketika jarum jam mendekati pukul 12.00 WIB, suasana di Rumah Makan Cahaya Minang, Jalan Cigeureung, Kota Tasikmalaya, berubah berbeda dari hari biasanya. Aroma masakan khas Minang masih mengepul dari dapur. Namun, siang itu bukan suara kasir yang paling sering terdengar, melainkan ucapan, “Silakan makan.”
Program makan gratis Tasikmalaya yang digelar rumah makan tersebut telah menjadi agenda rutin setiap tanggal 25. Ratusan porsi makanan disiapkan untuk siapa saja yang datang, mulai dari pelanggan tetap, guru, wartawan, pengemudi ojek online, hingga warga sekitar. Tidak ada syarat khusus. Semua dipersilakan menikmati hidangan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Bukan Promosi, Melainkan Rasa Syukur
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, langkah yang dilakukan Rumah Makan Cahaya Minang terbilang tidak biasa. Ketika banyak pelaku usaha berlomba menarik pelanggan melalui potongan harga atau promosi digital, rumah makan ini justru memilih berbagi makanan secara cuma-cuma.
Pemilik Rumah Makan Cahaya Minang, Santo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan strategi pemasaran. Baginya, program makan gratis merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah sekaligus ikhtiar menyambut datangnya bulan Muharram.
Ia berharap rezeki yang diterimanya tidak berhenti di meja kasir, tetapi juga mengalir kepada masyarakat yang membutuhkan ataupun siapa saja yang ingin menikmati makan siang bersama.
Saat awak media menanyakan apakah kegiatan yang rutin dilakukan setiap bulan itu tidak membuat usahanya merugi, Santo tersenyum sebelum menjawab singkat.
“Tidak. Karena dealing saya langsung dengan Tuhan,” ujarnya.
Menurut Santo, keyakinan itulah yang membuatnya tetap konsisten menjalankan kegiatan tersebut. Ia percaya setiap rezeki yang dibagikan akan kembali dalam bentuk keberkahan yang mungkin tidak selalu dapat dihitung dengan angka.
Spanduk Sederhana, Antrean Datang dengan Sendirinya
Tidak ada iklan besar, tidak ada promosi berbayar di media sosial, bahkan tidak ada syarat untuk memperoleh makan gratis.
Informasi mengenai jadwal pembagian biasanya disampaikan langsung kepada pelanggan yang sedang makan di rumah makan tersebut. Selain itu, sebuah spanduk sederhana bertuliskan “Makan Gratis” dipasang di depan rumah makan sebagai penanda bahwa siapa pun boleh datang pada tanggal 25, mulai pukul 12.00 hingga 14.30 WIB.
Cara sederhana itu ternyata cukup efektif.
Menjelang waktu makan siang, satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Ada yang mengenakan seragam guru, sebagian masih memakai jaket pengemudi ojek online, sementara lainnya datang sebagai warga sekitar yang mengetahui informasi tersebut dari mulut ke mulut.
Tidak terlihat perbedaan perlakuan. Semua duduk di meja yang sama, menikmati hidangan yang sama, dan pulang dengan senyum yang serupa.

Pelanggan sedang menikmati Makan Gratis di Cahaya Minang, Kamis (25/6/2026).
Ratusan Porsi Habis, Doa Terus Mengalir
Dalam setiap pelaksanaannya, ratusan porsi makanan dibagikan kepada masyarakat.
Selain melayani makan sehari-hari, Rumah Makan Cahaya Minang juga menerima pesanan paket hajatan. Namun, di sela kesibukan melayani pelanggan komersial, Santo tetap menyisihkan sebagian rezekinya untuk kegiatan sosial yang kini menjadi ciri khas rumah makannya.
Hasan, seorang wartawan media online yang ikut menikmati makan gratis, mengaku mengapresiasi konsistensi kegiatan tersebut.
“Hatur nuhun kepada Rumah Makan Cahaya Minang. Semoga sukses dan berkah,” katanya.
Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik sepiring nasi yang tersaji, tersimpan rasa terima kasih yang tidak selalu bisa diukur dengan nominal uang.
Berharap Menjadi Tradisi Kebaikan
Santo berharap kegiatan berbagi makan gratis dapat terus berlangsung setiap tanggal 25. Baginya, berbagi makanan bukan sekadar memberi makan orang lain, melainkan menjaga agar rasa syukur tetap hidup dalam menjalankan usaha.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, aksi sederhana seperti ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial masih memiliki ruang untuk tumbuh. Tidak selalu harus melalui kegiatan besar ataupun bantuan bernilai fantastis. Terkadang, sepiring makanan hangat sudah cukup untuk membuat seseorang merasa diperhatikan.
Mungkin ratusan porsi itu akan habis dalam waktu dua jam. Namun, doa-doa yang mengiringinya bisa jadi bertahan jauh lebih lama. Sebab, bagi Santo, keuntungan terbesar bukan berasal dari uang yang masuk ke laci kasir, melainkan dari keyakinan bahwa setiap rezeki yang dibagikan akan kembali sebagai keberkahan.
Di saat banyak orang sibuk menghitung untung dan rugi, Cahaya Minang memilih menghitung keberkahan. Sebab, rezeki yang dibagikan mungkin habis di piring, tetapi kebaikannya bisa terus hidup di hati orang-orang yang menerimanya. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar