Diky Candranegara Ikut Menabuh Kendang di Dadaha
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Walikota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara Tabuh Kendang, Minggu malam (21/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suara puluhan kendang bersahut-sahutan memecah malam di Selasar Gedung Creative Centre Dadaha, Kota Tasikmalaya, Minggu (21/6/2026). Dentuman ritmis yang menggetarkan itu menjadi penanda lahirnya Kendangers Tasikmalaya, sebuah komunitas penabuh kendang yang kini menghimpun ratusan seniman dari wilayah Priangan Timur.
Peluncuran komunitas pecinta kendang Sunda tersebut berlangsung dalam acara bertajuk Gaung Kendang. Bukan sekadar pertunjukan seni, malam itu menjadi ruang temu bagi para pembuat kendang, penabuh, hingga generasi muda yang ingin menjaga denyut budaya warisan leluhur.
Di tengah antusiasme warga, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candranegara bahkan ikut duduk lesehan bersama para seniman dan menabuh kendang. Tepuk tangan pengunjung pun pecah ketika suara kendang berpadu dengan semangat kebersamaan yang memenuhi area pertunjukan.
Pentas Perdana Kendang Berskala Besar di Tasikmalaya
Ketua Panitia Jajang Kasrana menyebut acara tersebut sebagai panggung perdana kendang berskala besar di Tasikmalaya.
Menurutnya, Kendangers hadir untuk menyediakan ruang silaturahmi sekaligus wadah kreativitas bagi para penabuh kendang.
“Ini panggung pertama kami. Tujuannya memberi rumah bagi penabuh kendang agar silaturahmi dan kreativitas terus hidup,” ujar Jajang.
Suasana malam itu terasa berbeda. Tidak hanya para seniman senior yang hadir, sejumlah anak muda tampak larut mengikuti irama yang dimainkan secara bersama-sama.
Bagi mereka, kendang bukan sekadar alat musik. Kendang adalah bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Berawal dari Singaparna, Kini Anggotanya Capai 300 Orang
Ahmad Nasrudin atau yang akrab disapa Ahmad Greg menjelaskan, komunitas tersebut sebenarnya lahir pada 2020 dengan nama Kendangers Singaparna.
Seiring waktu, anggotanya terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 300 orang yang tersebar di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
“Di dalamnya ada yang ahli membuat kendang dan ada yang fokus menjadi penabuh. Semua kami rangkul,” katanya.
Semangat yang mereka pegang sederhana, yakni gotong royong atau dalam istilah yang mereka gunakan disebut “udunan”.
Karena itu, Kendangers tidak hanya berkumpul untuk tampil di panggung.
Mereka juga aktif berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui tiga program utama, yakni:
- Kendanger Saba Lembur.
- Kendanger Saba Sakola.
- Kendanger Saba Komunitas.
Melalui program tersebut, para anggota turun langsung ke kampung, sekolah, dan komunitas lain untuk memperkenalkan seni kendang kepada masyarakat.
Anak Muda Jadi Kunci Pelestarian Budaya
Menurut Ahmad Greg, Tasikmalaya memiliki banyak seniman berbakat. Namun, ruang ekspresi masih belum sebanyak yang diharapkan.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi hal yang sangat penting.
“Pelestarian tidak akan berjalan tanpa anak muda. Kendang harus diwariskan, bukan hanya ditonton,” tuturnya.
Semangat itu tercermin dalam jargon mereka, yakni:
Dulur Salembur Baraya Sadunya.
Ungkapan tersebut menggambarkan persaudaraan dan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi komunitas Kendangers.
Diky Candranegara Ingin Seni Kendang Jadi Daya Tarik Wisata
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candranegara mengaku bangga atas lahirnya komunitas tersebut.
Ia berharap semangat para seniman tidak berhenti pada acara peluncuran semata.
“Saya ingin membentuk Rakasun sejak awal menjabat, tetapi terkendala anggaran. Jangan berhenti di sini. Kalau konsisten, ini bisa menjadi daya tarik wisata,” tegas Diky.
Sementara itu, Among Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya Andri menyatakan pihaknya akan mendorong kegiatan budaya serupa agar berlangsung secara berkala.
Menurutnya, gedung kesenian harus hidup dan menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat.
“Ini membuktikan warisan leluhur masih berdenyut di tangan generasi baru,” katanya.
Selama masih ada tangan yang menabuh dan anak muda yang mau belajar, suara kendang tidak akan pernah benar-benar berhenti. Ia akan terus bergema, menjaga ingatan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar