Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Kaget Saat Masalah Datang? Dunia Memang Diciptakan untuk Menguji

Kaget Saat Masalah Datang? Dunia Memang Diciptakan untuk Menguji

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Pagi itu seorang pedagang membuka rolling door kiosnya setengah badan. Cat biru di bagian bawah pintu sudah mulai mengelupas. Di tangannya ada secangkir kopi yang tinggal separuh. Sesekali ia melihat jalan yang masih lengang sambil mengecek layar ponselnya.

Belum ada pesanan masuk.

Belum ada kabar baik.

Namun tagihan tetap ada.

Mungkin itulah gambaran kecil dari sesuatu yang sering dilupakan manusia: dunia memang tidak pernah menjanjikan kemudahan.

Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menulis:

“Jangan heran atas terjadinya kesukaran-kesukaran selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak menjadi sifatnya.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin bertambah usia seseorang, semakin terasa pula kebenarannya.

Sebab banyak kekecewaan lahir bukan karena hidup terlalu kejam.

Melainkan karena kita diam-diam berharap dunia bersikap seperti surga.

Kita Marah pada Sesuatu yang Memang Sudah Menjadi Sifat Dunia

Di media sosial, hampir setiap hari muncul unggahan tentang kelelahan hidup.

Ada yang mengeluhkan usaha yang sepi.

Ada yang mengeluhkan pekerjaan yang terlalu banyak.

Dan ada yang merasa tertinggal karena teman-temannya sudah membeli rumah.

Serta ada pula yang merasa gagal hanya karena belum mencapai target usia tiga puluh tahun yang ia susun sendiri beberapa tahun lalu.

Menariknya, keluhan itu datang dari berbagai lapisan kehidupan.

Yang belum menikah merasa gelisah.

Yang sudah menikah punya kegelisahan baru.

Dan yang belum punya pekerjaan merasa tertekan.

Serta yang punya pekerjaan sering merasa kelelahan.

Seolah-olah manusia sedang berlari menuju sebuah tempat yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, misalnya, obrolan tentang harga kebutuhan pokok sering terdengar lebih keras dibanding suara sendok yang beradu dengan gelas. Tidak jauh berbeda dengan percakapan di ruang kantor berpendingin udara. Topiknya berubah, tetapi keresahannya hampir sama.

Manusia selalu menemukan alasan baru untuk khawatir.

Salah Alamat Ketika Menagih Kebahagiaan

Ja’far Ash-Shadiq pernah berkata bahwa orang yang meminta sesuatu yang memang tidak Allah jadikan di dunia hanya akan melelahkan dirinya.

Ketika ditanya apa itu, beliau menjawab:

“Kesenangan di dunia.”

Kalimat ini sering disalahpahami.

Bukan berarti Islam melarang bahagia.

Bukan pula berarti hidup harus muram.

Yang dimaksud adalah jangan berharap kebahagiaan sempurna menetap di tempat yang memang diciptakan sebagai ruang ujian.

Lihat saja kehidupan sehari-hari.

Ada seseorang yang bertahun-tahun bermimpi membeli kendaraan baru. Ketika kendaraan itu akhirnya terparkir di halaman rumah, rasa senangnya bertahan beberapa minggu. Setelah itu muncul cicilan, biaya perawatan, dan keinginan memiliki model yang lebih baru.

Begitulah dunia bekerja.

Ia memberi sambil menguji.

Ia menghibur sambil mengingatkan.

Kadang pelan. Kadang keras.

Dunia Adalah Ruang Ujian Bersama

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata bahwa dunia adalah kerisauan dan duka cita. Jika terdapat kesenangan di dalamnya, maka itulah keuntungan.

Pandangan ini terasa asing bagi manusia modern yang terbiasa mengukur hidup dari kenyamanan.

Padahal Al-Qur’an sudah memberikan peringatan yang sangat jelas:

“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Karena itu, kehilangan pekerjaan bukan berarti hidup gagal.

Usaha yang turun bukan berarti Allah meninggalkan.

Anak yang sakit bukan selalu tanda murka.

Kadang itu hanya bagian dari perjalanan yang memang harus dilalui.

Di beberapa masjid kampung, masih ada jamaah yang datang dengan ujung celana basah karena baru selesai dari sawah. Ada pula yang memarkir motor tuanya lalu berjalan cepat menuju saf terakhir ketika iqamah hampir selesai dikumandangkan.

Mereka juga punya masalah.

Mereka juga punya beban.

Namun mereka tetap datang.

Ada sesuatu yang tenang dalam cara mereka menjalani hidup.

Manusia Sering Berdoa Meminta Sabar, Tetapi Menolak Bentuknya

Inilah ironi yang sering terjadi.

Kita meminta kesabaran dalam doa.

Namun ketika kesabaran datang dalam bentuk ujian, kita menganggap doa itu tidak dikabulkan.

Kita meminta kedekatan dengan Allah.

Lalu kecewa ketika jalan menuju kedekatan itu harus melewati air mata.

Anehnya lagi, manusia sering merasa Allah jauh justru ketika Allah sedang paling dekat melalui ujian yang mendewasakannya.

Tidak semua orang siap menerima kenyataan seperti ini.

Wajar.

Kadang memang melelahkan.

Sangat melelahkan.

Jangan Menuntut Dunia Menjadi Surga

Junaid Al-Baghdadi berkata bahwa dirinya tidak heran ketika kesulitan datang karena sejak awal ia memahami bahwa dunia adalah tempat ujian.

Barangkali di sinilah letak kebebasan yang sebenarnya.

Ketika seseorang berhenti menuntut dunia untuk selalu menyenangkan dirinya.

Ketika ia tidak lagi menganggap setiap kesulitan sebagai kesalahan sistem.

Dan ketika ia memahami bahwa kehilangan, penantian, kegagalan, kesedihan, dan ketidakpastian adalah bagian dari kurikulum kehidupan.

Maka perlahan ia akan lebih tenang.

Bukan karena masalahnya hilang.

Tetapi karena ia tidak lagi bertengkar dengan kenyataan.

Suatu hari nanti, ketika umur sudah sampai di ujungnya, mungkin kita akan sadar bahwa hampir semua hal yang dulu membuat kita panik ternyata tidak ikut masuk ke liang kubur.

Jabatan tertinggal.

Rumah tertinggal.

Kendaraan tertinggal.

Rekening tertinggal.

Yang ikut hanyalah amal, sabar, dan cara kita menjalani ujian.

Karena itu, jangan terlalu marah ketika dunia menunjukkan wajah aslinya.

Yang mengejutkan bukanlah banyaknya kesulitan.

Yang mengejutkan adalah kita masih berharap dunia menjadi surga, padahal Allah tidak pernah menjanjikannya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ilustrasi suasana tenang seseorang bermunajat menggambarkan mahabbah kepada Allah dalam tasawuf

    Inilah Cinta Sejati Menurut Sufi: Mahabbah kepada Allah

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernahkah kita bertanya dalam diam—apakah cinta kita kepada Allah sudah benar-benar tulus? Atau justru masih penuh harap pada balasan? Mahabbah kepada Allah bukan sekadar konsep dalam kitab tasawuf. Ia adalah cinta Ilahi yang hidup, berdenyut di hati, dan perlahan mengubah cara seseorang melihat dunia. Dalam pandangan para sufi, cinta kepada Allah bukan […]

  • klaim intelijen

    Saudi Bombardir Yaman Selatan

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Serangan udara Saudi ke Yaman selatan menandai eskalasi baru konflik internal dan gagalnya upaya damai regional. Serangan Udara Saudi Picu Eskalasi Baru albadarpost.com, BERITA DUNIA – Koalisi militer pimpinan Arab Saudi kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Yaman selatan. Target utama serangan kali ini adalah posisi Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang selama ini […]

  • belajar malam di pesantren

    7 Tradisi Santri Belajar Malam di Pesantren

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 69
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Banyak orang mengenal pesantren sebagai tempat mengaji dan belajar agama. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana suasana belajar malam di pesantren setelah waktu Isya tiba. Tradisi belajar malam di pesantren, kebiasaan santri pada malam hari, dan aktivitas santri setelah mengaji ternyata menyimpan banyak cerita yang jarang terlihat dari luar. Saat sebagian orang […]

  • Polres Garut menangkap pelaku perampokan L300 dan ratusan tabung gas LPG di Karangpawitan Garut

    Dini Hari Mencekam di Garut, Korban Disekap Saat Perampok Gondol Mobil dan LPG

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus Perampokan Garut yang sempat bikin geger warga Karangpawitan akhirnya berhasil diungkap polisi. Aksi pencurian dengan kekerasan atau curas itu berlangsung brutal karena pelaku nekat menyekap korban sebelum membawa kabur mobil Mitsubishi L300 dan ratusan tabung gas LPG 3 kilogram. Peristiwa tersebut terjadi di area PT Mustika Sagara Utama, Kampung Sukaraja, […]

  • FGD May Day Tasikmalaya 2026 mempertemukan pemerintah, pekerja, dan pelaku usaha dalam dialog ketenagakerjaan di Kota Tasikmalaya

    FGD May Day 2026: Langkah Baru Hubungan Industrial Tasikmalaya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 50
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Tasikmalaya tahun ini tidak hanya berlangsung sebagai agenda seremonial. Pemerintah Kota Tasikmalaya justru memilih pendekatan yang lebih terbuka dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan pekerja dalam satu meja dialog, Minggu (3/5/2026). Kegiatan yang digelar oleh Dinas […]

  • gratifikasi hari raya

    Larangan THR untuk ASN: Bupati Tasikmalaya Terbitkan Surat Edaran

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 82
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan kebijakan tegas terkait gratifikasi hari raya. Melalui Surat Edaran Bupati Tasikmalaya Nomor 0018 Tahun 2026, seluruh aparatur sipil negara (ASN) diminta tidak meminta maupun menerima hadiah atau tunjangan hari raya dari masyarakat maupun perusahaan. Kebijakan ini merupakan langkah pencegahan korupsi dan pengendalian gratifikasi hari raya, yang sering […]

expand_less