FGD May Day 2026: Langkah Baru Hubungan Industrial Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Tasikmalaya tahun ini tidak hanya berlangsung sebagai agenda seremonial. Pemerintah Kota Tasikmalaya justru memilih pendekatan yang lebih terbuka dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan pekerja dalam satu meja dialog, Minggu (3/5/2026).
Kegiatan yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya tersebut menjadi ruang komunikasi langsung untuk membahas dinamika ketenagakerjaan yang selama ini berkembang di daerah. Di satu sisi, pemerintah ingin memastikan industri tetap tumbuh. Namun di sisi lain, kesejahteraan pekerja juga tidak boleh tertinggal.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadan, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak akan berarti jika tidak berjalan seimbang dengan kondisi tenaga kerja di lapangan.
“Bantu saya mewujudkan Kota Tasikmalaya yang maju, dengan industri yang tumbuh dan pekerja yang sejahtera,” ujarnya di hadapan peserta FGD.
Ruang Dialog Yang Tidak Sekedar Formalitas
FGD May Day ini memang dirancang bukan sekadar agenda tahunan. Pemerintah Kota Tasikmalaya ingin menghadirkan forum yang benar-benar bisa membuka percakapan dua arah, terutama antara pekerja dan pelaku usaha.
Dalam forum tersebut, berbagai persoalan ketenagakerjaan ikut dibahas. Mulai dari kebutuhan peningkatan keterampilan tenaga kerja, kondisi hubungan industrial di sejumlah sektor, hingga tantangan menjaga daya saing investasi di daerah.
Sejumlah peserta menilai bahwa ruang seperti ini penting untuk menjaga agar komunikasi tidak hanya terjadi saat muncul persoalan besar saja. Ada kebutuhan untuk membangun dialog yang lebih rutin dan terbuka.
Sementara itu, pihak pengusaha juga menyoroti pentingnya kepastian kebijakan agar dunia usaha bisa bergerak lebih stabil. Tanpa kepastian tersebut, iklim investasi dikhawatirkan akan berjalan lambat.
Pemerintah Dorong Sinergi
Di tengah berbagai pandangan yang muncul, Pemerintah Kota Tasikmalaya mencoba mengambil posisi sebagai jembatan. Pemerintah tidak ingin hubungan industrial hanya dipahami sebagai tarik-menarik kepentingan.
Sebaliknya, Viman menekankan bahwa pertumbuhan industri dan kesejahteraan pekerja harus berjalan berdampingan. Menurutnya, keduanya saling mempengaruhi dan tidak bisa dipisahkan.
“Kalau komunikasi kita baik, maka industri akan tumbuh lebih sehat. Dan pada akhirnya pekerja juga akan merasakan dampaknya,” kata Viman.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan arah kebijakan Pemkot Tasikmalaya yang ingin menjaga stabilitas hubungan industrial di tengah perubahan ekonomi yang cukup cepat.
Fokus Pada Industri Berkelanjutan dan SDM
Selain membahas hubungan industrial, FGD ini juga menyinggung arah pengembangan industri ke depan. Pemerintah daerah menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah investasi, tetapi juga dari kualitas tenaga kerja yang tersedia.
Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi. Pelatihan kerja, adaptasi terhadap teknologi, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri baru menjadi perhatian bersama.
Di sisi lain, pelaku usaha berharap ada kesinambungan antara kebutuhan industri dengan kebijakan pelatihan tenaga kerja yang dijalankan pemerintah.
Regulasi Masih Jadi Acuan Utama
Dalam diskusi tersebut, pemerintah juga kembali menegaskan bahwa seluruh kebijakan ketenagakerjaan tetap mengacu pada aturan yang berlaku. Beberapa di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta penyesuaian dalam kerangka Undang-Undang Cipta Kerja.
Prinsip hubungan industrial Pancasila juga masih menjadi dasar utama dalam menjaga keseimbangan antara hak pekerja dan kepentingan perusahaan. Pemerintah menilai, kerangka ini penting untuk mencegah gesekan yang tidak perlu di lapangan.
Menjaga Arah Pembangunan Yang Lebih Seimbang
FGD May Day di Tasikmalaya tahun ini memberi gambaran bahwa isu ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan satu arah. Semua pihak dituntut untuk duduk bersama dan mencari titik tengah.
Pemerintah berharap forum seperti ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi bisa menjadi ruang rutin untuk menjaga komunikasi tetap hidup. Dengan begitu, setiap persoalan bisa dibicarakan sejak dini sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Di tengah perubahan ekonomi yang terus bergerak, Tasikmalaya mencoba menjaga keseimbangan: industri tetap tumbuh, tetapi pekerja juga tidak tertinggal.
May Day tahun ini di Tasikmalaya akhirnya memberi pesan yang cukup jelas. Pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan industri, tetapi juga pada bagaimana pekerja mendapatkan ruang yang layak dalam sistem ekonomi.
Dan dari forum FGD ini, satu hal kembali ditegaskan: komunikasi adalah kunci.
Jika dialog terus terjaga, maka industri bisa berkembang tanpa harus mengorbankan kesejahteraan di belakangnya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar