Susi Pudjiastuti Masuk BJB, Dunia Perbankan Daerah Diprediksi Berubah
- account_circle redaktur
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Komisaris Utama Independen BJB, Susi Pudjiastuti (Foto: IG Susi Pudjiastuti).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Nama Susi Pudjiastuti tidak pernah benar-benar hilang dari perhatian publik Indonesia.
Setelah lama dikenal sebagai pengusaha nyentrik, pemilik maskapai, hingga menteri dengan gaya bicara tanpa tedeng aling-aling, kini ia muncul di panggung berbeda:
dunia perbankan.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025, Bank BJB resmi menunjuk Susi sebagai Komisaris Utama Independen.
Keputusan itu langsung menyita perhatian.
Bukan hanya karena nama besar Susi, tetapi juga karena publik tahu satu hal:
di mana pun ia berada, perubahan hampir selalu mengikuti.
RUPS digelar di kawasan Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (28/4/2026), dan dipimpin langsung oleh Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat.
Di ruangan itu, agenda perusahaan sebenarnya berjalan formal seperti biasa:
penetapan direksi,
laporan keuangan,
hingga pembagian dividen.
Namun perhatian publik justru tertuju pada satu nama:
Susi Pudjiastuti.
Perempuan dari Pangandaran yang Selalu Membawa Cerita
Banyak orang mengenal Susi lewat kebijakan penenggelaman kapal asing saat menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan.
Tetapi jauh sebelum masuk kabinet, ia lebih dulu membangun bisnis dari nol.
Ia memulai usaha sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Dari sana, bisnisnya tumbuh perlahan hingga memiliki jaringan ekspor dan maskapai penerbangan sendiri.
Karena itu, publik tidak melihat Susi sekadar figur politik.
Mereka melihatnya sebagai simbol keberanian mengambil risiko.
Dan kini, keberanian itu masuk ke dunia perbankan daerah.
Bank Daerah Tidak Lagi Bisa Berjalan Biasa
Masuknya Susi Pudjiastuti ke Bank BJB datang di saat industri perbankan menghadapi perubahan besar.
Bank tidak lagi hanya bersaing soal kantor cabang atau jumlah tabungan.
Persaingan kini bergerak ke:
- digitalisasi,
- kecepatan layanan,
- pinjaman online,
- dan kedekatan dengan generasi muda.
Susi tampaknya memahami arah perubahan itu.
Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan harapan agar Bank BJB mulai serius masuk ke sektor pinjaman online karena pasar Jawa Barat dan Banten sangat besar.
Pernyataan itu terdengar sederhana.
Namun bagi pelaku industri keuangan, itu merupakan sinyal penting.
Artinya, transformasi digital kemungkinan akan menjadi salah satu fokus besar ke depan.
Publik Menunggu Gaya Kepemimpinan Susi
Karakter Susi selama ini dikenal kuat, spontan, dan sulit ditebak.
Ia sering bicara langsung ke inti persoalan tanpa banyak basa-basi.
Di dunia bisnis modern, gaya seperti itu justru dianggap penting.
Sebab industri keuangan saat ini bergerak sangat cepat.
Bank yang lambat membaca perubahan bisa tertinggal hanya dalam hitungan tahun.
Karena itu, publik mulai penasaran:
akankah Susi membawa gaya kepemimpinan yang sama ke dunia perbankan?
Apakah ia akan mendorong BJB lebih agresif masuk ke layanan digital?
Atau justru memperkuat identitas bank daerah agar lebih dekat dengan masyarakat kecil?
Pertanyaan itu kini ramai diperbincangkan di kalangan bisnis dan ekonomi daerah.
Dedi Mulyadi Titip Harapan Besar
Dalam RUPS tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi juga menyampaikan harapan besar terhadap manajemen baru Bank BJB.
Ia meminta biaya operasional semakin efisien, sementara deviden dan performa bank terus meningkat.
Selain itu, RUPS menyepakati pembagian dividen sebesar Rp900 miliar atau setara Rp85,54 per lembar saham.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa kinerja BJB masih cukup kuat di tengah tekanan ekonomi dan persaingan industri perbankan nasional.
Bukan Sekadar Pergantian Kursi
Bagi banyak orang, masuknya Susi Pudjiastuti bukan hanya soal jabatan komisaris.
Ada ekspektasi besar di balik keputusan itu.
Publik melihat kemungkinan lahirnya energi baru di tubuh bank daerah terbesar di Jawa Barat tersebut.
Apalagi Susi punya satu hal yang jarang dimiliki banyak tokoh bisnis:
kepercayaan publik.
Dan di era ketika industri keuangan sangat bergantung pada kepercayaan, hal itu menjadi aset yang sangat mahal.
Karena pada akhirnya, dunia bisnis tidak selalu berubah oleh angka dan laporan keuangan — kadang perubahan besar justru dimulai saat seorang figur berani masuk dan mengubah cara orang melihat masa depan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar