Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Janji Allah di Jalan Syukur

Janji Allah di Jalan Syukur

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 169
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Ada ayat yang tidak turun untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan. Ia tidak menggedor telinga, tetapi mengetuk hati. Surat Ibrahim ayat 7 adalah salah satunya. Sebuah pengumuman dari langit yang tidak memaksa, tetapi mengundang kesadaran terdalam manusia.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu mengingkari, sungguh azab-Ku sangat keras.”

Kalimat ini seperti cermin. Ia tidak bertanya seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita menyadari. Di hadapan ayat ini, manusia diajak berhenti sejenak, mengendapkan riuh dunia, lalu menengok ke dalam.

Syukur yang Hidup di Dalam Hati

Dalam jalan para sufi, syukur bukanlah reaksi sesaat, melainkan maqam: sebuah kedudukan ruhani. Imam Al-Junaid menyebut syukur sebagai kemampuan melihat Pemberi di balik setiap pemberian. Karena itu, syukur tidak lahir dari banyaknya nikmat, tetapi dari beningnya pandangan hati.

Baca juga: Harga Beras Naik, Zakat Fitrah Menyesuaikan? Ini Penjelasan Baznas RI

Syukur sejati tidak selalu berbunyi. Ia hadir dalam diam yang sadar. Ia tumbuh ketika hati tidak lagi sibuk menghitung kekurangan, tetapi mulai mengenali kecukupan. Maka, orang yang bersyukur bukan yang paling kaya, melainkan yang paling tenang.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga lapis: pengetahuan (ma’rifah), keadaan hati (hal), dan perbuatan (‘amal). Ketika ketiganya bertaut, syukur menjadi hidup. Namun ketika salah satunya hilang, syukur berubah menjadi kebiasaan kosong.

Janji Allah dan Rahasia Penambahan

Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur. Namun para ‘Arifin memahami, tambahan itu sering datang dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak selalu menambah apa yang tampak, tetapi memperluas apa yang terasa.

Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam menulis, “Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang ada, ia akan kehilangan nikmat yang akan datang.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan hukum ruhani. Nikmat bertahan bukan karena dijaga tangan, tetapi karena dirawat hati.

Rasulullah SAW mengajarkan syukur melalui hidupnya. Dalam hadis riwayat Aisyah RA, Nabi tetap shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa bersusah payah padahal dosanya diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Syukur, dalam hal ini, bukan balasan atas nikmat, tetapi cara mencintai Allah.

Kufur Nikmat: Lupa yang Menggelapkan

Kufur nikmat tidak selalu berbentuk penolakan terang-terangan. Ia sering hadir sebagai lupa. Lupa bahwa sehat adalah karunia. Lupa bahwa waktu adalah amanah. Lupa bahwa keberhasilan adalah titipan.

Para sufi menyebut lupa sebagai hijab paling halus. Ia tidak menyakitkan, tetapi menggelapkan. Dari lupa, lahir kelalaian. Dari kelalaian, tumbuh kesombongan. Maka, azab yang disebutkan dalam ayat sering kali datang sebagai kehilangan makna, bukan semata musibah.

Baca juga: Singapura Tancap Gas Menuju Target Wisata 2026

Ketika nikmat tidak lagi mendekatkan kepada Allah, saat itulah nikmat berubah menjadi ujian terberat.

Menjadikan Syukur sebagai Jalan Pulang

Syukur bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan pulang. Jalan yang mengantar manusia kembali mengenali dirinya sebagai hamba, bukan pemilik. Dalam syukur, manusia berhenti menuntut dunia, lalu mulai merawat amanah.

Di tengah zaman yang mendorong manusia untuk selalu lebih, syukur mengajarkan cukup. Di saat dunia mengukur nilai dari pencapaian, syukur menimbang dengan ketulusan. Maka, syukur menjadi bentuk perlawanan paling lembut terhadap keserakahan.

Surat Ibrahim ayat 7 tidak sekadar menjanjikan penambahan nikmat. Ia mengajarkan cara hidup. Jika syukur tumbuh, hati lapang. Jika hati lapang, hidup bercahaya.

Dan barangkali, itulah nikmat terbesar yang sering luput kita syukuri.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Direktur Albadar Institute, Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi bakwan jagung renyah berwarna keemasan di atas piring dengan cabai rawit dan suasana dapur rumahan.

    Resep Bakwan Jagung Renyah Anti Lembek, Dingin Pun Tetap Krispi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 103
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Bakwan jagung renyah masih jadi salah satu gorengan favorit di banyak rumah Indonesia. Rasanya gurih, teksturnya kriuk, dan aromanya sering langsung membuat orang berkumpul ke dapur bahkan sebelum matang sempurna. Karena itu, resep bakwan jagung anti lembek kini semakin banyak dicari, terutama oleh pecinta gorengan rumahan yang ingin hasilnya tetap renyah meski […]

  • Grafik peningkatan loyalitas pelanggan pada UMKM melalui strategi berbasis data dan analisis bisnis

    Data Bicara! Ini 9 Cara UMKM Bikin Pelanggan Setia

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Meningkatkan loyalitas pelanggan UMKM kini tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan ramah. Pelaku usaha perlu memahami retensi pelanggan, membangun pelanggan setia, serta menggunakan strategi berbasis data. Berbagai studi menunjukkan bahwa pendekatan terukur mampu meningkatkan pembelian ulang sekaligus memperkuat hubungan jangka panjang dengan konsumen. Data Penting: Mengapa Loyalitas Pelanggan Sangat Krusial? Pertama, berbagai […]

  • Inggris Lolos Semifinal

    Inggris ke Semifinal, Bellingham Hancurkan Harapan Norwegia

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 30
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Inggris lolos semifinal Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu. Laga Inggris vs Norwegia di perempat final menyajikan pertarungan yang berlangsung ketat sejak menit pertama hingga peluit akhir, sebelum Jude Bellingham tampil sebagai penentu kemenangan lewat dua gol penting. Bagi Norwegia, hasil ini terasa menyakitkan. […]

  • maklumat NU

    Cipasung Keluarkan Maklumat NU untuk Kendalikan Dinamika Organisasi

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Pesantren Cipasung mengeluarkan maklumat NU untuk menjaga ketertiban organisasi dan meredakan ketegangan internal. albadarpost.com, HIKMAH – Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, mengeluarkan maklumat NU yang menekankan pentingnya ketertiban organisasi dan penyelesaian persoalan melalui mekanisme musyawarah. Dokumen bernomor 239.MLK/SEKRE/PPC/XII/2025 itu rilis pada Senin dan menjadi penanda bahwa dinamika internal Nahdlatul Ulama perlu ditangani secara hati-hati agar […]

  • tafsir bersyukur

    Tafsir Syukur dalam Al-Qur’an: Cara Sederhana Mengundang Rezeki

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 143
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tafsir bersyukur menjadi topik yang selalu relevan, terutama saat banyak orang mencari ketenangan hidup. Dalam Islam, makna bersyukur, tafsir syukur, dan keutamaan bersyukur tidak hanya sebatas ucapan, tetapi juga tindakan nyata. Karena itu, memahami tafsir ayat tentang bersyukur membantu seseorang meraih kebahagiaan yang lebih dalam sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah. Mengapa Bersyukur […]

  • Suasana waktu Subuh di rumah Muslim dengan cahaya pagi dan seseorang membaca doa setelah salat Subuh.

    Hadis Nabi tentang Waktu Subuh yang Kini Jarang Diamalkan

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 102
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mengenal hadis waktu Subuh sebagai anjuran bangun pagi untuk salat dan mencari keberkahan hidup. Sebagian lain menyebut waktu Subuh sebagai momen paling tenang untuk berdoa, berdzikir, dan memulai hari dengan hati yang lebih ringan. Namun perlahan, kebiasaan menjaga waktu Subuh mulai bergeser dari kehidupan banyak orang. Malam terasa semakin panjang. […]

expand_less