Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Bandros, Jajanan Tradisional Bernilai Ekonomi

Bandros, Jajanan Tradisional Bernilai Ekonomi

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • visibility 207
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bandros tradisional diolah UMKM sebagai jajanan rumahan bernilai ekonomi, mudah dibuat dan diminati pasar lokal.

albadarpost.com, LIFESTYLE – Bandros tradisional kembali mendapat perhatian pelaku usaha kuliner rumahan. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan sederhana berbasis bahan lokal, jajanan berbahan dasar tepung beras dan kelapa ini dinilai memiliki peluang ekonomi yang relevan, terutama bagi pelaku UMKM skala rumah tangga.

Sejumlah pelaku UMKM kuliner menyebut bandros tradisional sebagai produk yang mudah diproduksi, berbiaya rendah, dan memiliki pasar yang stabil. Selain itu, proses pembuatan yang tidak rumit membuat jajanan ini cocok dikembangkan sebagai usaha rumahan, baik untuk konsumsi keluarga maupun penjualan terbatas di lingkungan sekitar.

Bandros dikenal luas di berbagai daerah dengan nama kue pancong. Ciri utamanya adalah tekstur renyah di bagian luar dan lembut di dalam, dengan rasa gurih yang berasal dari kelapa parut dan santan. Karakter ini menjadikannya cocok disajikan sebagai teman minum kopi atau teh, terutama pada pagi dan sore hari.

Bandros Tradisional dan Peluang Usaha Kuliner

Bahan baku bandros tradisional relatif mudah diperoleh di pasar lokal. Tepung beras, kelapa parut, santan, dan gula pasir menjadi komponen utama yang harganya stabil. Kondisi ini memberi keuntungan bagi pelaku UMKM karena tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga bahan pangan.

Baca juga: Spaghetti Jamur Creamy, Edukasi Gizi Seimbang

Dari sisi produksi, proses pembuatan bandros tidak membutuhkan peralatan khusus. Cetakan sederhana, kompor, dan waktu memasak sekitar satu setengah jam sudah cukup untuk menghasilkan puluhan potong bandros. Dengan takaran standar, satu adonan dapat menghasilkan sekitar 35 buah bandros, sehingga efisien untuk produksi kecil hingga menengah.

Pelaku UMKM menilai bandros tradisional memiliki keunggulan dari sisi rasa dan nostalgia. Konsumen cenderung mencari jajanan yang mengingatkan pada makanan rumahan, terutama di tengah maraknya produk modern berbasis instan. Faktor ini menjadikan bandros tetap relevan sebagai produk kuliner lokal.

Proses Produksi dan Nilai Gastronomi

Secara gastronomi, bandros tradisional menonjolkan kesederhanaan rasa. Proses dimulai dengan memasak santan hingga mendidih tanpa memecah, lalu dikombinasikan dengan campuran tepung beras, tepung tapioka, kelapa parut kukus, garam, dan vanili. Adonan kemudian dimasak dalam cetakan yang telah diolesi minyak hingga bagian bawahnya garing.

Bahan-bahan dan cara membuat bandros ala Dapur Laziiz.

Teknik ini menghasilkan tekstur khas yang menjadi identitas bandros. Taburan gula pasir secukupnya menambah keseimbangan rasa gurih dan manis. Kesederhanaan inilah yang membuat bandros mudah diterima lintas generasi.

Baca juga: Ketegasan Bupati Hadapi Tambang yang Abaikan Tata Ruang

Dari sudut pandang ekonomi kuliner, bandros tradisional juga fleksibel untuk dikembangkan. Pelaku usaha dapat menyesuaikan ukuran, kemasan, dan varian rasa tanpa menghilangkan karakter utamanya. Hal ini membuka ruang inovasi tanpa harus meninggalkan identitas jajanan tradisional.

Dampak bagi UMKM dan Konsumen

Bagi UMKM, pengembangan bandros tradisional berkontribusi pada penguatan ekonomi mikro. Produksi rumahan memungkinkan pelaku usaha memulai dengan modal terbatas, sekaligus mengurangi risiko kerugian. Sementara bagi konsumen, kehadiran bandros menawarkan alternatif jajanan yang lebih alami dan terjangkau.

Di beberapa wilayah, bandros juga mulai dipasarkan sebagai produk titipan di warung kopi dan kios kecil. Pola distribusi ini dinilai efektif karena menyasar konsumen harian tanpa biaya pemasaran besar.

Dengan tren konsumsi lokal yang terus tumbuh, bandros tradisional berpotensi menjadi salah satu produk andalan UMKM kuliner. Dukungan terhadap jajanan berbasis bahan lokal dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha kecil sekaligus melestarikan warisan kuliner daerah.

Bandros tradisional menjadi peluang usaha UMKM yang realistis, berbasis bahan lokal, mudah diproduksi, dan relevan dengan selera pasar saat ini. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kekayaan Elon Musk

    Kekayaan Elon Musk, Lampaui Ekonomi Banyak Negara

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Kekayaan Elon Musk tembus USD 726 miliar pada 2025, melampaui ekonomi banyak negara dan perusahaan global. albadarpost.com, FOKUS – Elon Musk menutup tahun 2025 dengan satu pesan yang sulit dibantah: dominasinya di puncak daftar orang terkaya dunia makin tak terkejar. CEO Tesla dan SpaceX itu tercatat memiliki kekayaan bersih sekitar USD 726,3 miliar, atau setara […]

  • Tumpahan Batu Bara Pangandaran

    Laut Pangandaran Tercemar Batu Bara, DPRD Minta Penanganan Darurat

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 119
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Tumpahan batu bara Pangandaran kembali menjadi sorotan setelah material batu bara diduga mencemari perairan sekitar Karangtirta. Pencemaran laut di Pangandaran ini tidak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga berpotensi mengguncang sektor perikanan, pariwisata, hingga pertanian yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat. Kekhawatiran tersebut menguat setelah Ketua DPRD Pangandaran, Asep […]

  • Kejurdo BKC Bupati Cup II

    Kejurdo BKC Bupati Cup II, Bukan Sekadar Berebut Medali

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 69
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kejurdo BKC Bupati Cup II di Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan para karateka. Lebih dari itu, kejuaraan karate tersebut menjadi ruang pembinaan atlet muda sekaligus menanamkan disiplin, sportivitas, kerja keras, dan karakter. Kegiatan berlangsung di Gedung BKPSDM Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (8/8/2026). Pesan tentang pembentukan karakter melalui olahraga menjadi […]

  • Ilustrasi pekerja Indonesia dengan kebijakan buruh 2026 seperti UMP, BSU, JKP, dan program subsidi rumah pemerintah

    Dampak Besar untuk Pekerja! Ini 6 Kebijakan Baru Kesejahteraan Buruh 2026

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 199
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pemerintah kembali menaruh perhatian besar pada Kebijakan Buruh 2026 yang menyentuh langsung kehidupan jutaan pekerja di Indonesia. Paket kebijakan ini tidak hanya bicara soal angka upah, tetapi juga menyentuh hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari perlindungan saat kehilangan pekerjaan, bantuan tunai, hingga mimpi memiliki rumah sendiri. Di lapangan, sejumlah […]

  • penyelundupan manusia

    Terungkap! Indonesia Jadi Jalur Penyelundupan Manusia ke Australia

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus penyelundupan manusia kembali mencuat dan langsung memantik perhatian publik. Aparat mengungkap dugaan praktik pengiriman manusia secara ilegal ke Australia dengan memanfaatkan Indonesia sebagai jalur transit. Dalam perkara ini, tiga warga negara Pakistan diduga berperan aktif mengatur pergerakan korban dari awal hingga rencana keberangkatan. Informasi ini muncul setelah Direktorat Jenderal Imigrasi […]

  • Tokoh Quraisy

    Quraisy: Musuh Awal Islam yang Justru Jadi Penentu Sejarah

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 199
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Bangsa Quraisy, suku Quraisy, atau kaum Quraisy selama ini sering ditempatkan dalam satu posisi: penentang awal dakwah Nabi Muhammad. Namun, benarkah sesederhana itu? Fakta sejarah justru menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks—bahkan penuh ironi. Di satu sisi, mereka menjadi kelompok yang paling keras menolak Islam. Namun di sisi lain, dari tangan merekalah […]

expand_less