Reaktivasi Bandara Wiriadinata Dibahas, Diaspora Tasikmalaya Ikut Mendorong
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bandara Wiriadinata, Kota Tasikmalaya. (Dok. Kemenhub).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Reaktivasi Bandara Wiriadinata kembali menjadi pembahasan di Tasikmalaya. Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersama diaspora asal Tasikmalaya membahas penguatan konektivitas udara dengan melibatkan unsur pemerintah pusat.
Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, tersebut membahas reaktivasi penerbangan Bandara Wiriadinata sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas, mobilitas masyarakat, dan peluang pertumbuhan ekonomi di Tasikmalaya serta kawasan Priangan Timur.
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan bersama Bupati Tasikmalaya menghadiri pertemuan yang diinisiasi diaspora asal Tasikmalaya tersebut.
Sejumlah pejabat pemerintah pusat turut hadir, di antaranya Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia, Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, serta Wakil Menteri Perhubungan Republik Indonesia.
Diaspora Tasikmalaya Buka Ruang Sinergi dengan Pemerintah Pusat
Keterlibatan diaspora menjadi salah satu sisi menarik dalam pembahasan reaktivasi Bandara Wiriadinata kali ini.
Mereka merupakan putra-putri daerah asal Tasikmalaya yang kini berkiprah di tingkat nasional. Kehadiran mereka mempertemukan jaringan daerah dengan pemangku kebijakan di tingkat pusat dalam pembahasan mengenai konektivitas transportasi.
Dilansir dari Pemkot Tasikmalaya, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta berbagai pemangku kepentingan.
Bagi pemerintah daerah, konektivitas udara memiliki kaitan dengan mobilitas masyarakat sekaligus aktivitas ekonomi. Karena itu, pembahasan Bandara Wiriadinata tidak hanya menyangkut operasional penerbangan, tetapi juga posisi Tasikmalaya dalam jaringan transportasi kawasan.
Namun, keterlibatan berbagai pihak tersebut belum berarti penerbangan baru sudah dipastikan beroperasi. Reaktivasi tetap membutuhkan pembahasan lebih lanjut mengenai aspek teknis, regulasi, operasional, dan kebutuhan pasar.
Bandara Wiriadinata Pernah Direaktivasi pada 2023
Upaya menghidupkan kembali Bandara Wiriadinata bukan agenda yang baru muncul.
Pada 2022, Pemerintah Kota Tasikmalaya telah membahas persiapan reaktivasi bersama sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah di kawasan Priangan Timur dan pemerintah pusat.
Langkah tersebut kemudian berlanjut hingga penerbangan perdana dalam rangka reaktivasi Bandara Wiriadinata pada 2 Oktober 2023. Pemerintah Kota Tasikmalaya ketika itu mengaitkan konektivitas udara dengan kemudahan akses serta pengembangan aktivitas ekonomi daerah.
Karena itu, pembahasan pada September 2026 memiliki konteks tersendiri. Setelah sebelumnya penerbangan kembali hadir, isu keberlanjutan konektivitas udara kini kembali masuk dalam pembahasan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Dokumen perencanaan Pemerintah Kota Tasikmalaya juga mencatat Bandara Wiriadinata sebagai salah satu fasilitas yang diupayakan untuk direaktivasi.
Konteks tersebut menunjukkan bahwa tantangan reaktivasi bukan hanya menghadirkan penerbangan, tetapi juga memastikan layanan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Reaktivasi Bukan Sekadar Mendatangkan Pesawat
Bandara yang kembali beroperasi tentu membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan landasan dan penerbangan.
Ada aspek rute, kebutuhan penumpang, kesiapan operasional, regulasi, serta dukungan ekosistem transportasi yang perlu diperhitungkan. Selain itu, keberlanjutan penerbangan juga berkaitan dengan kemampuan pasar dalam menopang layanan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu melihat Bandara Wiriadinata sebagai bagian dari sistem konektivitas kawasan.
Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya memiliki kepentingan yang beririsan dalam hal mobilitas masyarakat dan pengembangan ekonomi. Jika konektivitas udara berjalan secara berkelanjutan, akses menuju Tasikmalaya dapat menjadi lebih beragam.
Dampaknya juga berpotensi menjalar ke sektor perdagangan, pariwisata, investasi, dan aktivitas bisnis.
Meski demikian, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena penerbangan kembali dibuka. Pemerintah tetap membutuhkan perhitungan mengenai rute yang layak, permintaan penumpang, operasional maskapai, serta integrasi dengan moda transportasi lainnya.
Konektivitas Wiriadinata Menyangkut Priangan Timur
Posisi Bandara Wiriadinata membuat pembahasannya relevan bagi wilayah yang lebih luas daripada Kota Tasikmalaya.
Kabupaten Tasikmalaya dan daerah lain di Priangan Timur juga memiliki kepentingan terhadap akses transportasi yang mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Dengan konektivitas yang lebih baik, pelaku usaha memiliki pilihan akses yang lebih beragam. Sektor pariwisata juga dapat memperoleh peluang untuk menjangkau pasar dari luar kawasan.
Namun, semua peluang tersebut tetap bergantung pada satu hal: keberlanjutan.
Pengalaman reaktivasi sebelumnya menjadi pelajaran bahwa menghadirkan penerbangan merupakan tahap awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan layanan memiliki pasar dan dapat terus berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Menunggu Tindak Lanjut yang Lebih Konkret
Pertemuan pada 30 September 2026 membuka kembali ruang pembahasan mengenai masa depan Bandara Wiriadinata.
Kini, perhatian berikutnya berada pada tindak lanjut. Masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai hasil kajian, rencana operasional, kemungkinan rute, serta langkah konkret yang akan ditempuh pemerintah dan pihak terkait.
Sampai terdapat keputusan resmi mengenai penerbangan, reaktivasi Bandara Wiriadinata masih perlu ditempatkan sebagai agenda yang sedang diperjuangkan, bukan kepastian bahwa penerbangan baru segera berjalan.
Di sisi lain, keterlibatan diaspora dan pemerintah pusat memberikan ruang koordinasi yang lebih luas bagi pemerintah daerah untuk memperjuangkan kebutuhan konektivitas Tasikmalaya.
Pada akhirnya, keberhasilan reaktivasi tidak cukup diukur dari apakah pesawat kembali mendarat di Wiriadinata.
Sebab, bandara yang hidup bukan hanya ditandai pesawat yang datang dan pergi, tetapi oleh konektivitas yang bertahan, masyarakat yang terbantu, dan ekonomi Priangan Timur yang ikut bergerak. (Red)
- Penulis: redaktur






