Singapura Masuk Era Super-Lansia, Kelahiran Terus Menurun
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi bendera Singapura.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DUNIA — Singapura super-lansia kini menjadi kenyataan. Pada Juni 2026, 21,4 persen warga negara Singapura berusia 65 tahun ke atas, melampaui ambang 21 persen yang digunakan untuk kategori masyarakat super-lansia. Pada saat yang sama, kelahiran menurun dan jarak antara penduduk usia produktif dengan lansia semakin menyempit.
Perubahan itu menandai babak baru populasi Singapura. Negara kota tersebut tidak hanya menghadapi bertambahnya jumlah lansia Singapura, tetapi juga perubahan komposisi penduduk yang berlangsung ketika angka kelahiran berada pada tingkat rendah.
Data tersebut berasal dari laporan Population in Brief 2026 yang diterbitkan National Population and Talent Division (NPTD) di bawah Kantor Perdana Menteri Singapura bersama sejumlah lembaga terkait.
Warga Lansia Singapura Melonjak dalam Satu Dekade
Dikutip dari CNA, penuaan penduduk terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi satu dekade sebelumnya.
Pada 2016, warga negara Singapura berusia 65 tahun ke atas mencapai 13,7 persen dari populasi warga negara. Angka itu kemudian naik menjadi 21,4 persen pada 2026.
Dengan proporsi tersebut, Singapura memasuki kategori masyarakat super-lansia berdasarkan ukuran yang digunakan negara tersebut.
Namun, angka 21,4 persen perlu dibaca secara tepat. Singapura menggunakan warga negara sebagai dasar penghitungan, sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggunakan jumlah penduduk secara keseluruhan dalam menentukan kategori masyarakat super-lansia.
Karena itu, angka tersebut bukan berarti 21,4 persen dari seluruh penduduk Singapura merupakan lansia.
Meski demikian, arah demografinya tidak berubah. Penduduk Singapura semakin menua.
Kelompok warga berusia 80 tahun ke atas bahkan meningkat 60 persen dalam satu dekade. Jumlahnya bertambah dari sekitar 95.000 orang pada 2016 menjadi 152.000 orang pada 2026.
Laporan tersebut juga memperkirakan lebih dari satu dari empat warga Singapura akan berusia 65 tahun ke atas pada 2035.
Median usia warga negara pun naik. Pada Juni 2026, median usia mencapai 44,1 tahun, dibandingkan 43,7 tahun pada Juni 2025.
Penduduk Produktif Semakin Sedikit Dibanding Lansia
Penuaan penduduk Singapura tidak hanya terlihat dari bertambahnya kelompok usia lanjut. Struktur antara penduduk usia produktif dan lansia juga ikut berubah.
Pada 2016, terdapat sekitar 4,7 warga berusia 20 hingga 64 tahun untuk setiap satu warga berusia 65 tahun ke atas. Pada 2026, rasio tersebut turun menjadi 2,8.
Laporan yang sama memperkirakan rasio itu kembali turun menjadi 2,2 pada 2035.
Angka tersebut menggambarkan semakin kecilnya kelompok penduduk usia produktif secara relatif terhadap kelompok lansia.
Dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor, mulai dari kebutuhan tenaga kerja hingga dukungan sosial dan layanan bagi warga lanjut usia.
Namun, Singapura masih memiliki faktor demografi lain yang ikut memengaruhi komposisi penduduk. Laporan tersebut mencatat adanya tambahan penduduk usia muda, termasuk melalui arus imigrasi yang dikelola.
Dengan demikian, persoalan penuaan penduduk tidak berdiri sendiri. Pemerintah harus menghadapi perubahan usia penduduk sekaligus menjaga keseimbangan tenaga kerja.
Populasi Singapura Tetap Bertambah
Di tengah penuaan penduduk, jumlah penduduk Singapura justru masih mengalami pertumbuhan.
Total populasi mencapai 6,21 juta jiwa pada Juni 2026, naik 1,6 persen dibandingkan Juni 2025. Pertumbuhan terutama berasal dari peningkatan jumlah penduduk nonresiden.
Jumlah warga negara naik 0,7 persen menjadi 3,68 juta. Sementara itu, jumlah penduduk tetap berada di kisaran 550.000 orang.
Penduduk nonresiden meningkat 3,7 persen menjadi 1,98 juta. Kenaikan tersebut turut dipengaruhi pertumbuhan pekerja asing, terutama pemegang izin kerja.
Kondisi ini membuat perubahan demografi Singapura memiliki karakter yang cukup kompleks. Negara tersebut semakin tua, tetapi jumlah penduduk secara keseluruhan tetap bertambah.
Imigrasi menjadi salah satu faktor yang membantu mengimbangi dampak penuaan dan rendahnya kelahiran terhadap populasi warga negara.
Kelahiran Turun, Usia Menikah Meningkat
Di sisi lain, jumlah kelahiran terus memberikan tekanan berbeda terhadap struktur penduduk.
Pada 2025, Singapura mencatat 26.071 kelahiran warga negara, turun 10,8 persen dari 29.237 kelahiran pada 2024. Angka fertilitas penduduk juga turun menjadi 0,87.
Jumlah pernikahan warga negara ikut menurun. Pada 2025 tercatat 21.671 pernikahan, dibandingkan 22.955 pada tahun sebelumnya.
Selain jumlah pernikahan yang turun, usia menikah pertama juga semakin tinggi. Median usia pernikahan pertama pada 2025 mencapai 30,8 tahun untuk laki-laki dan 29,1 tahun untuk perempuan.
Median usia perempuan saat melahirkan anak pertama juga meningkat. Pada 2015, angkanya 30,3 tahun. Sepuluh tahun kemudian, angka tersebut mencapai 31,9 tahun.
Rangkaian data itu memberikan konteks penting terhadap penuaan populasi Singapura. Ketika jumlah lansia bertambah dan kelahiran menurun, struktur usia penduduk ikut bergeser.
Singapura Memasuki Babak Demografi Baru
Menurut laporan CNA, Singapura kini menghadapi beberapa perubahan demografi secara bersamaan. Proporsi lansia meningkat, kelompok usia 80 tahun ke atas bertambah, kelahiran menurun, sementara rasio penduduk usia produktif terhadap lansia terus menyempit.
Namun, total populasi belum menyusut. Pertumbuhan penduduk nonresiden dan arus imigrasi turut membentuk dinamika tersebut.
Karena itu, tantangan Singapura ke depan bukan hanya menyediakan dukungan bagi semakin banyak warga lanjut usia. Negara tersebut juga perlu menjaga keberlanjutan tenaga kerja, menyesuaikan layanan sosial dan kesehatan, serta merespons perubahan pola keluarga dan kelahiran.
Perubahan itu pada akhirnya akan memengaruhi kehidupan sehari-hari, mulai dari dunia kerja hingga kebutuhan layanan publik.
Singapura telah memasuki era super-lansia. Angka 21,4 persen bukan sekadar statistik demografi; angka itu menandai perubahan wajah sebuah negara—lebih banyak warga hidup hingga usia lanjut, lebih sedikit anak lahir, dan semakin kecil jarak antara generasi produktif dengan lansia. (Red)
- Penulis: redaktur






