Kabut Asap Singapura, Seluruh Wilayah Masuk Kategori Tidak Sehat
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

Malam berkabut asap di Suntec City, Singapura, Selasa (15/9/2026).(Foto: Justanothersgwikieditor/Wikimedia Commons).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kabut asap kembali menyelimuti Singapura pada Selasa, 15 September 2026. Kondisi kualitas udara memburuk hingga seluruh lima wilayah di negara kota itu masuk kategori tidak sehat.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena kondisi serupa terakhir kali terjadi pada September 2019, atau sekitar tujuh tahun lalu.
Menurut laporan CNA, indeks kualitas udara atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah Central mencapai 154 pada pukul 06.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Berdasarkan skala PSI Singapura, rentang 101–200 masuk kategori unhealthy atau tidak sehat. Sementara itu, kondisi sangat tidak sehat berada pada rentang 201–300.
Kabut asap kali ini juga tidak hanya menjadi persoalan Singapura. Sejumlah wilayah di Malaysia mengalami penurunan kualitas udara, di tengah kondisi kering dan kebakaran hutan serta lahan di kawasan Asia Tenggara.
PSI Singapura Capai 154 pada Pagi Hari
Pada Selasa pagi, seluruh lima wilayah Singapura tercatat mengalami kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat.
Wilayah Central menjadi kawasan dengan PSI tertinggi. Pada pukul 06.00, PSI 24 jam di wilayah tersebut mencapai 154.
Sementara itu, North menjadi wilayah terakhir yang masuk kategori tidak sehat. Pada waktu yang sama, PSI di kawasan tersebut tercatat 104.
Kondisi mulai membaik pada sore hari. Pada pukul 17.00, PSI di Central tercatat 133, West 116, East 114, South 94, dan North 92.
Meski beberapa wilayah telah turun dari kategori tidak sehat, perkembangan kualitas udara tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan arah angin.
Asap dari Kalimantan Terbawa Angin
National Environment Agency (NEA) Singapura menyatakan asap dengan intensitas sedang hingga berat dari Kalimantan terbawa menuju Singapura setelah terjadi perubahan arah angin.
Sebagian kabut asap juga disebut berasal dari wilayah selatan Sumatra.
Menurut NEA, kondisi kering diperkirakan masih berlangsung. Angin dari arah tenggara hingga timur-tenggara berpotensi terus membawa asap menuju Singapura apabila kebakaran di wilayah sumber masih terjadi.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap merupakan persoalan yang dapat melintasi batas negara. Konsentrasi polutan di satu wilayah dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah lain ketika kondisi angin mendukung.
Karena itu, perubahan angka PSI tidak hanya ditentukan oleh kondisi lokal Singapura. Faktor cuaca, arah angin, serta kondisi kebakaran di kawasan sekitar turut berpengaruh.
Malaysia Juga Terdampak Kabut Asap
Penurunan kualitas udara juga terjadi di Malaysia.
CNA melaporkan sebanyak 38 wilayah di Malaysia berada dalam kategori tidak sehat pada Selasa pagi.
Serian, Sarawak, mencatat indeks kualitas udara 188. Johan Setia berada pada angka 183. Sementara itu, sejumlah wilayah di Johor juga mencatat angka tinggi, antara lain Pasir Gudang 172, Larkin 169, dan Tangkak 166.
Beberapa wilayah lain seperti Cheras, Shah Alam, Putrajaya, dan Nilai juga mengalami kualitas udara yang tidak sehat.
Sarawak termasuk wilayah yang cukup terdampak. Wilayah tersebut berada di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Indonesia.
Kondisi ini kembali memperlihatkan bagaimana kebakaran hutan dan lahan dapat berkembang menjadi persoalan regional ketika asap terbawa angin melintasi wilayah negara.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Kualitas udara pada kategori tidak sehat perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap paparan polusi.
NEA sebelumnya menyarankan lansia, ibu hamil, dan anak-anak untuk mengurangi aktivitas luar ruangan yang berkepanjangan atau berat ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung kronis juga perlu mengambil langkah pencegahan lebih ketat.
Bagi masyarakat umum, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara berada pada level tidak sehat.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat harus panik. Informasi PSI justru dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi kualitas udara.
Tujuh Tahun Kemudian, Kabut Asap Kembali Menjadi Perhatian
Kembalinya seluruh wilayah Singapura ke kategori tidak sehat setelah sekitar tujuh tahun menjadi pengingat bahwa persoalan kabut asap regional belum sepenuhnya berakhir.
Kondisi kering, kebakaran hutan dan lahan, serta perubahan arah angin dapat membentuk rangkaian persoalan yang dampaknya dirasakan lebih dari satu negara.
Karena itu, kabut asap tidak cukup dilihat hanya melalui angka PSI di Singapura atau Malaysia. Kondisi di wilayah sumber asap dan perkembangan cuaca juga penting untuk memahami bagaimana situasi dapat berubah.
Bagi Singapura, PSI 154 pada pagi hari menjadi peringatan atas memburuknya kualitas udara. Bagi kawasan Asia Tenggara, peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta penanganan asap sejak dari sumbernya.
Kabut asap dapat bergerak mengikuti arah angin. Namun, persoalannya tidak ikut hilang ketika angin berubah. Selama kebakaran masih terjadi, udara bersih tetap menjadi kepentingan bersama negara-negara Asia Tenggara. (Red)
- Penulis: redaktur






