Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Hari Tani 2026: Pertanian Pangandaran Tumbuh 10,44 Persen, Ini Data Terbarunya

Hari Tani 2026: Pertanian Pangandaran Tumbuh 10,44 Persen, Ini Data Terbarunya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Pertanian Pangandaran mencatat pertumbuhan 10,44 persen pada 2025. Angka tersebut menunjukkan penguatan kinerja kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam struktur ekonomi daerah.

Namun, ada angka lain yang layak diperhatikan. Dari total 18.065,28 hektare lahan sawah di Kabupaten Pangandaran, sebanyak 10.749,01 hektare masih berupa sawah tadah hujan.

Artinya, sekitar 59,5 persen lahan sawah Pangandaran masih bergantung pada kondisi hujan. Kontras angka tersebut menjadi catatan penting ketika pertumbuhan pertanian dibicarakan dalam momentum Hari Tani Nasional 2026.

Pertumbuhan ekonomi memang menjadi kabar positif. Tetapi pertanyaan berikutnya lebih jauh: seberapa kuat pertumbuhan itu dapat dipertahankan jika sebagian besar lahan sawah masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap faktor musim?

Data BPS tidak menyatakan bahwa sawah tadah hujan menjadi penyebab atau penghambat pertumbuhan 10,44 persen. Karena itu, kedua angka tersebut tidak bisa dipaksakan menjadi hubungan sebab-akibat.

Justru di situlah persoalannya menarik untuk dibaca.

Pertumbuhan Pertanian Melonjak, Kontribusi Capai 26,97 Persen

Data BPS menunjukkan kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh 10,44 persen pada 2025.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Pada 2024, kategori yang sama tumbuh 3,37 persen, setelah pada 2023 tercatat tumbuh 1,38 persen.

Dengan demikian, pertumbuhan kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan meningkat 7,07 poin persentase pada 2025 dibandingkan 2024.

Bersamaan dengan itu, kontribusi kategori tersebut terhadap PDRB Kabupaten Pangandaran mencapai 26,97 persen.

Nilai PDRB atas dasar harga berlaku dari kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencapai sekitar Rp4,519 triliun.

Posisi itu menjadikan pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai bagian sangat penting dalam perekonomian Pangandaran.

Namun, angka 10,44 persen perlu ditempatkan secara tepat.

Pertumbuhan tersebut merupakan pertumbuhan kategori ekonomi dalam PDRB, bukan berarti produksi padi atau seluruh komoditas pertanian Pangandaran meningkat 10,44 persen.

Perbedaan itu penting agar angka ekonomi tidak dibaca sebagai ukuran tunggal keberhasilan seluruh aktivitas pertanian di lapangan.

Di Balik Angka Pertumbuhan, Ada 10.749 Hektare Sawah Tadah Hujan

Persoalan berikutnya muncul ketika data pertumbuhan ekonomi dibaca berdampingan dengan data lahan.

Kabupaten Pangandaran Dalam Angka 2026 mencatat luas sawah Pangandaran pada 2025 mencapai 18.065,28 hektare.

Dari jumlah tersebut, 10.749,01 hektare merupakan sawah tadah hujan.

Sementara itu, luas sawah irigasi mencapai 6.688,37 hektare. Sisanya masuk kategori sawah lainnya.

Dengan total tersebut, sawah tadah hujan mencakup sekitar 59,5 persen dari keseluruhan lahan sawah.

Angka ini tidak otomatis berarti produktivitas lahan tadah hujan rendah. Sawah tadah hujan tetap dapat menghasilkan produksi pertanian.

Namun, karakter lahannya menunjukkan bahwa ketersediaan air dari hujan menjadi faktor yang penting dalam kegiatan budidaya.

Karena itu, ketika sektor pertanian Pangandaran tumbuh 10,44 persen, persoalan ketahanan air menjadi salah satu aspek yang layak ikut diperhatikan.

Bukan karena data BPS menyatakan adanya masalah, melainkan karena struktur lahan tersebut memang menunjukkan besarnya porsi sawah yang berada pada sistem tadah hujan.

D'Arrian Collections

Pertanyaan Besarnya Bukan Sekadar Pertumbuhan

Pertumbuhan 10,44 persen tentu penting. Tetapi angka pertumbuhan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran ketika membicarakan masa depan pertanian Pangandaran.

Ada persoalan yang lebih mendasar: apakah pertumbuhan ekonomi sektor tersebut dapat dipertahankan secara konsisten dari tahun ke tahun?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya melalui angka PDRB.

Diperlukan data lain mengenai produksi komoditas, produktivitas per hektare, kondisi irigasi, pola tanam, biaya produksi, serta dampak kondisi cuaca terhadap masing-masing subsektor.

Data yang tersedia saat ini baru menunjukkan dua fakta penting.

Pertama, kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tinggi pada 2025.

Kedua, sebagian besar lahan sawah Pangandaran masih merupakan sawah tadah hujan.

Kedua fakta tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa pertumbuhan pertanian Pangandaran tidak berkelanjutan. Namun, keduanya cukup untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan ketahanan basis produksi perlu dibaca secara bersamaan.

Hari Tani 2026: Jangan Berhenti pada Angka 10,44 Persen

Momentum Hari Tani Nasional 2026 memberi ruang untuk melihat pertanian Pangandaran secara lebih utuh.

Ada angka 10,44 persen yang menunjukkan pertumbuhan kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

Ada pula kontribusi 26,97 persen terhadap PDRB daerah dan nilai ekonomi sekitar Rp4,519 triliun.

Tetapi terdapat pula 10.749,01 hektare sawah tadah hujan dari total 18.065,28 hektare lahan sawah.

Rangkaian angka itu tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa pertanian Pangandaran sedang bermasalah. Data yang tersedia belum mengatakan demikian.

Sebaliknya, data tersebut memberikan alasan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih substantif mengenai fondasi pertumbuhan pertanian daerah.

Sebab, pertanian bukan hanya perkara seberapa besar kontribusinya terhadap PDRB.

Di lapangan, pertanian juga bergantung pada lahan, air, musim, produktivitas, biaya produksi, dan kemampuan petani mempertahankan usaha taninya.

Pangandaran punya angka pertanian yang tumbuh 10,44 persen. Namun, angka itu seharusnya menjadi awal pertanyaan, bukan akhir pembahasan. Sebab, ketika 10.749,01 hektare sawah masih menunggu air dari langit, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat pertanian tumbuh—melainkan memastikan pertumbuhan itu punya fondasi yang cukup kuat untuk bertahan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less