Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » RKT dan RKAS Sekolah Jangan Asal, Mulai dari Kesenjangan Mutu

RKT dan RKAS Sekolah Jangan Asal, Mulai dari Kesenjangan Mutu

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
  • visibility 38
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sekolah jangan buru-buru membuat program. RKT RKAS sekolah seharusnya berangkat dari kesenjangan mutu yang benar-benar ditemukan di satuan pendidikan, lalu diterjemahkan menjadi strategi, target, dukungan anggaran, dan aksi nyata.

Pesan tersebut disampaikan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis melalui materi tentang Perencanaan dan Pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Satuan Pendidikan.

Dalam pendekatan itu, mutu pendidikan tidak berhenti pada dokumen perencanaan. Setelah sekolah menemukan persoalan, langkah berikutnya ialah menyusun perbaikan yang tepat, memasukkannya ke dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), kemudian memastikan program berjalan dan memberi dampak bagi peserta didik.

Dengan demikian, RKT dan RKAS sekolah bukan sekadar dokumen administratif. Keduanya harus menjadi alat untuk menjawab persoalan yang memang terjadi di sekolah.

Pemetaan Mutu Menjadi Titik Awal

Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis menekankan pentingnya memetakan kondisi riil sekolah sebelum menentukan program.

Hasil pemetaan dapat membantu sekolah menemukan persoalan yang perlu diprioritaskan. Dalam materi yang disampaikan, kemampuan literasi siswa menjadi salah satu contoh.

Misalnya, hasil Rapor Pendidikan menunjukkan kemampuan literasi masih perlu ditingkatkan. Sekolah kemudian menganalisis penyebabnya dan menemukan beberapa persoalan, seperti kebiasaan membaca yang belum terbentuk, pemanfaatan bahan bacaan yang belum optimal, serta strategi pembelajaran yang belum banyak melatih kemampuan literasi.

Dari sini terlihat bahwa program seharusnya tidak muncul tanpa dasar.

Sekolah perlu mengetahui lebih dahulu apa masalahnya, mengapa masalah itu terjadi, dan perubahan apa yang ingin dicapai.

Pendekatan tersebut membuat perencanaan mutu sekolah lebih terarah. Sebaliknya, jika sekolah langsung memilih program tanpa memahami persoalan, anggaran berisiko tidak menyentuh kebutuhan utama peserta didik.

D’Arrian Shop

Strategi Perbaikan Harus Sesuai Akar Masalah

Setelah menemukan kesenjangan mutu, sekolah menyusun strategi berdasarkan akar persoalan.

Dalam contoh literasi, strategi dapat diarahkan pada pembangunan budaya membaca dan penguatan kemampuan memahami bacaan. Selanjutnya, sekolah menentukan target yang realistis sesuai kondisi masing-masing satuan pendidikan.

Program yang dipilih pun tidak harus rumit.

Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis memberikan contoh berupa pembiasaan membaca sebelum pembelajaran, penguatan pojok baca atau perpustakaan, serta penggunaan strategi pembelajaran berbasis literasi.

Namun, contoh tersebut bukan formula yang wajib diterapkan semua sekolah.

Setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, program harus mengikuti hasil pemetaan, bukan sekadar meniru sekolah lain.

Di sinilah SPMI sekolah memiliki peran penting. Prosesnya dimulai dari pemetaan, kemudian berlanjut ke perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan perbaikan.

RKT dan RKAS Harus Saling Terhubung

Setelah strategi ditentukan, sekolah perlu menuangkannya ke dalam RKT dan RKAS.

RKT berfungsi menerjemahkan masalah dan strategi ke dalam program serta target yang ingin dicapai. Sementara itu, RKAS menyiapkan dukungan anggaran agar program tersebut dapat dijalankan sesuai ketentuan.

Hubungan keduanya harus jelas.

Jika sekolah menetapkan penguatan literasi sebagai prioritas, misalnya, RKT perlu memuat program yang relevan. Setelah itu, RKAS harus mendukung pelaksanaan program tersebut melalui kebutuhan anggaran yang memang diperlukan.

Artinya, RKT RKAS sekolah harus saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Perencanaan juga perlu memperhatikan kemampuan sekolah dan aturan penggunaan anggaran. Dengan begitu, program yang dirancang tidak hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi realistis untuk dilaksanakan.

Dokumen Lengkap Belum Tentu Mengubah Mutu

Di sinilah bagian paling penting dari siklus penjaminan mutu.

Sekolah bisa saja memiliki RKT yang rapi dan RKAS yang lengkap. Namun, dokumen tersebut belum otomatis menghasilkan perubahan apabila program tidak dijalankan secara konsisten.

Karena itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis menekankan tahap pelaksanaan dalam aksi nyata.

Dalam contoh literasi, sekolah dapat membangun kebiasaan membaca sebelum pelajaran, memperkuat pojok baca atau perpustakaan, serta mendorong guru menggunakan strategi pembelajaran yang mendukung literasi.

Setelah itu, sekolah perlu memantau pelaksanaannya.

Pertanyaannya bukan hanya apakah program sudah terlaksana. Sekolah juga perlu melihat apakah kebiasaan membaca siswa berkembang, apakah pembelajaran berubah, dan apakah target yang ditetapkan mulai tercapai.

Jika hasil belum sesuai harapan, sekolah dapat memperbaiki strategi pada siklus berikutnya.

Kejujuran Menentukan Ketepatan Perencanaan

Hal yang disampaikan dalam materi Disdik Ciamis menekankan bahwa siklus penjaminan mutu harus dimulai dengan kesadaran untuk memetakan kondisi riil sekolah secara jujur.

Pesan tersebut disampaikan Ely Mulyaningsih, M.Pd., Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Bidang SD.

Poin ini layak mendapat perhatian.

Sekolah tidak akan mudah menemukan solusi yang tepat apabila masalah yang dihadapi tidak terlihat secara terbuka. Sebaliknya, pemetaan yang jujur memberi dasar bagi sekolah untuk memilih prioritas secara lebih masuk akal.

Karena itu, Rapor Pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi dokumen yang dibaca ketika diperlukan. Hasilnya perlu digunakan untuk menentukan masalah, menyusun strategi, lalu mengarahkan program dan anggaran.

Dari Rencana ke Dampak

Pada akhirnya, keberhasilan RKT dan RKAS sekolah tidak ditentukan oleh seberapa tebal dokumennya.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah rencana dijalankan.

Jika masalahnya literasi, maka sekolah perlu melihat perkembangan kemampuan membaca dan memahami bacaan. Jika sekolah memperbaiki strategi pembelajaran, dampaknya juga perlu dipantau.

Dengan pola tersebut, SPMI membentuk satu siklus yang utuh: masalah dipetakan, strategi disusun, anggaran disiapkan, program dilaksanakan, lalu hasilnya dievaluasi.

Di titik itu, perencanaan sekolah tidak lagi berhenti sebagai kewajiban administratif.

Ia menjadi alat untuk mengarahkan sumber daya kepada masalah yang paling membutuhkan penyelesaian.

Tantangan Terbesar Ada di Pelaksanaan

Materi Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis memberikan alur yang sederhana, tetapi pelaksanaannya membutuhkan konsistensi.

Sekolah harus berani menentukan prioritas. Guru perlu menjalankan strategi yang telah disusun. Pimpinan sekolah harus melakukan pemantauan. Setelah itu, evaluasi perlu digunakan untuk memperbaiki langkah berikutnya.

Artinya, sekolah tidak harus memiliki sebanyak mungkin program.

Yang dibutuhkan adalah program yang tepat sasaran, anggaran yang mendukung, pelaksanaan yang konsisten, dan hasil yang dapat dilihat.

RKT dan RKAS bukan sekadar tumpukan dokumen di meja kepala sekolah. Nilainya baru benar-benar terlihat ketika masalah dipetakan dengan jujur, anggaran diarahkan dengan tepat, guru bergerak di kelas, dan siswa merasakan perubahan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less