174 Bencana di Tasikmalaya, Longsor Jadi Ancaman Paling Dominan
- account_circle redaktur
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi personil BPBD Kabupaten Tasikmalaya di lapangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com | BERITA DAERAH — Data terbaru SIRENA BPBD Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa risiko bencana Tasikmalaya masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Hingga 10 September 2026, tercatat 174 kejadian bencana dalam kategori data BPBD sejak Januari 2026.
Angka tersebut bukan jumlah kejadian dalam satu hari. Data itu merupakan akumulasi sejak awal tahun hingga 10 September 2026. Dari jumlah tersebut, tanah longsor menjadi kategori paling banyak dengan 89 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 49 kejadian.
Dengan demikian, perhatian terhadap risiko bencana di Kabupaten Tasikmalaya tidak cukup hanya dilakukan ketika hujan turun atau ketika bencana sudah terjadi. Data tersebut juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi sejak sebelum kejadian.
174 Kejadian Bencana Sejak Januari
Rincian SIRENA BPBD Kabupaten Tasikmalaya memperlihatkan komposisi kejadian yang cukup beragam.
Dari 174 kejadian tersebut, tercatat:
- 89 tanah longsor
- 49 cuaca ekstrem
- 18 kebakaran lahan
- 8 banjir
- 6 gerakan tanah
Tanah longsor menyumbang sekitar 51 persen dari seluruh kejadian dalam kategori tersebut. Sementara longsor dan cuaca ekstrem jika digabungkan mencapai sekitar 79 persen.
Angka ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pola risiko bencana Tasikmalaya sepanjang periode tersebut.
Namun, data tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebab setiap kejadian. Karena itu, angka statistik perlu dibaca sebagai dasar untuk melihat pola risiko, bukan sebagai bukti tunggal mengenai penyebab maupun keberhasilan atau kegagalan penanganan bencana.
Longsor Menjadi Catatan Terbesar
Dari seluruh kategori yang dicatat BPBD, 89 kejadian tanah longsor menjadi angka paling menonjol.
Bagi wilayah yang memiliki kawasan dengan kondisi geografis rawan longsor, angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan. Setiap kejadian dapat membawa konsekuensi berbeda, mulai dari akses jalan terganggu hingga kerusakan rumah, lahan, fasilitas umum, maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, persoalan longsor seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat petugas datang setelah material menutup jalan.
Pertanyaan yang lebih jauh adalah: seberapa kuat sistem pencegahan bekerja sebelum longsor terjadi?
Pemetaan titik rawan, penyebaran informasi peringatan dini, kesiapan masyarakat, pengawasan kawasan rawan, hingga respons pemerintah desa menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Cuaca Ekstrem Juga Mendominasi
Setelah longsor, cuaca ekstrem dengan 49 kejadian menjadi kategori terbesar kedua.
Jika dua kategori tersebut digabungkan, jumlahnya mencapai 138 kejadian atau sekitar 79 persen dari 174 kejadian yang dicatat dalam data BPBD.
Artinya, sebagian besar kejadian dalam dataset tersebut berkaitan dengan fenomena yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan.
Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan.
Prakiraan cuaca pada 10 September bukanlah data penyebab dari 89 longsor tersebut.
Laporan harian SIRENA pada 10 September mencatat kondisi cuaca berawan dengan potensi hujan ringan pada siang hingga sore hari. Informasi itu merupakan gambaran kondisi/prakiraan pada hari tersebut, sementara 89 longsor merupakan akumulasi kejadian sejak Januari hingga 10 September.
Pemisahan konteks tersebut penting agar pembaca tidak keliru membaca data.
Kerugian Mencapai Miliaran Rupiah
SIRENA BPBD juga mencatat taksiran kerugian sekitar Rp2,448 miliar untuk kategori data bencana tersebut.
Di sisi lain, SIRENA menampilkan cakupan laporan yang lebih luas dengan melibatkan data BPBD dan Damkar. Dalam cakupan tersebut terdapat 459 laporan kejadian dengan taksiran kerugian sekitar Rp6,302 miliar.
Kedua angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai satu dataset yang sama. Perbedaan cakupan perlu dijelaskan agar pembaca tidak menyimpulkan bahwa Rp6,302 miliar merupakan kerugian dari 174 kejadian bencana saja.
Bagi pemerintah daerah, perbedaan data seperti ini juga menunjukkan pentingnya integrasi dan konsistensi informasi kebencanaan. Data bukan hanya dibutuhkan untuk laporan, tetapi menjadi dasar menentukan prioritas mitigasi dan penggunaan sumber daya.
Pertanyaan Besarnya: Seberapa Siap Tasikmalaya?
Di sinilah angka 174 kejadian seharusnya tidak berhenti sebagai infografis.
Data bencana Tasikmalaya memperlihatkan bahwa kejadian dapat muncul berulang dengan karakter yang berbeda. Karena itu, ukuran kesiapsiagaan tidak semata-mata terletak pada kemampuan menangani keadaan darurat.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar.
Apakah warga di kawasan rawan mengetahui risiko wilayahnya? Apakah informasi peringatan dini benar-benar sampai kepada masyarakat? Apakah jalur evakuasi tersedia dan diketahui? Apakah infrastruktur di kawasan rawan telah mendapatkan perhatian yang memadai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena penanggulangan bencana idealnya tidak dimulai ketika tanah sudah bergerak atau air sudah memasuki rumah.
Dokumen kinerja BPBD Kabupaten Tasikmalaya juga menempatkan kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana sebagai bagian penting dalam menghadapi wilayah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana.
Dengan kata lain, data kejadian seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan.
Bencana Tidak Mengenal Kalender
Data hingga 10 September bukan ramalan mengenai apa yang akan terjadi setelah tanggal tersebut. Namun, angka tersebut memberikan satu sinyal yang sulit diabaikan: risiko bencana merupakan persoalan yang harus dihadapi secara berkelanjutan.
Hujan hari ini belum tentu menimbulkan longsor. Sebaliknya, kondisi yang terlihat biasa juga tidak otomatis berarti seluruh wilayah aman.
Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi kebencanaan dan cuaca, terutama ketika berada atau beraktivitas di kawasan yang memiliki potensi longsor, banjir, maupun dampak cuaca ekstrem.
Sementara bagi pemerintah daerah, data 174 kejadian dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat kembali titik rawan, kesiapan masyarakat, infrastruktur, sistem peringatan dini, serta efektivitas mitigasi.
Pada akhirnya, 174 kejadian bukan sekadar angka dalam dashboard. Angka itu adalah catatan tentang risiko yang sudah terjadi. Tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana Tasikmalaya bergerak cepat setelah bencana datang, tetapi bagaimana risiko tersebut dapat dikurangi sebelum menjadi korban, kerusakan, dan kerugian berikutnya. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar