Brigif 13 Tasikmalaya Bagikan 1.000 Paket Sembako
- account_circle redaktur
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Brigif 13 Tasikmalaya menyalurkan 1.000 paket sembako dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi PKL dan UMKM di Dadaha, Rabu (9/9/2026).(Dok. Brigif 13/Galuh Rahayu).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Brigif 13 Tasikmalaya menyalurkan 1.000 paket bantuan sosial kepada pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM di kawasan Dadaha, Kota Tasikmalaya. Selain sembako, warga juga mendapat layanan pemeriksaan kesehatan gratis dalam kegiatan yang berlangsung di halaman GOR Sukapura Dadaha, Kota Tasikmalaya, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-77 Brigif 13/Galuh Rahayu yang akan diperingati pada 11 September 2026. Dikutip dari Brigif 13/Galuh Rahayu, bakti sosial itu menjadi salah satu bentuk kepedulian satuan kepada masyarakat sekaligus wujud syukur menjelang hari jadi.
Bantuan tersebut datang ketika aktivitas ekonomi di kawasan Dadaha masih menghadapi tantangan. Karena itu, penyaluran sembako dan pemeriksaan kesehatan tidak hanya menjadi agenda seremonial HUT, tetapi juga menyentuh kebutuhan warga yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan.
1.000 Paket Sembako Menyasar PKL dan UMKM Dadaha
Komandan Brigif 13/Galuh Rahayu/1 Kostrad, Kolonel Inf Roihan Hidayatullah, S.Sos., M.Tr.(Han), hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur Muspida.
Sebanyak 1.000 paket bantuan sosial disalurkan kepada penerima. Pada kesempatan yang sama, Brigif 13 juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Bagi PKL dan pelaku UMKM, bantuan kebutuhan pokok memiliki arti tersendiri. Penghasilan mereka bergantung pada aktivitas harian. Ketika kondisi kawasan perdagangan berubah atau jumlah pembeli berkurang, tekanan ekonomi pun dapat terasa langsung.
Karena itu, kegiatan sosial di Dadaha memiliki konteks yang lebih luas. Bantuan memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pendapatan pedagang. Namun, bantuan tersebut dapat menjadi bentuk perhatian sekaligus jembatan komunikasi antara institusi negara dan masyarakat.
Komandan Brigif 13/Galuh Rahayu/1 Kostrad mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-77 Brigif 13/Galuh Rahayu.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian HUT Brigif 13 Galuh Rahayu ke-77 yang jatuh pada tanggal 11 September.”
Ia menjelaskan, kegiatan tidak hanya berupa pembagian paket sembako. Pemeriksaan kesehatan gratis juga digelar sebagai bagian dari kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat.
Bukan Sekadar Sembako, Ada Pemeriksaan Kesehatan
Pilihan menghadirkan layanan kesehatan gratis membuat kegiatan tersebut memiliki sasaran yang lebih beragam.
Masyarakat yang datang tidak hanya menerima bantuan kebutuhan pokok. Mereka juga memperoleh kesempatan memeriksa kondisi kesehatan tanpa biaya.
Langkah tersebut relevan bagi masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi padat. Pedagang, misalnya, dapat menghabiskan banyak waktu di tempat usaha sehingga perhatian terhadap pemeriksaan kesehatan rutin terkadang terabaikan.
Namun, manfaat kegiatan sosial akan semakin terasa jika kepedulian semacam ini tidak berhenti pada satu momentum. Bantuan dapat menjadi respons jangka pendek, sedangkan layanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat membutuhkan kesinambungan.
Di titik inilah peringatan HUT satuan memiliki peluang untuk meninggalkan dampak yang lebih panjang. Bukan hanya melalui jumlah paket yang disalurkan, melainkan melalui program yang terus berjalan setelah acara selesai.
Dari 1.000 Paket ke Rencana 1.000 Pohon
Menariknya, agenda Brigif 13/Galuh Rahayu tidak berhenti pada bantuan sosial.
Ke depan, Brigif 13/GR berencana bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Tasikmalaya dalam kegiatan peduli lingkungan. Program tersebut mencakup pembersihan sampah di pasar dan sungai serta penanaman 1.000 pohon.
Angka 1.000 kembali muncul, tetapi kali ini bukan dalam bentuk paket bantuan. Jika 1.000 sembako ditujukan untuk membantu kebutuhan masyarakat, 1.000 pohon diarahkan untuk memberikan manfaat lingkungan dalam jangka lebih panjang.
Rencana tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan sosial dan lingkungan sebenarnya saling berkaitan. Pasar membutuhkan pengelolaan sampah yang baik. Sungai membutuhkan perhatian. Sementara itu, ruang hijau membutuhkan perawatan dan penambahan vegetasi.
Karena itu, kerja sama antara Brigif 13 dan pemerintah daerah menjadi bagian yang menarik untuk ditunggu. Sebab, membersihkan pasar dan sungai tidak cukup dilakukan sekali. Demikian pula, menanam pohon hanyalah langkah awal sebelum memastikan pohon tersebut tumbuh dan terawat.
Ukuran Keberhasilan Ada Setelah Acara
Peringatan HUT ke-77 Brigif 13/Galuh Rahayu memang menjadi momentum kegiatan sosial. Namun, ukuran manfaatnya tidak berhenti pada hari ketika paket bantuan dibagikan.
Seribu paket sembako selesai disalurkan dalam satu kegiatan. Pemeriksaan kesehatan juga memiliki batas waktu. Setelah itu, kehidupan masyarakat kembali berjalan seperti biasa.
Justru karena itu, keberlanjutan program menjadi bagian penting dari pesan kegiatan tersebut.
Jika rencana pembersihan pasar dan sungai benar-benar berjalan secara konsisten, manfaatnya dapat dirasakan lebih lama. Begitu pula dengan penanaman 1.000 pohon. Nilai program tidak hanya terletak pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi pada berapa banyak yang tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Pada akhirnya, kegiatan sosial akan memiliki makna lebih kuat ketika bantuan tidak berhenti sebagai simbol kepedulian. Ia perlu berkembang menjadi kerja bersama yang menjawab persoalan nyata di lapangan.
Seribu paket sembako mungkin habis dalam hitungan hari. Pemeriksaan kesehatan mungkin selesai dalam satu kegiatan. Tetapi jika 1.000 pohon benar-benar tumbuh dan pasar serta sungai menjadi lebih bersih, jejak HUT ke-77 Brigif 13 tidak berhenti pada perayaan. Ia berubah menjadi manfaat yang bisa dirasakan jauh setelah panggung acara dibongkar. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar