Salat Istisqa di Banjar, Bukan Cuma Memohon Hujan
- account_circle redaktur
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Salat Istisqa Kota Banjar (Foto:Dokpropim Kota Banjar).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Salat Istisqa Kota Banjar digelar di tengah kemarau yang masih berlangsung. Ribuan jamaah berkumpul di Lapang Bhakti Kota Banjar, Kamis (10/9/2026), untuk melaksanakan Salat Istisqa sekaligus memanjatkan doa meminta hujan.
Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada permohonan agar hujan segera turun. Di balik ibadah itu, muncul pesan yang sangat praktis: masyarakat diminta menghemat air, memperbanyak kepedulian, serta membantu tetangga yang mengalami kekurangan air bersih.
Informasi mengenai kegiatan tersebut dilansir dari akun DokproPim Kota Banjar. Hadir dalam kegiatan itu Wali Kota Banjar Ir. H. Sudarsono, Wakil Wali Kota Dr. H. Supriana, M.Pd., Forkopimda, Sekretaris Daerah, para kepala perangkat daerah, organisasi masyarakat Islam, serta jamaah yang terdiri atas pelajar, ASN, dan masyarakat.
Dengan demikian, Salat Istisqa Banjar bukan hanya cerita tentang ibadah di tengah kemarau. Ada pesan sosial yang ikut dibawa: ketika air menjadi semakin penting, masyarakat juga harus belajar menjaganya.
Salat Istisqa Kota Banjar dan Ikhtiar Menghadapi Kemarau
Wali Kota Banjar menyebut pelaksanaan Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar batiniah bersama.
Melalui salat tersebut, masyarakat memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang penuh berkah, membasahi bumi, dan mengakhiri masa kemarau.
Pada saat yang sama, Wali Kota mengajak masyarakat melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar dan taubat, meningkatkan amal saleh, serta bersedekah.
Pesan tersebut memberikan dimensi lain pada pelaksanaan Salat Istisqa Kota Banjar.
Sebab, ikhtiar menghadapi kemarau Banjar tidak hanya berkaitan dengan menunggu perubahan cuaca. Masyarakat juga dapat mengambil langkah yang berada dalam kendali masing-masing, terutama dalam menggunakan air secara bijak.
Artinya, ketika hujan belum turun, air yang masih tersedia tetap harus dijaga.
Memohon Hujan, tetapi Jangan Boros Air
Salah satu pesan Wali Kota yang paling relevan dengan kehidupan sehari-hari adalah ajakan menghemat penggunaan air.
“Bijak menggunakan air, mari kita hemat penggunaan air dan saling peduli membantu tetangga sekitar yang kekurangan air bersih,” kata Wali Kota, sebagaimana informasi yang dibagikan DokproPim Kota Banjar.
Pesan itu sederhana, tetapi penting.
Ketika kemarau Kota Banjar masih berlangsung, penggunaan air secara berlebihan dapat memperbesar tekanan pada persediaan yang tersedia. Karena itu, masyarakat dapat memulai dari hal-hal yang paling dekat: menggunakan air secukupnya, menghindari pemborosan, dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Lebih jauh, kepedulian juga tidak harus menunggu program besar.
Jika ada tetangga yang mengalami kekurangan air bersih, bantuan dari lingkungan terdekat dapat menjadi bentuk solidaritas yang nyata.
Dengan begitu, ajakan hemat air tidak berhenti sebagai slogan setelah Salat Istisqa selesai. Pesan tersebut justru dapat diterapkan setiap hari selama kemarau.
Kemarau Menguji Kepedulian, Bukan Hanya Kesabaran
Kemarau sering kali membuat perhatian masyarakat tertuju pada satu hal: kapan hujan turun?
Padahal, dampak kemarau bukan hanya persoalan cuaca. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, kekeringan Banjar perlu dibicarakan secara hati-hati berdasarkan kondisi lapangan dan data yang tersedia. Dalam materi kegiatan Salat Istisqa ini, pemerintah daerah menekankan pentingnya menghemat air serta membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan air bersih.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa persoalan air membutuhkan kepedulian bersama.
Pemerintah dapat melakukan langkah teknis sesuai kewenangannya. Masyarakat pun memiliki peran melalui penggunaan air secara bijak dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Sementara itu, Salat Istisqa menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan ikhtiar batiniah sekaligus introspeksi.
Ketiganya dapat berjalan beriringan.
Bukan Sekadar Seremoni di Lapang Bhakti
Jika hanya dilihat dari rangkaian acaranya, Salat Istisqa di Lapang Bhakti Kota Banjar memang merupakan kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak unsur masyarakat dan pemerintah.
Namun, maknanya menjadi lebih luas ketika pesan tentang air ikut ditempatkan di dalamnya.
Wali Kota tidak hanya mengajak masyarakat memohon hujan. Ia juga mengingatkan warga untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, mengoreksi diri, memperbanyak amal saleh, bersedekah, serta membantu tetangga yang kekurangan air.
Karena itu, ikhtiar menghadapi kemarau tidak harus dipahami sebagai pilihan antara doa atau tindakan.
Doa merupakan bagian dari ikhtiar batiniah. Sementara itu, menghemat air dan membantu sesama merupakan tindakan nyata yang dapat dilakukan masyarakat.
Keduanya justru dapat berjalan bersama.
Air Tidak Akan Terasa Berharga Sebelum Sulit Didapat
Pelaksanaan Salat Istisqa Kota Banjar memberikan pesan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Air sering dianggap sebagai sesuatu yang selalu tersedia. Keran dibuka, air mengalir. Kebutuhan selesai.
Namun, kemarau mengingatkan bahwa keadaan tidak selalu demikian.
Ketika persediaan mulai terbatas, nilai setiap tetes air terasa berbeda. Karena itu, masyarakat tidak perlu menunggu sampai kesulitan air datang untuk mulai menghemat.
Pesan tersebut juga relevan bagi kehidupan sosial. Jika seseorang masih memiliki persediaan air yang cukup, bukan berarti semua orang di sekitarnya berada dalam kondisi yang sama.
Maka, kepedulian terhadap air bersih Kota Banjar tidak semestinya hanya muncul ketika keadaan sudah darurat.
Justru sebelum kondisi memburuk, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana: mengurangi pemborosan, menggunakan air sesuai kebutuhan, dan membantu mereka yang membutuhkan.
Pada akhirnya, Salat Istisqa bukan hanya menghadirkan permohonan dari bumi kepada langit. Kegiatan tersebut juga membawa manusia kembali melihat cara mereka memperlakukan apa yang masih tersedia.
Hujan memang dimohon dari langit. Tetapi selama hujan belum turun, manusia punya pekerjaan di bumi: menjaga air yang tersisa, membantu tetangga yang kekurangan, dan berhenti menganggap setiap tetes sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis. (red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar