Istiqamah dalam Wirid, Karunia Allah yang Sering Tak Terlihat
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi istiqamah dalam wirid dan zikir sebagai bagian dari menjaga rutinitas ibadah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang setiap hari berzikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, atau menjalankan amalan tertentu tanpa pernah terlihat istimewa. Istiqamah dalam wirid bahkan bisa tampak seperti rutinitas biasa. Namun, menurut Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, kemampuan seorang hamba untuk terus menjaga wirid tidak layak diremehkan. Bisa jadi, justru keberlangsungan amal itulah yang menunjukkan adanya pertolongan dan karunia Allah.
Pesan tersebut terasa relevan ketika kesalehan semakin mudah diukur dari apa yang terlihat. Di zaman ketika hampir semua hal bisa menjadi tontonan, ibadah yang sunyi justru sering kehilangan panggung. Yang viral dianggap penting. Yang tidak terlihat kadang dianggap biasa.
Padahal, Al-Hikam mengajak pembacanya melihat persoalan dari arah yang berbeda.
Jangan Remehkan Orang yang Terus Menjaga Wirid
Ibnu Athaillah menulis:
إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الأَوْرَادِ، وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الإِمْدَادِ، فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ…
Hikmah tersebut mengingatkan agar seseorang tidak meremehkan hamba yang Allah tegakkan dalam awrad dan terus membantunya menjalankan amalan itu, hanya karena ia tidak melihat tanda-tanda tertentu pada dirinya.
Kalimat penutupnya bahkan sangat kuat:
فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ
“Sekiranya tidak ada warid, tidak akan ada wirid.”
Dalam penjelasan atas hikmah tersebut, awrad berkaitan dengan berbagai ibadah yang dilakukan secara rutin, sedangkan warid dijelaskan sebagai limpahan atau pertolongan yang menggerakkan hati seorang hamba menuju ibadah. Karena itu, keberlangsungan wirid tidak semestinya dianggap sebagai sesuatu yang remeh.
Pesannya bukan berarti setiap orang yang memiliki wirid otomatis mencapai kedudukan spiritual tertentu. Justru sebaliknya, Ibnu Athaillah sedang mengajarkan kehati-hatian dalam menilai keadaan batin orang lain.
Manusia hanya melihat amal yang tampak.
Allah mengetahui apa yang ada di baliknya.
Kesalehan Tidak Selalu Punya Panggung
Ada orang yang tidak pernah bercerita tentang ibadahnya. Ia tidak mengaku memiliki pengalaman spiritual luar biasa. Ia juga tidak merasa perlu mendapatkan pengakuan.
Tetapi setiap pagi ia tetap berzikir.
Setiap malam ia berusaha menjaga salat.
Ketika lalai, ia kembali.
Ketika lelah, ia mencoba lagi.
Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penonton.
Justru keadaan seperti itu membuat pesan Ibnu Athaillah semakin tajam.
Manusia sering mencari tanda-tanda keistimewaan pada diri orang lain. Padahal, kemampuan seseorang untuk bertahan dalam ketaatan juga merupakan sesuatu yang tidak boleh dianggap kecil.
Dalam konteks hikmah tersebut, Ibnu Athaillah bahkan menjelaskan bahwa orang yang menjalankan awrad tidak otomatis harus memperlihatkan tanda-tanda ‘arifin atau muhibbin sebagaimana gambaran spiritual tertentu. Setiap hamba dapat memiliki keadaan dan jalan penghambaan yang berbeda.
Maka, terlalu cepat memberikan “rapor spiritual” kepada orang lain justru berisiko membuat kita lupa mengoreksi diri sendiri.
Istiqamah dalam Wirid Sejalan dengan Pesan Nabi
Gagasan tentang konsistensi ibadah juga memiliki dasar yang kuat dalam hadis.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah RA dalam Shahih Muslim 783b. Riwayat tersebut juga menyebut bahwa Aisyah RA sendiri menjaga amal yang telah ia kerjakan secara berkelanjutan.
Dalam riwayat Muslim 783a, Aisyah RA juga menjelaskan bahwa amalan Rasulullah SAW berlangsung secara terus-menerus (dīmah), bukan sekadar memilih waktu tertentu lalu meninggalkannya.
Hadis ini tentu bukan perkataan Ibnu Athaillah. Keduanya perlu ditempatkan secara proporsional: hadis memberikan landasan mengenai keutamaan kontinuitas amal, sedangkan Ibnu Athaillah memberikan refleksi tasawuf tentang jangan meremehkan seorang hamba yang terus menjalankan wirid.
Di titik ini, keduanya bertemu pada satu pesan: konsistensi memiliki nilai yang besar.
Yang Sedikit Tetapi Bertahan Bisa Lebih Bermakna
Masalahnya, manusia sering menyukai sesuatu yang besar sejak awal.
Semangat beribadah bisa meledak pada satu waktu. Jadwal amalan dibuat panjang. Target ditulis banyak. Namun, beberapa hari kemudian semuanya berhenti.
Sebaliknya, ada orang yang memilih sedikit.
Satu halaman Al-Qur’an.
Beberapa menit berzikir.
Salat sunnah yang mampu ia pertahankan.
Sedekah yang dilakukan secara rutin.
Tidak spektakuler. Tidak selalu terlihat. Tetapi berlangsung.
Di sinilah hadis Nabi menjadi penting. Shahih Muslim menempatkan bab tentang keutamaan amal yang dilakukan secara terus-menerus dan perintah mengambil kadar ibadah yang mampu dipertahankan.
Karena itu, istiqamah bukan sekadar persoalan banyaknya amalan. Ia juga menyangkut kemampuan menjaga hubungan dengan Allah dalam jangka panjang.
Jangan Sibuk Menilai Cahaya Orang Lain
Ada ironi yang sering muncul dalam kehidupan beragama.
Seseorang baru belajar satu-dua hal tentang agama, kemudian merasa cukup untuk menilai kedalaman ibadah orang lain. Ia melihat seseorang rajin berzikir, lalu bertanya mengapa tidak tampak tanda-tanda tertentu.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang memberi kita kewenangan untuk menilai isi hati seseorang?
Ibnu Athaillah justru mengingatkan agar seseorang tidak meremehkan orang yang terus menjalankan awrad hanya karena tidak melihat tanda-tanda ‘arifin atau muhibbin pada dirinya.
Ini bukan berarti semua amalan otomatis benar. Syariat tetap menjadi ukuran. Namun, penilaian terhadap keadaan batin seseorang membutuhkan kehati-hatian.
Sebab, bisa saja amal yang tampak kecil memiliki makna besar bagi pelakunya.
Dan bisa pula amal yang terlihat besar justru menjadi ujian bagi orang yang mengerjakannya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih layak diajukan bukan:
“Seberapa saleh orang itu?”
Melainkan:
“Apakah saya sendiri masih diberi kemampuan untuk taat?”
Karunia Terbesar Kadang Datang Tanpa Tepuk Tangan
Tidak semua karunia Allah hadir dalam bentuk pengalaman spiritual yang luar biasa.
Masih memiliki keinginan membaca Al-Qur’an adalah nikmat.
Masih terdorong untuk berzikir adalah nikmat.
Masih merasa bersalah ketika meninggalkan ibadah adalah kesempatan untuk kembali.
Masih mampu mempertahankan satu amal sederhana dari hari ke hari juga bukan perkara sepele.
Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu pengalaman yang spektakuler untuk menyadari bahwa Allah sedang memberinya kesempatan berbuat baik.
Bisa jadi, kemampuan untuk terus melakukan amal sederhana justru merupakan karunia yang selama ini tidak kita sadari.
Dalil dan inti pelajaran
Pertama, Al-Hikam Ibnu Athaillah mengingatkan agar seorang hamba tidak meremehkan orang yang Allah tegakkan dalam awrad dan terus diberi pertolongan untuk menjalankannya.
Kedua, Rasulullah SAW bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim 783b.
Ketiga, Aisyah RA menggambarkan amalan Rasulullah SAW sebagai amal yang berlangsung secara kontinu.
Dari sini, pelajarannya menjadi sederhana: jangan meremehkan ibadah yang terlihat biasa hanya karena tidak menghasilkan tontonan yang luar biasa.
Kita sering mencari orang yang tampak istimewa, tetapi lupa menghargai orang yang setiap hari berusaha tetap taat.
Kita mencari karamah, padahal istiqamah saja sudah membutuhkan perjuangan.
Kita menunggu tanda-tanda spiritual yang besar, padahal masih diberi kekuatan untuk membuka mushaf, mengangkat tangan dalam doa, atau mengucapkan zikir setiap hari merupakan nikmat yang tidak patut dianggap remeh.
Maka pesan Ibnu Athaillah terasa seperti teguran yang diarahkan bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri:
Jangan buru-buru meremehkan wirid seseorang hanya karena terlihat sederhana. Bisa jadi, kemampuan untuk terus melakukannya adalah karunia Allah yang justru belum mampu kita pertahankan.
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa sering manusia melihat kita beribadah, melainkan apakah kita masih diberi kekuatan untuk terus menghadap kepada-Nya ketika tidak ada seorang pun yang melihat. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar