Mantan Atlet Nasional: Setelah Medali, Mengapa Masih Berjuang?
- account_circle redaktur
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pino Bahari saat meraih emas Asian Games tahun 1990. (Foto: X A. Ainur Rohman).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Mantan atlet nasional pernah membawa Merah Putih ke panggung internasional. Mereka meraih medali, mengangkat nama Indonesia, lalu pulang dengan kebanggaan yang sulit diukur. Namun, nasib atlet setelah pensiun tidak selalu mengikuti gemerlap prestasi. Sebagian pernah menghadapi persoalan ekonomi, sementara gagasan tentang dana pensiun atlet kini mulai masuk ke agenda kebijakan pemerintah.
Kisah Pino Bahari menjadi contoh paling aktual.
Peraih emas Asian Games Beijing 1990 itu masih aktif sebagai pelatih tinju di Bali. Pada saat yang sama, ia juga bekerja sebagai sopir taksi online untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah mengalami kecelakaan pada April 2026, Pino kembali menyuarakan harapan agar pemerintah memiliki aturan yang menjamin masa depan atlet setelah pensiun.
Kisah tersebut membuka pertanyaan yang lebih besar:
Ketika seorang atlet sudah tidak lagi berdiri di podium, siapa yang memastikan kehidupannya tetap berjalan layak?
Pino Bahari: Dari Emas Asian Games ke Perjuangan Setelah Pensiun
Nama Pino Bahari pernah menjadi bagian penting dari sejarah tinju Indonesia.
Pada Asian Games Beijing 1990, ia meraih medali emas. Kariernya kemudian membawanya tampil di Olimpiade Barcelona 1992 dan Athena 1996. Namun, perjalanan panjang sebagai atlet tidak otomatis menghadirkan jaminan kehidupan setelah karier berakhir.
Pada April 2026, Pino mengalami kecelakaan di Denpasar hingga harus menjalani operasi akibat cedera tulang rusuk dan pergelangan kaki. Setelah itu, ia mengungkap bahwa dirinya belum menerima dana pensiun atau bantuan serupa dari pemerintah.
Pino kemudian menyampaikan usulan agar pemerintah membuat regulasi mengenai dana pensiun bagi atlet berprestasi.
Ia bahkan membayangkan skema yang mempertimbangkan tingkat prestasi, mulai dari Olimpiade, Asian Games hingga SEA Games.
Gagasan tersebut bukan sekadar soal uang.
Menurut Pino, jaminan masa depan juga dapat membantu menarik minat generasi muda untuk menekuni olahraga. Jika seorang anak melihat bahwa karier atlet memiliki masa depan yang jelas, olahraga akan terasa sebagai pilihan hidup yang lebih masuk akal.
Suharto Pernah Menarik Becak, Tetapi Kisahnya Tidak Berakhir di Sana
Cerita tentang mantan atlet yang menghadapi kesulitan ekonomi sebenarnya bukan hal baru.
Pada 2011, ANTARA memberitakan Suharto, mantan pebalap sepeda nasional yang meraih emas SEA Games 1979 di Malaysia. Dua tahun sebelumnya, ia juga menyumbangkan dua medali perak untuk Indonesia pada SEA Games 1977.
Setelah berhenti dari balap sepeda pada 1981 karena tuntutan ekonomi, Suharto menjalani berbagai pekerjaan. Ia pernah menjadi kernet angkutan kota, bekerja serabutan, hingga menarik becak.
Kisah itu kemudian mendapat perkembangan penting.
Pada 2022, setelah kisah kehidupannya kembali mendapat perhatian, Suharto diangkat menjadi pegawai UPT Bapenda Gresik. Sebelumnya, ia memang bekerja sebagai tukang becak sekaligus pemulung.
Karena itu, Suharto tidak tepat dijadikan contoh bahwa seorang mantan atlet “selamanya hidup susah”.
Justru sebaliknya. Kisahnya memperlihatkan bahwa dukungan nyata dapat mengubah keadaan ketika seorang mantan atlet mendapat akses terhadap pekerjaan yang lebih layak.
Atlet Disabilitas Juga Pernah Meminta Jaminan Masa Depan
Persoalan tersebut juga pernah muncul dalam kehidupan Soeharto, mantan atlet disabilitas Indonesia.
Pada 1976, ia meraih emas lari 100 meter dalam Fespic Games. Setahun kemudian, di Australia, ia kembali meraih emas lempar lembing dan perunggu pentathlon. Prestasi tersebut membuatnya pernah membawa nama Indonesia ke panggung olahraga internasional.
Namun, pada 2018, kehidupan Soeharto berada dalam kondisi sulit. Ia pernah memenuhi kebutuhan keluarga melalui jasa pijat tunanetra. Dalam pertemuan dengan Menpora saat itu, ia bahkan menyampaikan harapan agar kesejahteraan dan pensiun mantan atlet mendapat perhatian.
Kisah Soeharto merupakan catatan sejarah, bukan gambaran kondisi kehidupannya pada 2026. Tetapi pesannya tetap relevan: karier olahraga memiliki akhir, sedangkan kebutuhan hidup tidak ikut berhenti.
Kini Pemerintah Mulai Menyiapkan Dana Pensiun Atlet
Di sinilah konteks 2026 menjadi penting.
Kritik terhadap perlindungan atlet tidak tepat jika diarahkan seolah pemerintah sama sekali tidak memiliki agenda untuk persoalan tersebut.
Pada Februari 2026, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyatakan dana pensiun atlet termasuk program yang disosialisasikan dalam agenda Kemenpora tahun ini.
Kemenpora juga pada April 2026 mengakui persoalan kesejahteraan atlet setelah cedera atau pensiun sebagai isu yang perlu mendapat perhatian. Pemerintah pada saat yang sama mendorong agar bonus prestasi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka panjang.
Selain itu, pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 12 Tahun 2026 tentang Pemberian Penghargaan Olahraga pada 11 Maret 2026. Perpres tersebut menjadi pedoman pemberian penghargaan kepada olahragawan dan pelaku olahraga yang berprestasi atau berjasa dalam memajukan olahraga.
Artinya, persoalan kesejahteraan atlet sudah masuk ke ruang kebijakan.
Tantangannya sekarang bukan sekadar membuat aturan.
Pertanyaannya adalah bagaimana kebijakan tersebut benar-benar menjangkau atlet yang membutuhkan.
Jangan Menunggu Mantan Juara Menjadi Berita Sedih
Pino Bahari memperlihatkan persoalan itu dalam bentuk yang paling aktual.
Suharto menunjukkan bahwa dukungan pekerjaan dapat mengubah kehidupan mantan atlet.
Sementara kisah Soeharto mengingatkan bahwa atlet disabilitas juga membutuhkan perhatian setelah karier mereka berakhir.
Ketiganya berasal dari generasi dan cabang olahraga berbeda. Namun, ada satu benang merah: medali tidak otomatis menjadi jaminan masa depan.
Karena itu, pembinaan olahraga seharusnya tidak berhenti ketika atlet meninggalkan arena.
Pendidikan, keterampilan kerja, perlindungan kesehatan, perencanaan keuangan, kesempatan menjadi pelatih, hingga skema pensiun dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Dengan demikian, seorang atlet tidak harus memilih antara mengejar prestasi dan memikirkan masa depannya.
Setelah Podium, Kehidupan Tetap Berjalan
Indonesia tentu membutuhkan juara.
Kita membutuhkan atlet yang mampu membuat Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya terdengar di arena internasional.
Namun, negara juga perlu memastikan bahwa perjalanan seorang atlet tidak berakhir ketika kamera berhenti merekam.
Medali adalah penghargaan atas masa lalu. Perlindungan setelah pensiun adalah penghargaan terhadap masa depan.
Pino Bahari tidak sedang meminta masyarakat mengasihaninya. Ia sedang mengingatkan bahwa seorang atlet pernah memberikan bagian terbaik dari hidupnya untuk negara.
Maka, pertanyaan Haornas tidak cukup berhenti pada:
“Berapa medali yang kita raih?”
Ada pertanyaan yang lebih penting:
“Bagaimana kita memperlakukan orang yang pernah membawa medali itu setelah ia tidak lagi mampu bertanding?”
Sebab bangsa yang hanya pandai merayakan juaranya ketika menang baru mengenal prestasi. Bangsa yang tetap menjaga kehidupan juaranya setelah pensiun baru memahami arti penghargaan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar