MUI Kelurahan Banjar Punya Pengurus Baru, Ini Pesan Wakil Wali Kota
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelantikan pengurus MUI Kelurahan Banjar dalam kegiatan Khotmil Quran 2026, Rabu (26/8/2026).(Foto: Pemkot Banjar).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – MUI Kelurahan Banjar memiliki kepengurusan baru setelah prosesi pelantikan digelar bersamaan dengan Khotmil Quran tingkat Kelurahan Banjar, Rabu (26/8/2026). Momentum tersebut sekaligus mempertemukan ratusan jamaah majelis taklim dalam kegiatan keagamaan yang berlangsung di Aula Kelurahan Banjar.
Kegiatan itu dihadiri Wakil Wali Kota Banjar, Dr. H. Supriana, M.Pd. Selain Khotmil Quran, acara tersebut menjadi ruang silaturahmi bagi jamaah pengajian dari berbagai majelis taklim se-Kelurahan Banjar.
Namun, perhatian tidak hanya tertuju pada khatam Al-Quran. Pelantikan pengurus MUI Kelurahan Banjar menjadi bagian penting karena organisasi keulamaan tersebut diharapkan dapat memperkuat pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung dalam suasana religius itu memiliki dua pesan sekaligus: memperkuat kecintaan terhadap Al-Quran dan mendorong peran ulama dalam kehidupan sosial masyarakat.
Wakil Wali Kota Soroti Peran Strategis Ulama
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Banjar menempatkan keberadaan alim ulama sebagai bagian penting dalam pembangunan masyarakat.
Menurutnya, ulama tidak hanya berperan dalam menyampaikan pengetahuan agama. Lebih dari itu, ulama memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, kepribadian, moral, dan etika umat.
Pandangan tersebut menjadi relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat. Karena itu, pembinaan keagamaan membutuhkan peran berbagai unsur, termasuk ulama, majelis taklim, pemerintah, dan masyarakat.
Wakil Wali Kota juga menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi para alim ulama di Kota Banjar dalam meningkatkan kehidupan keagamaan.
“Terima kasih atas dedikasi alim ulama Kota Banjar dalam meningkatkan sektor keagamaan di Kota Banjar,” ujar Supriana.
Ia juga mengakui bahwa dukungan Pemerintah Kota Banjar secara materi masih belum memadai. Meski begitu, ia meyakini semangat para ulama dalam membentuk karakter masyarakat tidak akan memudar.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan kehidupan keagamaan tidak semata-mata bergantung pada dukungan material. Sebaliknya, ketekunan dan konsistensi para ulama menjadi modal sosial yang penting bagi masyarakat.
Pelantikan MUI Diharapkan Bawa Energi Baru
Pelantikan MUI Kelurahan Banjar menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran organisasi keulamaan di tingkat kelurahan.
Di tingkat masyarakat, keberadaan MUI dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan tokoh agama, majelis taklim, dan unsur masyarakat dalam pembinaan umat. Karena itu, kepengurusan baru memiliki tantangan untuk menerjemahkan nilai-nilai keagamaan menjadi kegiatan yang dekat dengan kebutuhan warga.
Terlebih, kegiatan tersebut berlangsung bersamaan dengan Khotmil Quran yang diikuti ratusan jamaah. Suasana itu memperlihatkan bahwa aktivitas keagamaan masih memiliki ruang kuat dalam kehidupan masyarakat Kelurahan Banjar.
Khotmil Quran juga tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut dapat menjadi pengingat bahwa interaksi dengan Al-Quran perlu berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui pengajian, pendidikan keagamaan maupun pembinaan keluarga.
Pada titik inilah pelantikan pengurus MUI Kelurahan Banjar memiliki arti lebih luas. Organisasi tersebut diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya memperkuat syiar Islam sekaligus membangun masyarakat yang memiliki karakter dan etika.
Dari Khatam Al-Quran Menuju Pembinaan Masyarakat
Kegiatan di Aula Kelurahan Banjar memperlihatkan bagaimana sebuah agenda keagamaan dapat memiliki pesan sosial yang lebih luas.
Khatam Al-Quran menjadi simbol kecintaan terhadap kitab suci. Sementara itu, pelantikan MUI menjadi momentum kelembagaan untuk memperkuat pembinaan umat.
Keduanya bertemu pada satu kebutuhan yang sama: menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat secara nyata.
Karena itu, kepengurusan baru MUI Kelurahan Banjar tidak hanya memiliki tugas menjalankan program organisasi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga kedekatan dengan masyarakat dan menghadirkan pembinaan yang relevan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Pesan Wakil Wali Kota Banjar mengenai karakter, moral, dan etika pun menjadi pengingat bahwa pembangunan masyarakat tidak cukup hanya diukur melalui aspek fisik dan ekonomi.
Ada fondasi lain yang tidak kalah penting, yakni kualitas manusia.
Jika nilai agama tumbuh bersama pembinaan karakter, maka kegiatan keagamaan tidak berhenti pada seremoni. Ia dapat menjadi kekuatan sosial yang menjaga masyarakat tetap memiliki arah di tengah perubahan zaman.
Sebab, Al-Quran yang dikhatamkan bukan sekadar tanda berakhirnya bacaan; ia seharusnya menjadi awal dari semakin kuatnya akhlak, persaudaraan, dan kepedulian di tengah masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar