Angka Kelahiran Jabar Turun Tajam, Ini Datanya
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar angka kelahiran yang menurun di Jawa Barat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Angka kelahiran Jabar menunjukkan perubahan besar dalam rentang 1971 hingga 2020. Berdasarkan materi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat yang bersumber dari Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kelahiran total turun dari 6,34 pada 1971 menjadi 2,11 pada 2020.
Penurunan tersebut berlangsung secara bertahap dalam beberapa dekade. Data itu sekaligus memperlihatkan adanya perubahan pola keluarga di Jawa Barat selama sekitar 50 tahun.
Pada 1971, angka kelahiran total Jawa Barat tercatat 6,34. Kemudian, angkanya turun menjadi 5,07 pada 1980 dan kembali menyusut menjadi 3,47 pada 1990.
Setelah memasuki tahun 2000, angka tersebut berada di level 2,51. Selanjutnya, pada 2010 angkanya menjadi 2,43, sebelum mencapai 2,11 pada 2020.
Dengan demikian, data angka kelahiran Jawa Barat memperlihatkan pola penurunan yang konsisten dari waktu ke waktu.
Dari 6,34 Menjadi 2,11
Jika dilihat berdasarkan periode, perubahan itu cukup mencolok.
| Tahun | Angka Kelahiran Total |
|---|---|
| 1971 | 6,34 |
| 1980 | 5,07 |
| 1990 | 3,47 |
| 2000 | 2,51 |
| 2010 | 2,43 |
| 2020 | 2,11 |
Data tersebut berasal dari materi BPS Jawa Barat dalam Long Form Sensus Penduduk 2020.
Artinya, angka kelahiran total yang tercatat pada 2020 hanya sekitar sepertiga dari angka pada 1971. Namun, angka tersebut harus dibaca sesuai konteks waktunya karena data yang ditampilkan dalam sumber merupakan rangkaian hingga 2020, bukan proyeksi atau angka kelahiran Jawa Barat pada 2026.
Karena itu, menarik kesimpulan mengenai kondisi kelahiran Jabar saat ini membutuhkan data yang lebih baru.
Usia 25–29 Tahun Jadi Titik Tertinggi pada 2020
Selain memperlihatkan perubahan selama lima dekade, data BPS juga memberikan gambaran mengenai angka kelahiran menurut kelompok umur pada 2020.
Kelompok perempuan usia 25–29 tahun mencatat angka tertinggi, yakni 125,36 kelahiran per 1.000 perempuan.
Berikutnya, kelompok usia 30–34 tahun mencatat 98,21, sedangkan kelompok usia 20–24 tahun berada pada angka 94,28.
Pada kelompok usia yang lebih tua, angkanya kembali menurun. Kelompok usia 35–39 tahun mencatat 58,69, kemudian usia 40–44 tahun sebesar 18,21.
Sementara itu, kelompok usia 45–49 tahun berada pada angka 2,48.
Data tersebut menunjukkan bahwa pada 2020, puncak angka kelahiran menurut kelompok umur berada pada rentang 25–29 tahun.
Data Kelahiran Jabar dan Perubahan Pola Keluarga
BPS Jawa Barat dalam materi refleksi Maulid penduduk juga menyoroti perubahan pola keluarga selama 50 tahun terakhir.
Pada 1971, seorang perempuan disebut melahirkan sekitar 6–7 anak selama masa reproduksinya. Sementara itu, pada 2020 angkanya berada pada kisaran 2–3 anak.
Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca dinamika demografi Jawa Barat. Sebab, persoalan kelahiran tidak hanya berbicara tentang jumlah anak, tetapi juga berkaitan dengan perubahan struktur penduduk dalam jangka panjang.
Namun, data yang tersedia tidak secara langsung menjelaskan penyebab tunggal di balik penurunan tersebut. Karena itu, artikel ini tidak menyimpulkan bahwa perubahan angka kelahiran terjadi karena satu faktor tertentu.
Yang jelas, tren kelahiran Jabar dalam data BPS menunjukkan arah yang konsisten: angka kelahiran total turun dari 6,34 pada 1971 menjadi 2,11 pada 2020.
Mengapa Angka Ini Penting?
Angka tersebut penting karena demografi bekerja secara perlahan. Perubahan jumlah kelahiran dalam satu periode dapat memengaruhi komposisi penduduk pada periode berikutnya.
Karena itu, data angka kelahiran Jabar 2020 tidak semestinya hanya dibaca sebagai deretan angka statistik. Data tersebut juga menjadi gambaran mengenai bagaimana pola keluarga di Jawa Barat berubah dalam rentang waktu yang panjang.
Di sisi lain, pembaca perlu membedakan antara angka kelahiran dan jumlah bayi yang lahir dalam satu tahun. Keduanya merupakan informasi demografi yang berbeda. Dalam materi yang menjadi sumber artikel ini, angka yang ditampilkan merupakan indikator angka kelahiran menurut kelompok umur serta angka kelahiran total.
Dengan demikian, pembacaan data harus tetap mengikuti definisi dan periode yang digunakan sumber resmi.
Angka Turun, Pertanyaan Demografi Justru Makin Besar
Penurunan dari 6,34 menjadi 2,11 bukan sekadar perubahan angka dalam tabel. Ia menggambarkan perubahan besar dalam perjalanan demografi Jawa Barat.
Akan tetapi, satu hal perlu digarisbawahi: 2,11 merupakan angka pada 2020 berdasarkan sumber yang digunakan, bukan angka terbaru Jawa Barat pada 2026.
Untuk mengetahui apakah tren tersebut terus berlanjut, diperlukan pembaruan data kependudukan yang lebih mutakhir.
Di sinilah data statistik menjadi penting. Bukan untuk sekadar mengejar angka sensasional, melainkan untuk membaca perubahan masyarakat secara lebih jernih.
Lima puluh tahun mengubah angka kelahiran Jabar dari 6,34 menjadi 2,11. Angkanya memang turun, tetapi pertanyaan tentang wajah Jawa Barat di masa depan justru semakin besar. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar