Mengapa Hati Sulit Tenang? Al-Qur’an Menjawab
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang membaca Al-Qur'an di pagi hari saat sebagian orang mulai sibuk beraktivitas.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Hati tenang menjadi impian hampir setiap orang. Namun, mengapa banyak orang yang sudah memiliki rumah besar, kendaraan mewah, pekerjaan mapan, bahkan dikenal luas tetap mengaku sulit tidur dan mudah cemas? Pertanyaan itu terus mengemuka di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat. Dalam Tafsir QS Ar-Ra’d ayat 28, Al-Qur’an memberikan jawaban yang tidak bergantung pada besarnya harta atau tingginya jabatan. Ketenteraman hati lahir ketika manusia mengingat Allah.
Pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang asing. Menjelang malam, jalan-jalan kota masih dipenuhi kendaraan yang pulang dari kantor. Di dalam kereta, bus, atau ruang tunggu, banyak orang menatap layar ponsel tanpa henti. Sebagian mengecek pekerjaan yang belum selesai, sebagian lain membaca kabar terbaru, sementara yang lain sekadar menggulir media sosial. Aktivitas itu terus berulang, tetapi tidak sedikit yang mengaku tetap merasa lelah meski hari telah usai.
Di tengah suasana seperti itu, Al-Qur’an menghadirkan sebuah kalimat yang singkat, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini tidak sekadar mengajarkan zikir sebagai amalan lisan. Ia mengarahkan manusia agar menemukan kembali pusat ketenangan yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia.
Ketika Dunia Menawarkan Banyak Kenyamanan, Mengapa Hati Tetap Resah?
Kemajuan teknologi membuat banyak hal terasa lebih mudah. Belanja dapat dilakukan dari rumah. Informasi datang dalam hitungan detik. Komunikasi melintasi negara berlangsung tanpa hambatan.
Namun, kemudahan ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan ketenangan.
Banyak orang merasa harus selalu terlihat berhasil.
Mereka berlomba memperbarui pencapaian.
Mereka takut tertinggal.
Dan mereka khawatir dianggap gagal.
Tanpa disadari, ukuran kebahagiaan perlahan bergeser dari rasa syukur menuju pengakuan manusia.
Padahal, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ…
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu dan berlomba dalam kekayaan serta anak…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini tidak melarang manusia bekerja keras atau mencari rezeki. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk berikhtiar. Akan tetapi, Allah mengingatkan agar hati tidak menjadikan dunia sebagai sandaran utama.
Apa Makna “Hati Menjadi Tenteram” Menurut Para Ulama?
Para mufasir memberikan penjelasan yang saling melengkapi mengenai makna ketenteraman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa hati menjadi tenang karena yakin kepada janji Allah. Keyakinan itu membuat seseorang tidak mudah dikuasai rasa takut ketika menghadapi perubahan hidup.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa zikir tidak terbatas pada ucapan tasbih, tahmid, atau tahlil. Membaca Al-Qur’an, mengingat nikmat Allah, merenungi kebesaran-Nya, hingga menghadirkan rasa tawakal juga termasuk bentuk zikir yang menghidupkan hati.
Sementara itu, Syekh Abdurrahman As-Sa’di menegaskan bahwa hati akan selalu mencari tempat bergantung. Jika sandaran itu adalah harta, maka kegelisahan muncul ketika harta berkurang. Jika sandaran itu adalah jabatan, kecemasan datang ketika jabatan berubah. Namun, apabila hati bergantung kepada Allah Yang Mahakekal, ketenangan memiliki akar yang jauh lebih kokoh.
Zikir Bukan Pelarian, Melainkan Penguat Jiwa
Sebagian orang menganggap zikir hanya dilakukan ketika menghadapi kesulitan. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa mengingat Allah merupakan kebutuhan hati dalam setiap keadaan.
Ketika seseorang berzikir, masalah hidup belum tentu langsung selesai. Akan tetapi, cara memandang masalah berubah. Kepanikan berganti dengan harapan. Keputusasaan bergeser menjadi ikhtiar.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5–6)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berzikir seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa zikir bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sumber kehidupan bagi hati.
Refleksi: Jangan Sampai Sibuk Mengisi Jadwal, Tetapi Mengosongkan Hati
Coba renungkan satu hari yang baru saja berlalu.
Berapa kali kita membuka aplikasi pesan?
Berapa kali kita memeriksa media sosial?
Dan berapa lama kita mengejar target pekerjaan?
Lalu, berapa menit kita benar-benar menghadirkan Allah di dalam hati?
Pertanyaan itu tidak bertujuan menyalahkan siapa pun.
Sebaliknya, ia mengajak kita melihat kembali ke mana arah hati sedang berjalan.
Mungkin selama ini kita tidak kekurangan fasilitas.
Bukan pula kekurangan kesempatan.
Yang sering kurang adalah waktu untuk berhenti sejenak, membuka mushaf Al-Qur’an, lalu mengingat Allah dengan penuh kesadaran.
Di situlah QS. Ar-Ra’d ayat 28 menemukan relevansinya. Ketenteraman bukan hadiah bagi orang yang paling kaya, melainkan bagi mereka yang menjadikan Allah sebagai tempat kembali.
Dunia mampu memberi kenyamanan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan. Harta dapat membeli rumah, namun tidak bisa membeli hati yang damai. Ketika semua kesibukan selesai dan lampu-lampu kota mulai redup, hanya satu pertanyaan yang tersisa: kepada siapa hati ini benar-benar bersandar? (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar