Harapan Hidup Naik, Mengapa Warga Tasikmalaya Lebih Sering Sakit?
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

Alun-alun Dadaha, Kota Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Harapan Hidup Tasikmalaya terus meningkat. Namun, pada saat yang sama, keluhan kesehatan warga Kota Tasikmalaya juga ikut bertambah. Sekilas dua fakta ini tampak bertolak belakang. Bukankah masyarakat yang hidup lebih lama seharusnya semakin sehat?
Justru di situlah letak cerita menarik yang diungkap data terbaru Kota Tasikmalaya Dalam Angka 2026. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup (AHH) Kota Tasikmalaya naik menjadi 75,66 tahun pada 2025, sementara persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan sebelum survei juga meningkat menjadi 33,29 persen.
Data tersebut mengajak publik melihat kesehatan dari sudut pandang yang lebih utuh. Panjang umur memang menjadi kabar baik. Akan tetapi, kualitas hidup selama menjalani usia yang lebih panjang juga sama pentingnya.
Harapan Hidup Terus Naik, Menandakan Pembangunan Kesehatan Membaik
Dalam tiga tahun terakhir, indikator kesehatan Kota Tasikmalaya menunjukkan perkembangan positif.
Pada 2023, Angka Harapan Hidup tercatat 75,08 tahun. Angka itu meningkat menjadi 75,31 tahun pada 2024 dan kembali naik menjadi 75,66 tahun pada 2025. Dalam periode yang sama, jumlah penduduk juga bertambah dari 741.760 jiwa menjadi 759.370 jiwa, meskipun laju pertumbuhan penduduk sedikit melambat dari 1,29 persen menjadi 1,24 persen.
Peningkatan usia harapan hidup biasanya mencerminkan semakin baiknya akses pelayanan kesehatan, kualitas gizi, sanitasi, dan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
Karena itu, capaian tersebut layak diapresiasi sebagai bagian dari keberhasilan pembangunan manusia di Kota Tasikmalaya.
Namun, Sepertiga Warga Mengalami Keluhan Kesehatan
Di balik kabar baik tersebut, terdapat fakta lain yang patut menjadi perhatian.
Data BPS menunjukkan 33,29 persen penduduk Kota Tasikmalaya mengalami keluhan kesehatan pada 2025, naik dibandingkan 30,61 persen pada 2024. Dengan kata lain, sekitar satu dari tiga warga mengaku pernah mengalami gangguan kesehatan dalam satu bulan sebelum survei dilakukan.
Indikator ini tidak berarti seluruh warga menderita penyakit berat. Keluhan kesehatan dapat berupa kondisi yang mengganggu aktivitas sehari-hari, baik ringan maupun sedang.
Meski demikian, kenaikan persentase tersebut tetap menjadi sinyal bahwa tantangan kesehatan masyarakat masih cukup besar.
Hipertensi Mendominasi, Penyakit Kronis Mulai Menjadi Tantangan
Gambaran tersebut semakin jelas ketika melihat pola penyakit yang paling banyak ditangani fasilitas kesehatan sepanjang 2025.
Hipertensi menempati urutan pertama dengan 65.478 kasus. Setelah itu muncul nasofaringitis akut atau flu sebanyak 49.381 kasus, disusul infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) sebanyak 35.216 kasus.
Selain itu, diabetes melitus noninsulin, gangguan lambung, hingga nyeri otot juga tercatat dalam kelompok penyakit dengan jumlah kasus tinggi.
Data ini belum membuktikan bahwa penyakit-penyakit tersebut menjadi penyebab langsung meningkatnya keluhan kesehatan warga. Namun, pola tersebut menunjukkan bahwa penyakit tidak menular kini menjadi salah satu tantangan utama pelayanan kesehatan di Kota Tasikmalaya.
Fenomena serupa juga terjadi di banyak daerah ketika usia penduduk semakin panjang dan pola hidup masyarakat berubah.
Bukan Sekadar Hidup Lama, Tetapi Tetap Produktif
Masyarakat kini semakin rutin memeriksa tekanan darah, mengontrol kadar gula darah, hingga berkonsultasi mengenai berbagai penyakit kronis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin panjang usia sering kali diikuti kebutuhan menjaga kesehatan yang lebih baik.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya terletak pada bertambahnya usia harapan hidup.
Yang lebih penting ialah memastikan masyarakat tetap sehat, aktif, dan produktif sepanjang hidupnya.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala, aktivitas fisik yang cukup, konsumsi makanan bergizi, istirahat yang memadai, serta pengendalian stres menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kualitas hidup.
Apa yang Bisa Dilakukan Warga?
Meningkatnya usia harapan hidup merupakan modal besar bagi Kota Tasikmalaya. Namun, manfaatnya akan jauh lebih terasa apabila setiap warga ikut menjaga kesehatannya sejak dini.
Mulailah dengan kebiasaan sederhana, seperti mengurangi konsumsi garam dan gula berlebih, memperbanyak aktivitas fisik, berhenti merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di fasilitas kesehatan terdekat.
Di sisi lain, pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, komunitas, hingga keluarga juga memiliki peran penting dalam membangun budaya hidup sehat.
Dengan demikian, usia yang lebih panjang tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.
Data yang Layak Menjadi Renungan Bersama
Data BPS memperlihatkan bahwa Kota Tasikmalaya sedang memasuki fase baru pembangunan kesehatan. Warga memiliki peluang hidup lebih lama dibandingkan beberapa tahun lalu. Namun, tantangan penyakit kronis dan berbagai keluhan kesehatan masih membutuhkan perhatian serius.
Statistik bukan sekadar deretan angka. Di balik setiap persentase terdapat ribuan keluarga yang berharap tetap sehat, tetap produktif, dan tetap mampu menikmati hidup bersama orang-orang terdekat.
Usia yang panjang adalah anugerah. Namun, usia panjang tanpa tubuh yang sehat hanya akan mengubah statistik, bukan kualitas hidup. Kini, tantangannya bukan lagi sekadar menambah umur warga Tasikmalaya, melainkan memastikan setiap tahun tambahan itu benar-benar dapat dinikmati dengan sehat, aktif, dan bermakna. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar