Humaniora

Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

Tren wajah mulus tanpa jenggot kini menjadi standar maskulinitas baru di Korea Selatan, dipengaruhi budaya K-pop dan modernitas.

albadarpost.com, LENSA HUMANIORA – Standar kecantikan bagi pria di Korea Selatan mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Wajah mulus tanpa jenggot kini dianggap sebagai penampilan ideal, menggantikan simbol maskulinitas tradisional yang lekat dengan jenggot tebal sebagai lambang kedewasaan dan kehormatan.

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba; tren budaya populer, industri hiburan K-pop, tekanan profesional, hingga perkembangan cara pandang modern semuanya berperan menciptakan identitas maskulin baru yang lebih bersih, halus, dan terawat.


Pengaruh Budaya Pop dan Modernisasi Estetika

Penampilan para idola K-pop seperti BTS, Stray Kids, dan NCT yang nyaris selalu tampil dengan wajah mulus tanpa jenggot menjadi salah satu penggerak utama persepsi bahwa kulit bersih dan licin adalah bentuk daya tarik maskulin masa kini. Visual “clean boy look” tersebut kini dianggap sebagai standar profesional, fashionable, dan dapat diterima publik.

Fenomena ini semakin menguat ketika sejumlah figur publik mengaku menjalani perawatan untuk menghilangkan atau mengurangi pertumbuhan rambut wajah. Misalnya, Hyungwon dari Monsta X pada tahun 2021 menyampaikan bahwa dirinya menjalani prosedur laser hair removal demi mendapatkan tampilan dagu yang menurutnya lebih halus. Walaupun prosedurnya terasa menyengat, ia mengaku puas karena wajahnya terlihat lebih bersih di depan kamera.

Kecenderungan ini berbanding terbalik dengan cara pandang masyarakat pada masa Dinasti Joseon (1392–1910). Ketika itu, jenggot dipandang sebagai simbol kematangan jiwa. Pria tanpa jenggot sering dianggap “belum dewasa” dan belum layak mengambil peran sosial atau menikah. Bahkan teks satir dari abad ke-17 dengan lugas menegaskan, “Jika Anda tidak berjanggut, Anda tidak akan pernah mendapatkan istri.”

Namun, gelombang modernisasi pada tahun 1895 membawa perubahan besar. Kerajaan mulai melakukan penyesuaian terhadap budaya global. Kaisar Gojong dan kaum bangsawan menjadi pihak pertama yang mencukur jenggot mereka sebagai simbol modernitas. Langkah ini diikuti masyarakat secara luas. Sejak itu, barbershop menjadi simbol transformasi sosial, bukan sekadar tempat merapikan rambut.

Norma tersebut terus menguat hingga era kontemporer. Pada 2014, seorang pilot Asiana Airlines sempat dilarang terbang karena memelihara jenggot, sebelum Mahkamah Agung Seoul akhirnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut bersifat diskriminatif. Keputusan itu menjadi penanda bahwa budaya jenggot mulai dipertimbangkan kembali, meski belum sepenuhnya diterima.


Wajah Mulus Tanpa Jenggot sebagai Citra Profesional dan Identitas Baru

Faktor biologis ikut memengaruhi tren ini. Menurut tukang cukur senior, Kim Gyung-chun, struktur folikel rambut pria Korea berbeda dengan pria Barat. Orang Korea umumnya memiliki satu atau dua helai rambut per folikel, sedangkan pria Barat memiliki dua hingga tiga helai. Hal ini membuat jenggot lebat lebih sulit tumbuh pada pria Korea, sehingga wajah tanpa jenggot terlihat lebih alami dan lebih mudah dirawat.

Namun, faktor sosial dan dunia kerja justru memperkuat tren wajah mulus tanpa jenggot. Banyak kantor dan institusi di Korea Selatan menilai penampilan bersih sebagai bentuk profesionalisme. Beberapa pekerja mengaku bercukur setiap hari untuk menjaga citra rapi di mata rekan kerja ataupun klien. Dalam konteks relasi sosial, sebagian pria merasa bahwa janggut tipis justru kurang menarik saat berkencan.

Meski demikian, tren perlawanan kecil mulai muncul. Ada kelompok pria muda yang mencoba menumbuhkan jenggot sebagai ekspresi identitas personal dan bentuk keunikan. Jung Byung-hyun (38) misalnya, telah memelihara jenggot selama empat tahun dan menggunakan serum impor untuk meratakan pertumbuhannya. Namun, ia mengakui bahwa mencari tukang cukur yang terampil menata jenggot masih sulit di Korea.

Sementara itu, seorang tukang cukur berjanggut lebat yang dikenal sebagai “Santa” mengatakan bahwa perubahan sudah mulai terasa. Lebih banyak pria muda datang untuk merapikan jenggot mereka. Jika dulu jenggot dianggap tidak sopan atau tidak rapi, kini ia mulai dilihat sebagai gaya dan pilihan pribadi.

Tren wajah mulus tanpa jenggot mencerminkan perubahan nilai maskulinitas di Korea Selatan, dari simbol tradisi menuju ekspresi modern dan individual. (DAS)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button