Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
  • visibility 235
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF — Setiap kali laporan baru tentang radikalisasi muncul, publik sering membayangkan proses perekrutan yang berlangsung di ruang-ruang gelap. Dalam imajinasi itu, ekstremisme tumbuh jauh dari pusat kehidupan sehari-hari. Namun data beberapa tahun terakhir menabrak asumsi tersebut. Radikalisme kini hadir melalui jalur yang justru paling dekat: ponsel anak-anak.

Perangkat yang semestinya menjadi ruang belajar berubah menjadi pintu bagi ideologi kekerasan. Mantan Kepala Densus 88, Martinus Hukom, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran otoritas moral anak ke ruang yang tak lagi bisa dikontrol keluarga. Pernyataan itu bukan alarm kosong. Ia diperkuat data dan pola yang sudah terbaca aparat selama lima tahun terakhir.

Fenomena ini layak dikaji, bukan sekadar sebagai isu keamanan, tetapi sebagai masalah sosial yang mempengaruhi arah generasi baru.


Data Mengatakan Satu Hal: Anak-anak Sudah Jadi Target Serius

Dalam laporan internal Polri yang disampaikan berkala sejak 2020, proses rekrutmen jaringan ekstrem mulai memanfaatkan game online, forum diskusi tertutup, dan aplikasi percakapan terenkripsi. Puncaknya pada 2024–2025, ketika Densus 88 merilis temuan: 110 anak di 23 provinsi teridentifikasi pernah berinteraksi dengan simpatisan jaringan teror.

Angka itu bukan hanya statistik. Ia menggambarkan betapa luasnya medan baru yang tidak bisa dijangkau dengan mekanisme pengawasan konvensional.

Jika dibandingkan data tahun 2018–2019, jumlah anak yang terekspos konten ekstrem naik hampir tiga kali lipat. Tren ini terjadi seiring meningkatnya kepemilikan ponsel pada usia 9–15 tahun. Survei APJII menunjukkan penetrasi internet pada usia sekolah dasar-dini remaja mencapai 62%, naik drastis dari 35% satu dekade lalu. Di titik inilah radikalisme menemukan celah: ruang tanpa pendampingan yang dipadati algoritma yang sulit dikendalikan.


Pola Radikalisasi Baru: Tidak Lagi Ideologis, Tetapi Emosional

Salah satu yang berubah dari radikalisme digital adalah pintu masuknya. Jika pada dekade awal ekstremisme menyasar pemahaman ideologis, kini banyak rekrutmen menggunakan pendekatan psikologis: rasa ingin diterima, kebutuhan menjadi “bagian dari sesuatu”, atau pencarian figur otoritas. Remaja—yang memang sedang mencari identitas—mudah terpikat oleh narasi yang menawarkan kepastian moral.

Baca juga: Eks Kepala Densus 88 Peringatkan Radikalisme Digital yang Bidik Remaja

Model rekrutmen ini terlihat serupa dengan pola grooming dalam kasus kekerasan seksual atau penipuan digital. Pelaku mengawali komunikasi dengan membangun kedekatan emosional, bukan doktrin. Konten ekstrem muncul belakangan. Dalam beberapa kasus yang dipublikasikan BNPT, fase kedekatan bisa berlangsung berminggu-minggu sebelum ideologi kekerasan dikenalkan.

Di titik ini, radikalisasi menjadi fenomena psikososial, bukan semata isu ideologi.


Tanggung Jawab Negara Ada, Tetapi Tembok Pertama Tetap Keluarga

Seruan Densus 88 tentang pentingnya “sidak ponsel anak” sering menuai kritik. Sebagian orang tua menganggapnya berlebihan. Tapi data tadi menunjukkan bahwa rekrutmen digital lebih senyap dibanding yang pernah ada sebelumnya. Aplikasi perpesanan terenkripsi dan mode private menjadi faktor utama mengapa orang tua sulit melihat tanda-tanda awal.

Tentu, pengawasan keluarga bukan solusi tunggal. Negara tetap memiliki tanggung jawab membangun arsitektur perlindungan digital yang lebih kuat. Regulasi platform, peningkatan literasi digital sekolah, dan kolaborasi lintas lembaga harus menjadi langkah paralel. Tetapi keluarga tetap benteng pertama. Bukan hanya memantau ponsel, tetapi membangun komunikasi yang memungkinkan anak bercerita lebih dulu sebelum internet melakukannya.


4. Tantangan Baru: Radikalisme Tanpa Geografi

Jika dulu radikalisme banyak berakar dari komunitas fisik, kini batas geografis tak ada artinya. Seorang anak di Tasikmalaya dapat mengobrol dengan seseorang di luar negeri dengan satu klik. Jaringan ekstrem global bergerak dengan metode yang sangat halus: memproduksi konten yang tampak seperti diskusi sejarah, memberikan ruang curhat, hingga menciptakan komunitas permainan daring yang memiliki struktur hierarki.

Dalam riset RAND Corporation tahun 2023, pola radikalisasi anak di berbagai negara menunjukkan tren serupa: mereka tidak merasa bergabung dengan “kelompok teroris”, melainkan menemukan “teman bicara”. Proses ini yang membuat radikalisme digital sulit dideteksi, bahkan bagi orang tua yang merasa dekat dengan anaknya sendiri.

Indonesia tidak kebal terhadap pola ini. Justru dengan tingginya penetrasi internet dan budaya digital yang longgar dalam keluarga, risikonya meningkat.


Di Masa Depan, Pengawasan Digital Akan Sama Pentingnya dengan Pendidikan Moral

Fenomena radikalisme digital menandai fase baru dalam hubungan antara anak, teknologi, dan keamanan publik. Pengawasan digital bukan lagi sekadar aturan rumah tangga, tetapi bagian dari pendidikan moral itu sendiri. Jika nilai-nilai dapat dipelajari dari layar, maka ruang digital harus diperlakukan seperti ruang pendidikan, bukan sekadar sumber hiburan.

Perlu ada kesadaran kolektif bahwa ancaman digital tidak bisa dilawan dengan retorika keras atau operasi penindakan semata. Yang dibutuhkan adalah literasi, dialog, dan kehadiran orang dewasa—baik keluarga, sekolah, maupun negara—di tempat anak-anak menghabiskan waktunya: ruang digital.


Radikalisme digital adalah ancaman kontemporer yang bergerak senyap dan memanfaatkan celah psikologis remaja. Menghadapinya memerlukan pendekatan baru: bukan sekadar aparat pemerintah, tetapi kedewasaan digital dalam keluarga dan kebijakan negara yang adaptif. Ruang digital telah menjadi ruang moral baru, dan siapa yang mengisinya akan menentukan arah satu generasi. (Red/Arrian)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Program MBG Garut

    Camat Tarogong Kaler Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Program MBG Garut atau Program Makan Bergizi Gratis terus diperkuat melalui langkah evaluasi dan koordinasi lintas pelaksana. Camat Tarogong Kaler, Rakhmat Alamsyah, memimpin kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) bersama para pengelola SPPG Tarogong Kaler di Aula Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Kamis (9/7/2026). Kegiatan tersebut bertujuan memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi […]

  • Malik ditolak SD

    Malik Ditolak SD, Bocah Stunting Ini Justru Disarankan ke SLB

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Impian Malik ditolak SD ketika proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) berlangsung. Bocah berusia tujuh tahun asal Kampung Sindanggalih, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya itu ingin belajar di sekolah negeri yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumahnya. Namun, keluarga justru mengaku mendapat saran agar Malik bersekolah di SLB. Kisah anak […]

  • Cek SLIK OJK

    Cara Cek SLIK OJK Gratis, Hindari Kredit Ditolak

    • calendar_month 10 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Cek SLIK OJK menjadi langkah yang sebaiknya dilakukan sebelum mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kartu kredit, kredit kendaraan, maupun pinjaman modal usaha. Melalui cara cek SLIK OJK secara daring di layanan iDebku OJK, masyarakat dapat mengetahui riwayat kredit, status kolektibilitas, hingga memastikan tidak ada fasilitas pembiayaan yang tercatat atas nama mereka tanpa […]

  • Hajat Laut Pangandaran

    Budaya Terawat, Aqidah Terjaga: Hajat Laut Pangandaran 2026 Hadir Lebih Meriah

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 208
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Hajat Laut Pangandaran 2026 kembali hadir dengan wajah yang lebih lengkap. Tidak hanya menghadirkan perlombaan dan festival budaya, tradisi tahunan masyarakat pesisir ini juga mengusung kegiatan istighosah sebagai penguat nilai spiritual. Mengangkat tema “Budaya Terawat, Aqidah Terjaga”, Hajat Laut Pangandaran akan digelar pada Selasa, 16 Juni 2026 di kawasan Pantai Timur Pangandaran. […]

  • dessert ramadhan creamy manis disajikan saat buka puasa dengan tampilan menggoda dan tekstur lembut

    Resep Dessert Ramadhan yang Dirahasiakan

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Menjelang adzan Maghrib, aroma manis mulai memenuhi dapur. Satu sendok pertama langsung mencair di mulut—lembut, dingin, dan bikin tenang setelah seharian berpuasa. Inilah yang banyak orang cari setiap tahun: resep dessert ramadhan yang spesial, bukan sekadar takjil biasa. Resep dessert untuk buka puasa, hidangan manis Ramadhan, hingga dessert kekinian kini jadi incaran […]

  • gelang haji 2026

    Gelang Haji 2026 Wajib Dipakai Jemaah Indonesia, Bisa Jadi Penyelamat Saat Tersesat

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 198
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di tengah lautan manusia saat puncak ibadah haji, satu benda kecil ini sering luput dari perhatian. Padahal, fungsinya bisa menentukan keselamatan. Gelang haji 2026 (1447 H.) yang dikenakan jemaah Indonesia bukan sekadar tanda pengenal. Dalam kondisi darurat—tersesat, pingsan, atau terpisah dari rombongan—gelang ini menjadi “jalur cepat” bagi petugas untuk mengenali identitas […]

expand_less