Apa Itu Madzahibul Arba’ah? Ini Penjelasannya
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi empat imam mazhab dalam Islam, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali sebagai warisan keilmuan umat Muslim.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pagi itu, suara sandal masih terdengar bersahutan seusai salat Magrib di sebuah masjid kampung. Beberapa jamaah belum beranjak pulang. Ada yang masih duduk bersila sambil menyeruput kopi hangat, ada pula yang berbincang ringan dengan ustaz yang biasa mengisi pengajian.
Di tengah suasana yang akrab itu, seorang bapak tiba-tiba bertanya.
“Kalau Islam itu satu, kenapa ada Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali?”
Pertanyaan semacam itu ternyata tidak hanya muncul di serambi masjid. Di media sosial, ruang kajian, hingga mesin pencarian internet, pembahasan tentang Mazhab Empat atau Madzahibul Arba’ah masih sering membuat banyak orang penasaran.
Sebagian orang mengira perbedaan mazhab merupakan tanda perpecahan. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, keberadaan empat mazhab justru dipandang sebagai kekayaan intelektual yang lahir dari kesungguhan para ulama dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Apa Itu Madzahibul Arba’ah?
Madzahibul Arba’ah berarti empat mazhab fikih utama dalam Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Keempatnya menjadi rujukan penting dalam memahami berbagai persoalan ibadah maupun muamalah.
Empat mazhab tersebut adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Mazhab Hanafi berkembang melalui pemikiran Imam Abu Hanifah. Mazhab Maliki lahir dari tradisi keilmuan Imam Malik bin Anas. Adapun Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menyusun metodologi fikih yang kemudian melahirkan Mazhab Syafi’i. Sementara itu, Mazhab Hanbali berkembang melalui pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal.
Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda dalam menggali hukum, seluruh imam mazhab sama-sama menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai landasan utama.
Karena itu, Mazhab Empat bukanlah empat agama yang berbeda, melainkan empat jalan ijtihad dalam memahami syariat Islam.
Mengapa Muncul Perbedaan Mazhab?
Pertanyaan ini kerap muncul di tengah masyarakat. Jika sumber hukumnya sama, mengapa hasil ijtihad para imam dapat berbeda?
Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan tersebut muncul karena metode memahami dalil, kondisi sosial, serta persoalan yang dihadapi masing-masing imam pada zamannya tidak selalu sama.
Imam Abu Hanifah hidup di Irak yang ketika itu menjadi pusat peradaban dan tempat bertemunya berbagai persoalan baru. Karena itu, beliau dikenal banyak menggunakan qiyas atau analogi hukum.
Di Madinah, Imam Malik bin Anas memberi perhatian besar kepada praktik masyarakat setempat yang masih mewarisi tradisi para sahabat Nabi.
Kemudian Imam Syafi’i menyusun ilmu ushul fikih secara sistematis melalui karya monumentalnya Al-Risalah. Metode tersebut menjadi fondasi penting dalam perkembangan hukum Islam.
Sementara Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat kuat dalam berpegang kepada hadis dan sangat berhati-hati dalam menetapkan hukum.
Walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam sejumlah persoalan cabang, para imam tersebut tetap berada dalam akidah yang sama dan saling menghormati satu sama lain.
Mengapa Mayoritas Muslim Indonesia Mengikuti Mazhab Syafi’i?
Jejak Mazhab Syafi’i telah hadir di Nusantara sejak berabad-abad lalu melalui jaringan ulama, perdagangan, dan perkembangan pesantren.
Karena itu, banyak praktik keagamaan yang akrab di tengah masyarakat Indonesia memiliki akar dari pendapat Imam Syafi’i.
Mulai dari qunut Subuh, tata cara bersuci, pembahasan waris, hingga berbagai kitab fikih yang diajarkan di pesantren, sebagian besar berkembang dalam tradisi Mazhab Syafi’i.
Namun demikian, para ulama tidak pernah melarang umat Islam mempelajari mazhab lainnya. Bahkan, kajian perbandingan mazhab telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan Islam.
Perbedaan pendapat dalam persoalan cabang pun tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Para Imam Mazhab Tidak Mengajarkan Fanatisme
Hal yang sering luput dari perhatian ialah para imam mazhab justru mewariskan keteladanan dalam kerendahan hati.
Imam Syafi’i pernah menyampaikan bahwa apabila terdapat hadis sahih yang bertentangan dengan pendapatnya, maka hadis tersebut lebih layak diikuti.
Pesan yang serupa juga tercermin dari sikap para imam lainnya. Mereka tidak pernah mengajak umat membela nama mazhab secara membabi buta.
Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.
Karena itu, perbedaan dalam perkara fikih tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan.
Warisan Ilmu yang Tetap Hidup Hingga Kini
Lebih dari seribu tahun telah berlalu. Namun, pengaruh Madzahibul Arba’ah masih terasa hingga sekarang.
Jutaan Muslim di Indonesia, Timur Tengah, Turki, Afrika, hingga Asia Selatan masih menjadikan salah satu dari Mazhab Empat sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Ribuan kitab lahir dari tradisi keilmuan tersebut. Dari sana, para ulama generasi berikutnya terus mengembangkan pemikiran Islam dengan tetap menjaga akar yang telah diwariskan para imam terdahulu.
Penjelasan mengenai Mazhab Empat ini merujuk pada tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang selama berabad-abad melalui karya para ulama dan kitab-kitab fikih klasik, seperti Al-Risalah karya Imam Syafi’i, Al-Muwatta’ karya Imam Malik, serta berbagai karya ulama sesudahnya.
Pada akhirnya, perbedaan yang lahir dari ijtihad para ulama menunjukkan bahwa keragaman pendapat tidak selalu berarti perpecahan. Dalam sejarah peradaban Islam, keluasan pandangan justru menjadi bagian dari warisan ilmu yang terus hidup dan memberi manfaat bagi umat hingga hari ini.
Empat mazhab tidak hadir untuk memecah persatuan. Dari tradisi ilmu yang dibangun dengan adab dan penghormatan terhadap perbedaan, lahirlah salah satu khazanah intelektual terbesar yang diwariskan Islam kepada dunia. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar