Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Kriminolog UI: Penjarahan Rumah Anggota DPR Dipicu Rasa Ketidakadilan Kolektif

Kriminolog UI: Penjarahan Rumah Anggota DPR Dipicu Rasa Ketidakadilan Kolektif

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
  • visibility 206
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kriminolog UI sebut penjarahan rumah anggota DPR dipicu rasa ketidakadilan kolektif dan dipicu ajakan di media sosial.

albadarpost.com, LENSA – Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menilai aksi penjarahan terhadap rumah sejumlah anggota DPR dan menteri pada gelombang demonstrasi 25–31 Agustus lalu bukanlah tindakan spontan. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akumulasi dari rasa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, diperkuat oleh narasi di media sosial yang kemudian berujung pada tindakan kolektif yang terorganisir.


Rasa Ketidakadilan Jadi Pemicu Penjarahan DPR

Adrianus hadir sebagai saksi ahli dalam sidang pendahuluan kasus dugaan pelanggaran etik lima anggota DPR nonaktif di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) pada Senin (3/11). Dalam kesaksiannya, ia menilai bahwa fenomena penjarahan DPR mencerminkan kondisi sosial yang lebih dalam, yakni akumulasi kekecewaan publik terhadap para pejabat dan institusi negara.

Menurut Adrianus, berbagai faktor memang bisa menjadi pemicu aksi massa. Namun, satu hal yang paling menonjol adalah sense of injustice atau rasa ketidakadilan kolektif yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.

“Ada satu hal yang saya duga kuat menjadi pemicu yaitu adanya collective feeling atau perasaan bersama berupa sense of injustice di tengah masyarakat,” ujar Adrianus di depan majelis MKD.

Ia menambahkan, dalam literatur kriminologi, peristiwa penjarahan DPR yang terjadi di akhir Agustus itu termasuk dalam kategori limited looting atau penjarahan terbatas. Namun, seiring berkembangnya situasi dan narasi sosial, fenomena tersebut berubah menjadi targeted looting — penjarahan yang sudah ditentukan sasarannya.

“Penjarahan ini bukan spontan, tapi direncanakan. Dalam istilah lain disebut predestined looting,” jelasnya.


Peran Media Sosial dan Narasi Publik dalam Aksi Massa

Adrianus menilai penjarahan DPR tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat media sosial. Narasi-narasi yang berkembang secara masif memperkuat rasa ketidakadilan kolektif itu. Ia menjelaskan, perasaan tersebut kemudian memperoleh trigger atau pemicu melalui ajakan-ajakan daring yang beredar luas di berbagai platform.

“Ajakan seperti ‘kumpul di sini’, ‘bakar Monas’, atau ‘serang Mabes Polri’ menjadi pemantik emosional. Itulah yang saya sebut sebagai trigger factor,” ujarnya.

Situasi kian memanas setelah muncul korban jiwa akibat tindakan aparat kepolisian. Momen itu, kata Adrianus, menjadi titik balik di mana kemarahan publik meledak dalam bentuk kekerasan dan penjarahan terarah.

“Tanpa adanya rasa ketidakadilan kolektif, kerusuhan tidak akan terjadi. Aksi-aksi itu kemudian memenuhi unsur perencanaan dan berdampak fatal,” katanya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Pastikan Pekerja Tambang Bogor Terima Kompensasi Rp9 Juta dari Pemprov Jabar

Adrianus menegaskan, dari perspektif kriminologi, aksi seperti penjarahan DPR ini bukan semata tindakan kriminal individual, melainkan ekspresi sosial dari kekecewaan publik terhadap sistem yang dianggap timpang. Dalam konteks itu, masyarakat bukan sekadar pelaku, tapi juga korban dari ketidakadilan struktural yang menumpuk.


Rumah Anggota DPR Jadi Sasaran Penjarahan

Dalam peristiwa tersebut, setidaknya lima rumah pejabat publik menjadi sasaran. Empat di antaranya milik anggota DPR, yaitu Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Partai NasDem, serta Eko Patrio dan Uya Kuya dari PAN. Satu lagi adalah kediaman mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kelima tokoh itu kini tengah menjalani proses etik di MKD, sementara empat di antaranya sudah dinonaktifkan dari jabatannya di DPR. Menurut Adrianus, pola sasaran tersebut menunjukkan bahwa penjarahan bukan tindakan acak, melainkan bentuk protes yang diarahkan kepada simbol-simbol kekuasaan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

“Targetnya bukan toko atau rumah warga biasa, melainkan rumah figur publik yang diasosiasikan dengan kekuasaan dan ketimpangan. Ini bentuk simbolik dari perlawanan,” terang Adrianus.


Analisis Kriminologis: Dari Ketidakadilan ke Kekerasan

Dalam analisisnya, Adrianus menggambarkan bagaimana rasa ketidakadilan sosial dapat bertransformasi menjadi tindakan kolektif destruktif. Ia menyebut, fenomena penjarahan DPR menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih empatik dan preventif dari negara terhadap potensi ledakan sosial.

Menurut dia, negara perlu membaca gejala sosial dengan lebih dini agar tidak hanya merespons setelah kerusuhan terjadi. “Ketika masyarakat merasa tidak didengar, ruang protes berubah menjadi ruang kekerasan,” ucapnya.

Adrianus mengingatkan bahwa kasus penjarahan DPR menjadi cermin penting bagi pemerintah dan aparat hukum untuk menata ulang hubungan dengan publik. Penegakan hukum harus berjalan sejajar dengan keadilan sosial agar masyarakat tidak lagi merasa terpinggirkan.

Aksi penjarahan DPR yang terjadi pada akhir Agustus bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan cerminan akumulasi rasa ketidakadilan sosial yang terpendam. Analisis kriminolog UI Adrianus Meliala memperlihatkan bahwa kemarahan publik dapat meledak ketika kepercayaan terhadap sistem runtuh. Kasus ini menjadi pengingat bahwa keadilan sosial adalah fondasi utama stabilitas demokrasi.

Penjarahan rumah anggota DPR mencerminkan akumulasi rasa ketidakadilan publik yang dipicu narasi sosial dan lemahnya kepercayaan pada sistem. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • haid tanda baligh

    Baligh Perempuan Dimulai dari Pertama Haid

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Haid menandai baligh perempuan dalam Islam. Sejak titik itu, kewajiban ibadah berlaku penuh. Fakta ini membawa implikasi serius bagi kebijakan pendidikan agama, terutama di sekolah dan keluarga. Ketika negara dan lembaga pendidikan abai, risiko kesenjangan pemahaman syariat pada remaja perempuan semakin besar. Dalam fikih Islam, baligh tidak menunggu usia administratif. Ia ditentukan […]

  • Petugas Satpol PP Klaten membongkar warung soto berkedok prostitusi dengan paket Rp120 ribu di Kebonarum

    Terungkap Modus “Paket Soto” di Balik Harga Tak Masuk Akal

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 146
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Fenomena harga makanan yang tidak masuk akal akhirnya terungkap di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sebuah warung soto yang mematok harga hingga Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per porsi mendadak menjadi perhatian publik. Namun, mahalnya harga itu bukan karena kualitas rasa atau bahan premium, melainkan karena adanya dugaan praktik prostitusi terselubung. Kasus […]

  • Persebaya vs Persita

    Persebaya Terancam! Persita Datang dengan Mesin Gol Panas

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 141
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pertandingan antara Persebaya Surabaya vs Persita Tangerang pada 4 April 2026 pukul 19.00 WIB diprediksi menjadi salah satu duel paling krusial di papan atas Liga 1. Dua tim ini hanya terpaut 2 poin di klasemen, membuat laga ini berpotensi mengubah peta persaingan menuju 4 besar. Persebaya Tertekan, Tren Negatif Mengkhawatirkan Performa Persebaya Surabaya sedang dalam sorotan tajam. Dari 5 laga […]

  • Upacara Hari Otonomi Daerah 2026 di Tasikmalaya dengan peserta Forkopimda dan pimpinan daerah di halaman Setda

    HOD 2026, Bupati Cecep: Otonomi Daerah Harus Terasa ke Rakyat

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 102
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hari Otonomi Daerah 2026 di Kabupaten Tasikmalaya tidak berhenti pada barisan rapi dan upacara formal. Peringatan yang juga disebut sebagai HOD 2026 dan peringatan otonomi daerah ini justru membawa pesan yang lebih dekat ke kehidupan warga: layanan publik harus benar-benar terasa. Di halaman Sekretariat Daerah, Senin (27/4/2026), upacara berlangsung tertib. Namun […]

  • Pelaku UMKM mempromosikan produk melalui media sosial menggunakan smartphone untuk meningkatkan penjualan bisnis kecil.

    5 Cara UMKM Naik Omzet dari Media Sosial Tanpa Modal Iklan Besar

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 138
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Banyak pelaku usaha kecil kini mencari cara UMKM naik omzet dengan media sosial. Strategi UMKM media sosial, promosi online, dan pemasaran digital terbukti mampu meningkatkan penjualan tanpa biaya besar. Karena itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mulai memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar sekaligus membangun hubungan dengan pelanggan. Media sosial […]

  • Quraish Shihab memberikan ceramah dengan latar belakang pendidikan Al-Azhar yang membentuk pemikiran keislamannya

    Nasihati Prabowo, Pendidikan Quraish Shihab Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 107
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Jejak pendidikan Quraish Shihab kembali menjadi perhatian publik setelah berbagai nasihatnya tentang kepemimpinan dan nilai keislaman ramai diperbincangkan. Riwayat pendidikan Quraish Shihab menunjukkan perjalanan akademik panjang yang membentuk cara pandangnya yang moderat, mendalam, dan mudah diterima berbagai kalangan. Tidak hanya dikenal sebagai ulama, pendidikan Quraish Shihab di institusi bergengsi dunia Islam menjadikan […]

expand_less