Memaafkan dalam Islam: Haruskah Kita Kembali Mempercayainya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang duduk merenung saat senja, menggambarkan proses memaafkan dan memulihkan kepercayaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Seseorang meminta maaf setelah menyakiti kita. Ia berharap hubungan kembali seperti semula, seolah-olah luka yang ditinggalkan cukup diselesaikan dengan satu kata: maaf.
Namun, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Ada perkataan yang terus teringat, janji yang berulang kali dilanggar, dan kepercayaan yang tidak mudah dipulihkan. Kita mungkin sudah berusaha memaafkan, tetapi belum tentu siap memberikan kepercayaan yang sama.
Di sinilah persoalan memaafkan dalam Islam perlu dipahami secara utuh. Memaafkan merupakan akhlak yang mulia, tetapi apakah itu berarti kita harus kembali menjalin hubungan seperti dahulu dengan orang yang pernah menyakiti kita?
Jawabannya memerlukan kebijaksanaan. Sebab, memaafkan, berdamai, dan mempercayai kembali merupakan tiga hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu harus terjadi bersamaan.
Memaafkan Bukan Tombol Hapus Kesalahan
Dalam kehidupan sehari-hari, kata maaf terkadang diperlakukan seperti tombol penghapus. Setelah diucapkan, orang yang terluka seolah-olah diwajibkan melupakan semuanya dan kembali bersikap seperti biasa.
Padahal, memaafkan bukan berarti menyangkal bahwa seseorang telah berbuat salah. Memaafkan juga tidak mengharuskan kita berpura-pura tidak terluka.
Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap kemampuan menahan amarah dan memberi maaf. Dalam QS Ali Imran ayat 134:
الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَۚ
Allah memuji orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Ayat tersebut menunjukkan kemuliaan sikap memaafkan. Namun, memaafkan bukan berarti menganggap semua perbuatan benar atau menghilangkan tanggung jawab orang yang melakukan kesalahan.
Seseorang tetap perlu mengakui kesalahannya, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha agar kesalahan serupa tidak terulang.
Dengan demikian, memaafkan bukan tindakan membenarkan perilaku yang menyakitkan. Memaafkan adalah pilihan untuk tidak terus-menerus membiarkan dendam menguasai hati, tanpa harus menutup mata terhadap kenyataan.
Berdamai Tidak Harus Kembali Seperti Dahulu
Ada anggapan bahwa orang yang benar-benar sudah memaafkan pasti akan kembali dekat dengan orang yang menyakitinya. Anggapan ini tidak selalu tepat.
Kita dapat memaafkan seseorang tanpa kembali menjadikannya sahabat dekat. Kita juga dapat mengakhiri permusuhan tanpa harus mengembalikan hubungan ke tingkat keakraban sebelumnya.
QS Asy-Syura ayat 40:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
menjelaskan bahwa balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal, sementara orang yang memaafkan dan melakukan perbaikan memperoleh pahala dari Allah.
Ayat ini menyebutkan memaafkan sekaligus melakukan perbaikan. Karena itu, persoalan hubungan yang rusak tidak cukup dinilai dari ada atau tidaknya kata maaf. Perlu dilihat pula apakah ada upaya memperbaiki keadaan.
Dalam kehidupan nyata, menjaga jarak terkadang menjadi pilihan yang masuk akal. Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mencegah luka yang sama terulang.
Prinsip ini sejalan dengan pembahasan tasawuf di era digital, yang mengajak pembaca memperhatikan pembinaan batin dan pengendalian diri di tengah berbagai ujian kehidupan.
Memaafkan dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki diri. Namun, keputusan tentang seberapa dekat kita kembali dengan seseorang tetap perlu mempertimbangkan perilaku, tanggung jawab, dan keadaan yang sebenarnya.
Kepercayaan Harus Dibangun Kembali, Bukan Sekadar Dijanjikan
Kepercayaan tidak pulih hanya karena seseorang berkata, “Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Kalimat itu mungkin menjadi awal yang baik. Akan tetapi, kepercayaan membutuhkan bukti yang konsisten. Perubahan terlihat dari tindakan, bukan hanya dari penyesalan yang disampaikan ketika hubungan berada di ambang perpisahan.
Orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan semestinya bersedia mengakui kesalahan, menghormati batas yang ditetapkan, dan menerima bahwa pemulihan membutuhkan waktu.
Sebaliknya, jika permintaan maaf justru digunakan untuk menekan korban agar segera melupakan kejadian, persoalannya belum benar-benar selesai. Memaksa orang lain memaafkan sesuai jadwal kita bukanlah bentuk penghormatan terhadap luka yang dialaminya.
Di titik ini, kita perlu membedakan penyesalan dari perubahan. Penyesalan dapat diucapkan dalam satu percakapan, sedangkan perubahan harus dibuktikan melalui perilaku yang berulang dan konsisten.
Karena itu, memberikan kesempatan kedua merupakan keputusan yang dapat dipertimbangkan, bukan kewajiban otomatis setiap kali seseorang meminta maaf.
Lima Langkah Memaafkan Tanpa Mengabaikan Diri Sendiri
Bagaimana memaafkan seseorang tanpa mengabaikan pengalaman dan keselamatan diri? Beberapa langkah berikut dapat menjadi bahan pertimbangan.
Pertama, akui luka yang dirasakan. Jangan memaksa diri terlihat baik-baik saja jika masih kecewa atau sedih. Mengakui perasaan bukan berarti menyerah pada dendam.
Kedua, bedakan memaafkan dari melupakan. Kita dapat memilih untuk tidak memelihara kebencian sekaligus tetap mengambil pelajaran dari pengalaman yang pernah terjadi.
Ketiga, tetapkan batas yang jelas. Sampaikan perilaku apa yang tidak dapat diterima dan konsekuensi jika perilaku itu terulang. Batas bukan alat untuk menghukum, melainkan cara menjaga hubungan tetap sehat atau menjaga jarak ketika diperlukan.
Keempat, nilai perubahan melalui tindakan. Jangan hanya berpegang pada janji. Perhatikan konsistensi, tanggung jawab, dan kesediaan orang tersebut memperbaiki dampak kesalahannya.
Kelima, berikan waktu. Tidak semua luka selesai dalam sehari. Kita tidak perlu memaksakan kedekatan sebelum merasa cukup aman dan siap.
Langkah-langkah ini bukan rumus yang menjamin semua hubungan dapat diperbaiki. Fungsinya adalah membantu kita mengambil keputusan dengan lebih tenang, bukan semata-mata karena rasa bersalah, tekanan sosial, atau tuntutan orang lain.
Tidak Semua Pintu Harus Dibuka Kembali
Memaafkan sering kali dipandang sebagai kemenangan moral. Namun, ukuran keberhasilan memaafkan bukanlah seberapa cepat kita kembali akrab dengan orang yang pernah menyakiti kita.
Ada hubungan yang bisa pulih karena kedua pihak bersedia berubah. Ada pula hubungan yang perlu dibatasi karena kesalahan terus berulang dan tidak disertai tanggung jawab.
Jika sebuah hubungan melibatkan ancaman, kekerasan, atau manipulasi yang berulang, keselamatan harus menjadi prioritas. Mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional yang relevan dapat menjadi langkah penting. Memaafkan tidak mengharuskan seseorang bertahan dalam situasi yang membahayakan.
Menjaga batas bukan berarti memelihara kebencian. Begitu pula, memilih menjaga jarak tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang gagal memaafkan.
Pada akhirnya, memaafkan dalam Islam mengajarkan kemuliaan hati, tetapi kemuliaan itu tidak perlu diwujudkan dengan mengabaikan akal sehat dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Kita boleh memaafkan tanpa melupakan pelajaran. Kita boleh berdamai tanpa kembali sedekat dahulu. Dan kita boleh memberi kesempatan kedua ketika ada perubahan nyata, bukan sekadar janji.
Memaafkan dapat membebaskan hati dari dendam. Namun, kepercayaan harus dibangun kembali melalui tindakan. Kita boleh memaafkan seseorang tanpa memberinya kesempatan yang sama untuk menyakiti kita lagi. (Red)
- Penulis: redaktur
