Lilitan Utang? Ini Doa yang Diajarkan Nabi ﷺ
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang berdoa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Doa terbebas dari utang yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ ternyata tidak hanya berbicara tentang kewajiban finansial. Di dalamnya terdapat permohonan perlindungan dari kegelisahan, kelemahan, kemalasan, beratnya utang, hingga tekanan manusia. Karena itu, doa pelunas utang atau doa agar utang lunas sebaiknya dipahami sebagai bagian dari ikhtiar seorang Muslim, bukan sebagai janji bahwa utang akan hilang tanpa usaha.
Utang memang berkaitan dengan angka dan kewajiban pembayaran. Namun, ketika beban tersebut semakin berat, persoalannya dapat merambah ke ketenangan pikiran, hubungan sosial, bahkan kemampuan seseorang mengambil keputusan.
Di sinilah doa Nabi ﷺ memiliki pesan yang relevan. Seorang Muslim tidak hanya meminta pertolongan agar terbebas dari beban utang, tetapi juga memohon kekuatan untuk menghadapi keadaan yang menyertainya.
Doa Nabi untuk Berlindung dari Beratnya Utang
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Allahumma inni a’udzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa dhala’id-dain, wa ghalabatir-rijal.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari beratnya utang, serta dari tekanan manusia.”
Doa tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, sehingga memiliki landasan hadis yang kuat.
Susunannya menarik untuk diperhatikan. Nabi ﷺ tidak langsung menyebut persoalan utang sebagai satu-satunya masalah. Sebelum sampai pada permohonan perlindungan dari beratnya utang dan tekanan manusia, terdapat beberapa keadaan batin yang juga disebutkan.
Artinya, persoalan keuangan dapat berkaitan dengan kondisi mental dan perilaku seseorang. Karena itu, doa tersebut sekaligus mengajarkan seorang Muslim agar tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Mengapa Utang Disebut Bersama Tekanan Manusia?
Ada bagian doa yang sangat kuat: “dhala’id-dain” dan “ghalabatir-rijal”.
Istilah pertama berkaitan dengan berat atau beban utang. Sementara itu, bagian berikutnya bermakna memohon perlindungan dari keadaan ketika seseorang berada di bawah tekanan atau dominasi manusia.
Pesan tersebut terasa relevan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang terlilit utang mungkin tidak hanya menghadapi persoalan pemasukan dan pengeluaran. Ia juga dapat menghadapi jatuh tempo, tuntutan pembayaran, rasa malu, kekhawatiran terhadap keluarga, hingga hubungan yang memburuk dengan pihak yang memberikan pinjaman.
Karena itu, doa bebas utang yang diajarkan Nabi ﷺ memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar permintaan agar nominal kewajiban segera berkurang.
Doa tersebut mengingatkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah ketika menghadapi tekanan, sekaligus tetap harus mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan kewajibannya.
Ada Doa Lain untuk Memohon Kecukupan dari Rezeki Halal
Selain doa di atas, terdapat doa yang populer diamalkan untuk memohon kecukupan dari Allah:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahummakfini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwak.
Artinya:
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak membutuhkan selain-Mu.”
Riwayat doa tersebut tercantum dalam Jami’ at-Tirmidzi 3563, terdapat riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang doa yang diajarkan Rasulullah melalui kisah seorang mukatab yang mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.
Doa ini memiliki pesan yang penting bagi seseorang yang sedang mencari jalan keluar dari persoalan keuangan. Keinginan untuk segera melunasi utang jangan sampai mendorong seseorang mengambil jalan yang bertentangan dengan syariat.
Dengan kata lain, doa agar utang lunas seharusnya berjalan bersama ikhtiar memperoleh rezeki yang halal.
Apakah Membaca Doa Berarti Utang Pasti Lunas?
Tidak demikian.
Tidak ada dasar untuk menjadikan doa tersebut sebagai jaminan bahwa seseorang akan langsung terbebas dari utang setelah membacanya dalam jumlah tertentu.
Doa merupakan bentuk permohonan kepada Allah. Sementara itu, kewajiban membayar utang tetap membutuhkan tanggung jawab dan usaha.
Jika seseorang memiliki utang, ia perlu mengetahui jumlah kewajibannya, menyusun prioritas pembayaran, mengendalikan pengeluaran, serta mencari sumber penghasilan yang halal. Jika menghadapi kesulitan, komunikasi secara jujur dengan pihak pemberi pinjaman juga jauh lebih baik daripada menghilang.
Dengan cara tersebut, doa dan ikhtiar berjalan beriringan.
Bahkan, pesan ini membuat doa Nabi ﷺ terasa semakin kuat. Seorang Muslim tidak diajarkan untuk hanya menunggu pertolongan, tetapi juga membangun keberanian untuk menghadapi masalah yang ada di hadapannya.
Utang Bukan Hanya Persoalan Uang
Ada satu pelajaran penting yang sering luput ketika orang mencari doa terbebas dari utang.
Utang memang memiliki nilai nominal. Namun, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Ketika kewajiban menumpuk, seseorang dapat kehilangan ketenangan. Ketika tekanan meningkat, kemampuan mengambil keputusan juga bisa terganggu. Selanjutnya, masalah keuangan dapat merembet ke hubungan keluarga dan lingkungan sosial.
Karena itu, doa yang diajarkan Nabi ﷺ terasa sangat komprehensif. Ia memohon perlindungan dari kegelisahan sekaligus beratnya utang dan tekanan manusia.
Pada saat yang sama, seorang Muslim tetap perlu menjaga amanah. Jika memiliki kemampuan membayar, jangan sengaja menunda. Jika belum mampu, tetap berusaha dan menyampaikan kondisi secara terbuka.
Utang boleh berat, tetapi jangan sampai membuat hati kehilangan arah. Nabi ﷺ mengajarkan doa untuk menghadapi beratnya utang dan tekanan manusia; selebihnya, tugas kita adalah bangkit, berikhtiar, menjaga amanah, dan mencari jalan keluar melalui rezeki yang halal.
Sebab terbebas dari utang bukan hanya tentang lunasnya angka, tetapi tentang kembalinya ketenangan dan tegaknya tanggung jawab. (Red)
- Penulis: redaktur






