“Bekerjalah untuk Dunia Seakan Hidup Selamanya”, Hadis atau Bukan?
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi keseimbangan amal dunia akhirat dan kehidupan seorang Muslim.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Amal dunia akhirat sering terdengar seperti dua pekerjaan berbeda: siang sibuk mengejar rezeki, malam baru mengingat kematian. Di tengah budaya kerja yang memuja target, produktivitas, dan kalimat “kejar terus sampai berhasil”, muncul ungkapan “bekerjalah untuk dunia seakan-akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhirat seakan-akan mati besok”. Masalahnya, kalimat yang terdengar sangat religius itu kerap langsung ditempeli label hadis Nabi ﷺ.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Sebab, ungkapan tentang dunia dan akhirat tersebut bukan hadis Nabi ﷺ yang memiliki dasar sebagai hadis marfu’. Al-Albani menilainya “la ashla lahu marfu’an”, yakni tidak memiliki dasar sebagai hadis yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. Dorar al-Saniyyah juga memasukkannya dalam daftar hadis yang tidak sah dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.
Jadi, sebelum menjadikan kalimat itu sebagai caption motivasi Islami, ada satu pekerjaan kecil yang tampaknya sering terlupakan: cek sumbernya.
Kalimatnya Populer, Status Hadisnya Perlu Diluruskan
Ungkapan “اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا” memang sangat populer. Terjemahan bebasnya kurang lebih: bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya dan beramal untuk akhirat seakan mati besok.
Kalimat tersebut terdengar masuk akal. Bahkan sangat mudah diterima.
Karena sudah berulang kali beredar dalam berbagai bentuk, ungkapan itu mudah dianggap sebagai hadis tanpa terlebih dahulu diperiksa sumbernya. Padahal, popularitas tidak otomatis menjadi bukti sebuah ucapan berasal dari Rasulullah ﷺ.
Al-Albani menilai ungkapan tersebut tidak memiliki dasar sebagai hadis marfu’. Sementara itu, penjelasan yang dinukil dari Ibn Utsaimin juga menegaskan bahwa ungkapan tersebut tidak sah dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. (dorar.net)
Maka, menyebutnya sebagai “hadis Nabi” sebaiknya dihindari.
Lalu, Apakah Maknanya Salah?
Di bagian ini persoalannya menjadi lebih menarik.
Tidak setiap kalimat yang bukan hadis otomatis memiliki makna yang keliru. Yang perlu dilakukan adalah memisahkan status sumber dari isi nasihatnya.
Ibn Utsaimin menjelaskan bahwa makna ungkapan tersebut justru sering dipahami secara terbalik. Bagian “bekerjalah untuk dunia seakan hidup selamanya” tidak semestinya dimaknai sebagai izin untuk mengejar dunia tanpa batas sambil mengabaikan akhirat.
Sebaliknya, urusan dunia dapat dikerjakan dengan lebih tenang karena pekerjaan yang belum selesai hari ini masih bisa dilanjutkan esok. Sementara itu, urusan akhirat tidak semestinya ditunda karena manusia tidak mengetahui kapan ajal datang.
Dengan kata lain, kalimat itu bukan tiket syariah untuk bekerja 14 jam sehari sambil berkata, “Tenang, akhirat nanti saja.”
Kalau begitu, yang bekerja bukan lagi kita.
Targetlah yang perlahan mengendalikan hidup.
Deadline dikejar. Salat ditunda. Tubuh dipaksa. Keluarga menunggu. Sedekah “nanti kalau sudah kaya”. Taubat “nanti kalau sudah tua”.
Lucunya, manusia bisa membuat rencana lima tahun untuk bisnis, tetapi kadang lupa menyediakan waktu untuk bertanya apakah hidupnya masih berada di jalan yang benar.
Al-Qur’an Tidak Menyuruh Kita Meninggalkan Dunia
Islam tidak mengajarkan manusia untuk membuang kehidupan dunia.
Allah berfirman dalam QS Al-Qashash ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…”
Ayat tersebut menunjukkan adanya keseimbangan. Dunia bukan sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga bukan tujuan akhir yang layak menjadi pusat seluruh kehidupan.
Karena itu, bekerja, berdagang, membangun usaha, menafkahi keluarga, belajar, dan merencanakan masa depan bukan persoalan selama dilakukan melalui cara yang halal dan tidak menggeser kewajiban kepada Allah.
Masalahnya muncul ketika alat berubah menjadi tujuan.
Uang yang semestinya menjadi sarana mulai menjadi ukuran harga diri. Jabatan berubah menjadi identitas. Rumah menjadi simbol kemenangan. Bahkan kesibukan kadang dipamerkan seolah-olah semakin lelah berarti semakin sukses.
Padahal, belum tentu.
Rasulullah ﷺ Mengingatkan Pendeknya Umur
Ada dalil sahih yang memberikan perspektif berbeda.
Dalam Sahih al-Bukhari nomor 6416, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Umar:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Dalam hadis yang sama, Abdullah bin Umar kemudian mengingatkan agar ketika memasuki pagi seseorang tidak menunggu petang, dan ketika memasuki petang tidak menunggu pagi. Ia juga mengingatkan agar memanfaatkan kesehatan sebelum sakit dan kehidupan sebelum kematian.
Pesannya jelas: jangan terlalu yakin dengan hari esok.
Bukan berarti berhenti bekerja.
Bukan berarti berhenti membuat rencana.
Bukan pula berarti membiarkan keluarga tanpa nafkah karena merasa dunia tidak penting.
Justru sebaliknya, urusan dunia tetap dijalankan dengan baik, tetapi hati tidak semestinya menggantungkan seluruh harapan kepada dunia.
Sebab manusia boleh membuat kalender. Kematian tidak pernah berjanji mengikuti kalender tersebut.
Amal Dunia Akhirat: Jangan Sampai Salah Prioritas
Di sinilah ungkapan populer tadi masih bisa menjadi bahan renungan, selama kita tidak mengangkatnya menjadi hadis Nabi ﷺ.
Untuk urusan dunia, kita boleh merencanakan pendidikan, rumah, usaha, pekerjaan, tabungan, bahkan masa depan anak. Semua itu dapat bernilai baik ketika niat dan caranya benar.
Namun untuk akhirat, jangan terlalu banyak menggunakan kata “nanti”.
Nanti salatnya lebih khusyuk.
Nanti sedekahnya lebih banyak.
Nanti membaca Al-Qur’an kalau pekerjaan sudah selesai.
Nanti meminta maaf ketika suasana sudah membaik.
Nanti bertobat ketika usia sudah tua.
Masalahnya, tidak seorang pun menerima surat pemberitahuan bahwa “jatah hidup Anda tinggal sekian hari.”
Karena itu, keseimbangan amal dunia akhirat bukan berarti membagi hidup menjadi 50 persen dunia dan 50 persen akhirat. Yang lebih penting adalah memastikan aktivitas dunia tidak membuat manusia kehilangan orientasi akhirat.
Dunia tetap dijalani.
Rezeki tetap dicari.
Keluarga tetap dinafkahi.
Tetapi kewajiban kepada Allah tidak dijadikan pekerjaan yang selalu menunggu giliran.
Kita boleh membuat rencana seolah-olah akan hidup seratus tahun. Tetapi jangan pernah beramal seolah-olah kematian masih seratus tahun lagi. Sebab dunia selalu menyediakan tombol “nanti”, sementara kematian tidak pernah menjanjikan tombol itu akan tersedia besok. (Red)
- Penulis: redaktur






