Cakrawala

Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

albadarpost.com, CAKRAWALA – Nama Try Sutrisno 1998 kembali mengemuka ketika publik menelisik ulang fase akhir Orde Baru. Pada periode genting itu, Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan berdiri tepat di pusat pusaran krisis. Sosok wapres militer ini hadir di ujung kekuasaan Orde Baru, mendampingi Suharto saat tekanan ekonomi dan politik mengguncang fondasi negara.

Namun, berbeda dengan dinamika jalanan yang riuh, peran Try Sutrisno 1998 justru terlihat tenang. Ia tidak tampil sebagai figur konfrontatif. Sebaliknya, ia menunjukkan gaya kepemimpinan yang cenderung stabil dan terukur. Karena itu, menarik untuk membaca ulang bagaimana posisi wapres militer bekerja di tengah krisis multidimensi.

Di Pusat Kekuasaan Saat Krisis Mengguncang

Krisis moneter Asia 1997 memukul Indonesia dengan keras. Nilai rupiah terjun bebas, harga kebutuhan pokok melonjak, dan gelombang demonstrasi mahasiswa meluas. Dalam konteks tersebut, Try Sutrisno 1998 berada dalam lingkar inti pemerintahan.

Sebagai wapres, ia memiliki akses langsung pada pengambilan keputusan strategis. Meski demikian, struktur kekuasaan Orde Baru menempatkan presiden sebagai figur dominan. Karena itu, ruang manuver wakil presiden relatif terbatas. Ia lebih sering tampil dalam fungsi representatif, sementara keputusan politik utama tetap terkonsentrasi di tangan presiden.

Meski begitu, kehadiran Try tidak bisa dilepaskan dari latar belakang militernya. Sebelumnya, ia menjabat Panglima ABRI. Pengalaman tersebut membentuk karakternya dalam membaca stabilitas nasional. Ia memahami betul bagaimana gejolak sosial dapat berkembang menjadi krisis keamanan.

Wapres Militer dan Bayang-Bayang Dwifungsi

Pada era Orde Baru, militer memegang peran sosial-politik melalui konsep dwifungsi ABRI. Dalam kerangka itu, pengangkatan Try sebagai wapres bukan sekadar simbol. Pemerintah saat itu menilai figur militer mampu menjaga keseimbangan di tengah tekanan internal dan eksternal.

Namun, situasi berubah cepat menjelang 1998. Tuntutan reformasi menguat. Mahasiswa mendesak supremasi sipil. Publik mempertanyakan dominasi militer dalam jabatan politik. Dalam fase transisi ini, Try Sutrisno 1998 berdiri di antara dua arus: menjaga stabilitas sekaligus menghadapi gelombang perubahan.

Menariknya, ia tidak tercatat sebagai tokoh yang mendorong langkah represif secara terbuka. Ia juga tidak tampil sebagai figur reformis yang progresif. Posisi itu membuatnya berada di ruang abu-abu sejarah. Publik mengenalnya, tetapi jarang membedah kontribusinya secara rinci.

Detik-Detik Kejatuhan dan Posisi Wapres

Mei 1998 menjadi titik balik. Tekanan politik meningkat setelah tragedi Trisakti dan kerusuhan meluas di berbagai kota. Akhirnya, Soeharto menyatakan pengunduran diri. Peristiwa itu menandai runtuhnya Orde Baru.

Dalam momen krusial tersebut, peran Try Sutrisno 1998 kembali dipertanyakan. Secara konstitusional, wakil presiden memiliki posisi strategis. Namun, dinamika politik bergerak sangat cepat. Transisi kekuasaan berlangsung dalam tekanan publik yang masif.

Baca juga: Strategi Perang Nabi: Konsolidasi Kekuasaan di Tengah Krisis Abad ke-7

Setelah Reformasi bergulir, pola kepemimpinan nasional berubah drastis. Jabatan wakil presiden lebih banyak diisi tokoh sipil. Dominasi militer dalam politik berangsur surut. Oleh sebab itu, periode kepemimpinan Try menjadi penanda akhir tradisi wapres berlatar belakang jenderal aktif Orde Baru.

Mengapa Nama Try Jarang Disorot?

Sejarah sering menyorot figur paling vokal. Padahal, aktor yang bekerja dalam senyap juga memegang peran penting. Try Sutrisno 1998 termasuk dalam kategori terakhir. Ia hadir dalam momen menentukan, tetapi tidak menjadi pusat narasi populer.

Karena itu, membaca ulang kiprahnya membantu publik memahami struktur kekuasaan Orde Baru secara lebih utuh. Ia bukan tokoh oposisi, namun juga bukan simbol agresivitas politik. Ia berada dalam sistem, bekerja di dalamnya, dan menyaksikan perubahannya dari dekat.

Dalam konteks politik Indonesia hari ini, refleksi atas peran wapres militer memberi pelajaran penting. Stabilitas, loyalitas, dan legitimasi tidak selalu berjalan seiring. Ketika tekanan sosial meningkat, sistem politik diuji hingga batasnya. Dan di sanalah sejarah menemukan titik baliknya. (Red)


Al-Fatihah untuk almarhum Bapak Try Sutrisno.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button