Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » TBC Banjar: 589 Kasus Ditangani, 383 Kasus Masih Jadi Target

TBC Banjar: 589 Kasus Ditangani, 383 Kasus Masih Jadi Target

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • visibility 39
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – TBC Banjar kini menghadapi pekerjaan lanjutan di tengah meluasnya program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hingga 19 September 2026, sebanyak 589 kasus TBC telah ditemukan dan mendapat pengobatan dari target 972 kasus, sementara cakupan CKG sudah mencapai 49,35 persen atau lebih dari 105 ribu pemeriksaan.

Dengan demikian, masih ada selisih 383 kasus dari target penemuan dan pengobatan TBC yang perlu dikejar. Pada saat bersamaan, pelacakan TBC yang terintegrasi dengan CKG telah berjalan di 65 dari 150 lokus sasaran.

Data tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus dan Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus ke Kota Banjar, Senin (21/9/2026).

589 Kasus TBC Sudah Diobati

Dilansir dari Pemkot Banjar, pemerintah daerah terus memperkuat penanggulangan TBC melalui pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan TBC, penyusunan Rencana Aksi Daerah, serta penguatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC.

Hingga 19 September, capaian penemuan dan pengobatan mencapai 589 kasus dari target 972.

Angka tersebut menunjukkan program penanganan sudah berjalan. Namun, target belum selesai karena masih terdapat 383 kasus yang menjadi ruang pencapaian berikutnya.

Wakil Wali Kota Banjar Dr. H. Supriana, M.Pd., menekankan bahwa penanggulangan TBC harus dilakukan secara menyeluruh.

Masyarakat yang berisiko perlu ditemukan. Setelah itu, diagnosis harus dilakukan secara tepat dan pasien memperoleh pengobatan sampai sembuh.

Tidak kalah penting, kontak erat pasien juga perlu mendapat upaya pencegahan.

Pola tersebut membuat penanganan TBC tidak berhenti pada pencatatan jumlah kasus. Pemerintah perlu memastikan setiap tahapan berjalan dari penemuan, diagnosis, pengobatan, hingga pencegahan penularan.

CKG Sudah Tembus 105 Ribu Pemeriksaan

Di sisi lain, Cek Kesehatan Gratis Banjar menunjukkan capaian yang cukup luas.

Hingga pertengahan September 2026, cakupan CKG mencapai 49,35 persen dari sasaran, dengan jumlah pemeriksaan lebih dari 105 ribu. Capaian tersebut menempatkan Kota Banjar sebagai daerah dengan cakupan tertinggi kedua di Jawa Barat berdasarkan data yang disampaikan pemerintah daerah.

Wamenkes dan Wamendagri kemudian meninjau langsung pelaksanaan CKG di Aula Kelurahan Purwaharja. Sebanyak 100 warga mengikuti pemeriksaan pada lokus tersebut.

Rangkaian kunjungan tidak berhenti di Purwaharja. Rombongan juga meninjau fasilitas pelayanan di BLUD RSU Kota Banjar, termasuk ruang perawatan dan CT Scan.

Dari sisi pelayanan publik, pemeriksaan dalam jumlah besar memberi peluang untuk menemukan berbagai persoalan kesehatan lebih awal.

Namun, nilai pemeriksaan tidak hanya terletak pada jumlah warga yang datang.

Yang lebih penting adalah bagaimana hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti ketika ditemukan penyakit atau faktor risiko.

D'Arrian Collections

Tracing TBC Baru Menjangkau 65 dari 150 Lokus

Di sinilah angka 65 dari 150 lokus menjadi penting.

Pelacakan TBC yang terintegrasi dengan CKG telah dilaksanakan pada 65 lokus dari 150 lokasi yang menjadi sasaran. Artinya, masih terdapat ruang perluasan pelaksanaan tracing di lokus lainnya.

Integrasi tersebut membuat CKG memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pemeriksaan kesehatan umum.

Ketika pemeriksaan menemukan indikasi tertentu, masyarakat dapat diarahkan ke layanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan. Laporan mengenai pelaksanaan program di Banjar juga menyebut hasil skrining dapat ditindaklanjuti melalui fasilitas kesehatan apabila ditemukan penyakit atau faktor risiko.

Karena itu, perluasan CKG dan percepatan tracing TBC dapat berjalan beriringan.

Semakin luas jangkauan pemeriksaan, semakin besar pula peluang menemukan masyarakat yang membutuhkan tindak lanjut kesehatan.

Tiga Lokasi Jadi Titik Pantau Pemerintah Pusat

Kunjungan Wamendagri dan Wamenkes berlangsung di tiga lokasi, yakni Aula Kelurahan Purwaharja, BLUD RSU Kota Banjar, dan Pendopo Kota Banjar.

Di Pendopo, agenda berlanjut dengan koordinasi lintas sektor. Jajaran Forkopimda, Sekda, kepala perangkat daerah, tenaga kesehatan, serta unsur terkait lainnya mengikuti rangkaian kegiatan.

Kehadiran pemerintah pusat memberikan konteks lebih luas terhadap dua program yang sedang berjalan di Kota Banjar.

TBC membutuhkan penemuan kasus dan pengobatan yang konsisten. Sementara itu, CKG membutuhkan cakupan pemeriksaan yang luas sekaligus tindak lanjut yang jelas.

Keduanya akhirnya bertemu pada satu kebutuhan yang sama: data kesehatan yang mampu mengarahkan masyarakat kepada layanan yang tepat.

Setelah Angka Capaian, Apa yang Harus Dikejar?

Capaian 49,35 persen pada CKG memang menunjukkan jangkauan pemeriksaan yang sudah besar.

Begitu pula dengan 589 kasus TBC yang telah ditemukan dan diobati.

Namun, angka tersebut bukan garis akhir.

Masih ada 383 kasus dari target TBC yang menjadi pekerjaan berikutnya. Selain itu, tracing terintegrasi baru tercatat pada 65 dari 150 lokus sasaran.

Karena itu, fase berikutnya bukan hanya soal mengejar angka pemeriksaan.

Pemerintah perlu memastikan warga yang terindikasi mendapat tindak lanjut. Pasien TBC perlu memperoleh pengobatan sampai tuntas. Kontak erat juga harus masuk dalam upaya pencegahan.

Di sisi lain, masyarakat memiliki peran dengan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia dan mengikuti tindak lanjut apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya risiko kesehatan.

Banjar Sedang Mengejar Lebih dari Sekadar Angka

Kunjungan dua wakil menteri ke Kota Banjar memperlihatkan bahwa persoalan TBC dan CKG kini berjalan dalam satu ekosistem pelayanan kesehatan.

589 kasus dari target 972 menunjukkan masih ada ruang yang harus dikejar. 49,35 persen cakupan CKG menunjukkan pemeriksaan sudah menjangkau masyarakat dalam jumlah besar. Sementara 65 dari 150 lokus tracing memperlihatkan bahwa integrasi pelacakan TBC dengan pemeriksaan kesehatan masih dapat diperluas.

Pada akhirnya, angka-angka tersebut hanya menjadi berarti ketika berubah menjadi tindakan nyata.

Satu pemeriksaan yang menemukan penyakit lebih awal dapat mengubah perjalanan kesehatan seseorang. Satu pasien yang menyelesaikan pengobatan dapat memutus risiko penularan. Dan satu kontak erat yang dicegah sejak awal bisa menjadi satu kasus yang tidak pernah terjadi.

Banjar tidak hanya sedang mengejar target. Banjar sedang diuji: seberapa jauh angka pemeriksaan mampu berubah menjadi kesehatan yang benar-benar dirasakan warganya. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less