439 Personel Dikerahkan, Mengapa Kericuhan PSGC vs PSIS Meluas?
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pertandingan PSGC vs PSIS yang berakhir imbang 0-0.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kericuhan PSGC vs PSIS Semarang di Stadion Galuh, Kabupaten Ciamis, berlanjut ke sejumlah titik di luar stadion setelah pertandingan berakhir imbang 0-0, Sabtu (17/10/2026). Sebanyak 439 personel gabungan dikerahkan untuk menangani situasi, sedangkan polisi mengawal rombongan suporter PSIS hingga keluar dari wilayah Ciamis.
Insiden ini memunculkan pertanyaan tentang pengelolaan keamanan pertandingan, mulai dari pemisahan kelompok suporter di tribun hingga pengaturan perjalanan rombongan setelah laga. Namun, penilaian terhadap efektivitas pengamanan membutuhkan pemeriksaan kronologi dan evaluasi resmi, bukan sekadar melihat jumlah personel yang bertugas.
Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar menjelaskan bahwa keributan bermula dari kesalahpahaman di dalam stadion. Pintu pembatas antara suporter tim tamu dan pendukung PSGC dilaporkan jebol sehingga memicu ketegangan.
Kericuhan Bermula di Tribun Selatan
Pertandingan lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027 itu berlangsung di Stadion Galuh pada Sabtu malam. Ketegangan muncul di tribun selatan, tempat suporter tim tamu berada.
Menurut keterangan Kapolres Ciamis yang diberitakan detikJabar pada Minggu (18/10/2026), petugas dan steward sempat meredakan keributan di dalam stadion. Akan tetapi, situasi kembali memanas di area parkir minimarket Indomaret dekat stadion ketika rombongan suporter PSIS hendak menaiki bus untuk pulang ke Semarang.
Hingga kini, penyebab lengkap keributan dan pihak yang bertanggung jawab atas jebolnya pembatas memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, informasi mengenai pembukaan sekat atau tindakan kelompok tertentu tidak dapat dianggap sebagai kesimpulan final tanpa bukti yang memadai.
Insiden Merembet ke Sejumlah Titik Ciamis
Kericuhan PSGC vs PSIS tidak berhenti di sekitar Stadion Galuh. Polisi melaporkan adanya bentrokan atau kesalahpahaman susulan di kawasan Imbanagara, Jalan RE Martadinata dekat Universitas Galuh, Kawali, hingga Panawangan.
Perkembangan tersebut membuat pengawalan perjalanan suporter menjadi bagian penting dari penanganan situasi. Aparat mengawal rombongan PSIS hingga keluar dari Kabupaten Ciamis untuk menjaga keselamatan suporter dan masyarakat sekitar.
Meski demikian, kronologi di setiap lokasi perlu dibedakan. Laporan mengenai keributan di jalan tidak otomatis menjelaskan siapa yang memulai setiap insiden atau apakah seluruh kejadian memiliki pemicu yang sama.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar informasi yang beredar tidak menggeneralisasi seluruh pendukung PSGC maupun PSIS sebagai pihak yang terlibat dalam tindakan tertentu.
Sebanyak 439 Personel Gabungan Dikerahkan
Pengamanan pertandingan melibatkan 439 personel dari unsur Polri, TNI, Satpol PP, dan pemadam kebakaran. Petugas menangani situasi di sejumlah titik serta mengawal rombongan suporter tim tamu hingga meninggalkan wilayah Ciamis.
Kapolres menyatakan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kericuhan tersebut. Ia juga menyebut insiden itu menjadi bahan evaluasi bersama bagi kepolisian, panitia pelaksana, dan kelompok suporter.
Jumlah personel yang dikerahkan merupakan salah satu fakta penting dalam peristiwa ini. Namun, angka tersebut tidak cukup untuk menentukan apakah pengamanan berhasil atau gagal.
Evaluasi perlu memeriksa penempatan petugas, pengawasan akses tribun, kesiapan steward, pemisahan kelompok penonton, dan pengaturan arus keluar stadion. Selain itu, koordinasi pengawalan rombongan suporter setelah pertandingan juga perlu menjadi bagian dari penilaian.
PMII Ciamis Soroti Pencegahan Kericuhan
Kericuhan tersebut turut memunculkan kritik dari kalangan mahasiswa. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Ciamis menyoroti pola pengamanan dan mendorong evaluasi terhadap langkah pencegahan sebelum situasi memanas.
Kritik tersebut menjadi salah satu pandangan publik yang perlu mendapat ruang dalam pemberitaan. Namun, pandangan organisasi tidak dengan sendirinya membuktikan kelalaian pihak tertentu.
Untuk memperoleh gambaran yang utuh, evaluasi perlu melibatkan keterangan panitia pelaksana, petugas keamanan, perwakilan suporter kedua tim, dan saksi yang berada di lokasi. Jika terdapat dugaan pelanggaran hukum, penanganannya harus mengikuti proses pemeriksaan yang berlaku.
Dengan cara itu, perbaikan pengamanan dapat bertumpu pada fakta dan temuan, bukan saling menyalahkan.
Evaluasi Harus Menjangkau Sebelum dan Sesudah Laga
Pertandingan sepak bola melibatkan lebih dari pemain dan penonton di dalam stadion. Arus kedatangan, pemisahan kelompok suporter, akses keluar, hingga perjalanan pulang rombongan tamu juga membutuhkan perencanaan.
Karena itu, panitia pelaksana dan aparat perlu meninjau kembali prosedur pengamanan sebelum pertandingan berikutnya. Pengelola stadion juga perlu memastikan pembatas dan jalur pergerakan penonton berfungsi sesuai peruntukannya.
Di sisi lain, kelompok suporter memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan tidak terpancing provokasi. Masyarakat yang tidak terlibat dalam pertandingan juga harus terlindungi dari dampak keributan.
Sebanyak 439 personel telah dikerahkan, tetapi ukuran utama pengamanan bukan jumlah petugas yang hadir. Ukurannya adalah apakah pertandingan berakhir dengan aman, suporter dapat pulang tanpa ancaman, dan warga tidak ikut menanggung risiko kericuhan. (Red)
- Penulis: redaktur
