Skrining TBC di Tasikmalaya Mulai Menyasar Tingkat Keluarga
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi skrining TBC dan pemeriksaan kesehatan warga berbasis keluarga di Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Skrining TBC di Kota Tasikmalaya mulai diarahkan lebih dekat ke tingkat keluarga. Pendekatan ini terlihat dalam kegiatan di Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cipedes, ketika pemerintah meninjau pemeriksaan warga sekaligus memperkuat pelacakan masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan.
Kegiatan berlangsung Selasa, 22 September 2026. Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR. bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus hadir di lokasi. Keduanya didampingi Wali Kota Tasikmalaya, Ketua TP PKK Kota Tasikmalaya, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Dilansir dari Pemkot Tasikmalaya, sekitar 100 warga mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada kegiatan tersebut.
Namun, perhatian dalam kunjungan itu tidak hanya tertuju pada warga yang datang untuk memeriksakan diri. Pendataan keluarga, peran kader, serta kemampuan puskesmas menindaklanjuti warga berisiko menjadi bagian penting dalam upaya menemukan TBC lebih awal.
TBC Mulai Dicari dari Lingkungan Keluarga
Penanganan TBC tidak cukup hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan. Pemerintah kini mendorong pendekatan yang lebih aktif dengan menelusuri kontak erat dan lingkungan tempat pasien tinggal.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menegaskan strategi deteksi dini TBC hingga tingkat rumah tangga. Pemerintah bahkan mendorong pelacakan seluruh kontak erat pasien untuk mempercepat penemuan kasus dan memutus rantai penularan.
Karena itu, skrining TBC menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut.
Di Cilembang, pemeriksaan kesehatan masyarakat dilakukan bersamaan dengan CKG. Sekitar 100 warga mengikuti pemeriksaan ketika Wamenkes dan Wamendagri meninjau kegiatan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pencarian masalah kesehatan dapat dilakukan lebih dekat dengan lingkungan warga. Selanjutnya, hasil pemeriksaan perlu masuk ke proses tindak lanjut agar warga yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam tidak berhenti pada tahap skrining.
Teknologi Pemeriksaan TBC Disebut Berubah Mulai 2027
Dalam kegiatan tersebut, Wamenkes menyampaikan rencana penggunaan alat pemeriksaan TBC yang lebih canggih mulai 2027.
Menurut penjelasan yang disampaikan, metode pemeriksaan nantinya menyerupai pengambilan sampel melalui swab tenggorokan seperti yang dikenal masyarakat ketika pandemi COVID-19. Hasil pemeriksaan juga disebut dapat diketahui pada hari yang sama.
Poin tersebut perlu dipahami sebagai rencana yang disampaikan Wamenkes, bukan sebagai teknologi yang sudah berlaku secara nasional saat ini.
Pengembangan teknologi pemeriksaan cepat memang menjadi bagian dari arah penguatan deteksi TBC. Kementerian Kesehatan juga telah menyebut pemanfaatan teknologi seperti Near Point of Care Testing untuk mempercepat diagnosis TBC.
Sebelumnya, Kemenkes juga pernah menjelaskan pengembangan metode PCR dengan sampel swab tenggorokan untuk skrining TBC.
Jika teknologi tersebut diterapkan sesuai rencana, hasil yang lebih cepat dapat membantu tenaga kesehatan menentukan langkah berikutnya. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan alat, tenaga kesehatan, alur pemeriksaan, serta tindak lanjut pasien.
Angka Kesembuhan Tinggi, Obat Tetap Harus Diminum Rutin
Selain berbicara mengenai pemeriksaan, Wamenkes mengingatkan warga mengenai pentingnya menjalani pengobatan secara disiplin.
Pasien TBC tidak cukup hanya rutin mengonsumsi obat. Pola makan dan aktivitas fisik juga perlu diperhatikan agar kondisi tubuh tetap mendukung proses pengobatan.
Dalam kegiatan tersebut, Wamenkes menyebut tingkat kesembuhan TBC di Indonesia mencapai sekitar 95 persen. Ia juga menyampaikan bahwa sebagian dari pasien yang tidak mencapai kesembuhan berkaitan dengan ketidakrutinan mengonsumsi obat.
Angka tersebut merupakan pernyataan Wamenkes dalam kegiatan di Cilembang. Karena itu, AlbadarPost tidak menempatkannya sebagai hasil perhitungan independen redaksi.
Pesan mengenai kepatuhan pengobatan memiliki kaitan langsung dengan strategi penemuan kasus. Pasien yang terdeteksi harus segera mendapatkan penanganan dan kemudian mengikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Dengan begitu, deteksi dini TBC tidak berhenti pada penemuan kasus. Prosesnya harus berlanjut hingga pasien memperoleh pengobatan dan menyelesaikan terapi.
Data Dasawisma Membantu Melacak Warga
Hal lain yang menarik dari kegiatan tersebut adalah keterlibatan kader PKK dan Dasawisma.
Di tingkat lingkungan, kader melakukan pendataan keluarga, termasuk kondisi sosial ekonomi dan kesehatan. Data tersebut kemudian tercatat melalui Aplikasi Sikawan PKK.
Keberadaan data tersebut dapat membantu puskesmas memperoleh gambaran mengenai warga yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Dengan demikian, sistem kesehatan tidak hanya mengandalkan warga yang datang secara mandiri ke fasilitas pelayanan.
Pendekatan berbasis komunitas juga sejalan dengan strategi Kemenkes yang mendorong deteksi TBC hingga tingkat rumah tangga dan pelacakan kontak erat secara lebih luas.
Di sinilah peran kader menjadi penting. Mereka berada lebih dekat dengan keluarga dan lingkungan sehingga dapat membantu menemukan persoalan yang mungkin tidak langsung terlihat dalam layanan kesehatan formal.
Skrining TBC Harus Berujung pada Tindak Lanjut
Wamenkes juga menyampaikan bahwa Jawa Barat termasuk provinsi dengan penanganan TBC yang baik di tingkat nasional. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pesan dalam kunjungan ke Cilembang.
Namun, capaian daerah tidak berarti persoalan TBC telah selesai.
Justru tantangan berikutnya adalah memastikan warga yang berisiko benar-benar terjangkau. Setelah skrining dilakukan, harus ada pemeriksaan lanjutan bagi warga yang membutuhkan. Kontak erat juga perlu mendapatkan penanganan sesuai hasil pemeriksaan.
Karena itu, ukuran keberhasilan skrining TBC di Tasikmalaya tidak semata-mata terletak pada jumlah warga yang diperiksa dalam satu kegiatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa kasus yang ditemukan, berapa warga yang mendapat tindak lanjut, apakah kontak erat terlacak, dan apakah pasien yang terdiagnosis benar-benar menjalani pengobatan sampai selesai?
Di titik itulah data keluarga, kader, puskesmas dan pemerintah daerah harus bekerja sebagai satu rangkaian.
Bukan Sekadar Memeriksa, Tetapi Menemukan Lebih Awal
Kunjungan Wamenkes dan Wamendagri ke Kelurahan Cilembang memperlihatkan bahwa penanganan TBC semakin membutuhkan kerja lintas sektor.
Pemerintah pusat membawa kebijakan dan penguatan program. Pemerintah daerah menggerakkan layanan. Puskesmas melakukan pemeriksaan serta tindak lanjut. Sementara itu, kader PKK dan Dasawisma membantu mengenali kondisi keluarga di tingkat lingkungan.
Jika seluruh mata rantai tersebut berjalan, warga berisiko dapat ditemukan lebih cepat.
Namun, pekerjaan tidak selesai ketika alat pemeriksaan menunjukkan hasil. Setelah itu masih ada keputusan medis, pengobatan, pemantauan, kepatuhan pasien, serta perlindungan terhadap kontak erat.
TBC tidak selalu terlihat dari pintu depan rumah. Karena itu, penanganannya pun tidak cukup menunggu pasien datang ke puskesmas. Perang melawan TBC harus dimulai lebih dekat: dari keluarga, dari data, dari skrining, lalu memastikan setiap temuan benar-benar mendapat tindak lanjut. (Red)
- Penulis: redaktur







