Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Bamboo Festival Ditutup, Usulan Bidang Kehutanan Tasikmalaya Belum Terwujud

Bamboo Festival Ditutup, Usulan Bidang Kehutanan Tasikmalaya Belum Terwujud

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
  • visibility 29
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penutupan Priangan Bamboo Fest 2026 di Kota Tasikmalaya bukan hanya menandai berakhirnya pameran kerajinan bambu. Momentum ini juga memunculkan kembali pertanyaan mengenai tindak lanjut penguatan kelembagaan sektor kehutanan yang dinilai penting untuk mendukung potensi bambu daerah.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, mendorong pembentukan bidang kehutanan di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Ia menyebut usulan tersebut pernah diajukan sekitar setahun sebelumnya, tetapi hingga penutupan festival pada Minggu malam, 18 Oktober 2026, belum terealisasi.

Pernyataan itu menjadi catatan penting setelah festival yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 tersebut menampilkan potensi bambu sebagai bahan kerajinan, produk kreatif, dan material ramah lingkungan. Tantangannya kini bukan sekadar mempromosikan bambu, melainkan memastikan gagasan pengembangannya memperoleh dukungan kebijakan dan program yang berkelanjutan.

Priangan Bamboo Fest 2026 Berakhir, Apa Tindak Lanjutnya?

Priangan Bamboo Fest 2026 berlangsung di Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK), Jalan Letjen Mashudi, Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya.

Festival tersebut tidak hanya menghadirkan pameran. Pemerintah kota sebelumnya juga menyebut adanya kegiatan edukasi usaha, literasi keuangan dan pembiayaan, pengembangan desain, konsultasi bisnis, serta Bamboo Youth Innovation Camp yang melibatkan generasi muda.

Berbagai kegiatan itu membuka ruang bagi perajin untuk mengembangkan produk dan memperluas jaringan usaha. Namun, manfaat jangka panjangnya tetap perlu dilihat dari hasil konkret setelah kegiatan berakhir, seperti kemitraan yang berlanjut, akses pasar, pengembangan produk, dan dukungan bagi pelaku usaha.

Karena itu, penutupan festival semestinya menjadi titik awal evaluasi. Seberapa jauh promosi bambu dapat diterjemahkan menjadi program pengembangan industri kreatif yang berkesinambungan?

Diky Candranegara Soroti Usulan Bidang Kehutanan

Dalam sambutan penutupan, Diky menyampaikan harapan agar pembentukan bidang kehutanan segera mendapat tindak lanjut. Menurutnya, keberadaan unit tersebut penting agar pemerintah kota lebih siap apabila terdapat program atau dukungan anggaran dari pemerintah provinsi maupun kementerian yang menangani sektor kehutanan.

Ia juga menyebut usulan pembentukan bidang tersebut pernah diajukan sekitar setahun sebelumnya, tetapi belum terealisasi.

Pernyataan ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperjelas status usulan tersebut. Apakah pembahasannya masih berlangsung, memerlukan penyesuaian struktur organisasi, atau menghadapi kendala administratif tertentu?

Belum tersedia informasi terperinci mengenai alasan usulan itu belum terealisasi. Karena itu, penyebabnya tidak dapat disimpulkan hanya dari pernyataan saat festival. Penjelasan resmi dari perangkat daerah terkait diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.

Meski demikian, isu ini relevan untuk ditindaklanjuti. Kesiapan kelembagaan dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi peluang program, menyusun usulan, dan menjalankan kegiatan sesuai kewenangannya.

Arboretum Bambu Masih Berupa Harapan

Selain mendorong penguatan kelembagaan, Diky menyampaikan harapan mengenai pengembangan kawasan arboretum bambu. Ia membayangkan kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat pengembangan dan pengenalan bambu, tetapi juga dilengkapi panggung skate serta ruang untuk menampilkan karya seni dan kerajinan berbahan bambu.

Gagasan itu berpotensi mempertemukan pelestarian tanaman, kreativitas, edukasi, dan kegiatan ekonomi. Jika dikembangkan dengan perencanaan yang matang, kawasan tersebut dapat menjadi ruang bagi perajin, seniman, komunitas, dan generasi muda untuk memperkenalkan karya berbasis bambu.

Namun, arboretum tersebut masih harus diposisikan sebagai harapan yang disampaikan wakil wali kota. Belum ada informasi terverifikasi dalam laporan penutupan festival yang memastikan jadwal pembangunan, lokasi final, alokasi anggaran, atau tahapan pelaksanaannya.

Kejelasan aspek tersebut penting agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana. Masyarakat juga perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab, bagaimana rencana pembiayaannya, dan indikator apa yang akan digunakan untuk menilai keberhasilannya.

Potensi Bambu Perlu Dukungan Kebijakan dan Pasar

Pemkot Tasikmalaya sebelumnya menempatkan bambu sebagai salah satu peluang pengembangan industri kreatif hijau. Dalam pembukaan festival, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menekankan pentingnya menghubungkan kualitas produk, desain, pemasaran, dan akses pembiayaan bagi perajin.

Arah tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan bambu membutuhkan lebih dari sekadar pameran. Perajin perlu memiliki akses terhadap pasar, peningkatan keterampilan, inovasi produk, serta kemitraan yang mendukung keberlanjutan usaha.

Di sisi lain, penguatan kelembagaan pemerintahan perlu disesuaikan dengan kewenangan dan kebutuhan organisasi. Pembentukan bidang baru bukan satu-satunya ukuran keberhasilan; yang lebih penting ialah adanya fungsi yang jelas, koordinasi lintas perangkat daerah, serta program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, tindak lanjut Priangan Bamboo Fest 2026 layak dinilai dari dua hal: kejelasan kebijakan pemerintah dan manfaat yang diterima perajin maupun pelaku usaha.

Menunggu Langkah Konkret Pemkot Tasikmalaya

Penutupan Priangan Bamboo Fest 2026 menyisakan pekerjaan lanjutan bagi para pemangku kepentingan. Usulan bidang kehutanan perlu memperoleh penjelasan mengenai status dan proses tindak lanjutnya. Sementara itu, gagasan arboretum bambu membutuhkan kajian, perencanaan, dan informasi resmi sebelum dapat disebut sebagai program yang akan dilaksanakan.

Pemkot juga perlu mengukur hasil festival secara terbuka. Data mengenai partisipasi perajin, transaksi, kemitraan usaha, akses pembiayaan, atau rencana tindak lanjut akan membantu masyarakat menilai manfaat kegiatan secara lebih objektif.

Bambu Tasikmalaya memiliki peluang untuk berkembang sebagai bagian dari industri kreatif daerah. Akan tetapi, potensi itu tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi hanya karena dipamerkan dalam festival.

Ukuran keberhasilan sesungguhnya terletak pada tindak lanjutnya: kebijakan yang jelas, program yang berjalan, dan manfaat yang dapat dirasakan perajin serta masyarakat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less