Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Tak Sekadar Prosedur, Ini Wajah Baru Layanan Kesehatan Tasikmalaya

Tak Sekadar Prosedur, Ini Wajah Baru Layanan Kesehatan Tasikmalaya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
  • visibility 138
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penguatan HAM kesehatan mulai menunjukkan arah baru di Kota Tasikmalaya. Tidak lagi sekadar formalitas, penerapan hak asasi manusia di sektor kesehatan kini bergerak menuju layanan yang lebih adil, inklusif, dan benar-benar dirasakan masyarakat.

Suasana itu terasa dalam kegiatan Penguatan Kapasitas HAM bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra Negara, hadir langsung dan menyimak jalannya kegiatan bersama para peserta yang didominasi tenaga kesehatan dan pejabat teknis.

Di ruang kegiatan, diskusi berlangsung hidup. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi pelayanan di lapangan—mulai dari antrean pasien hingga tantangan komunikasi antara tenaga medis dan masyarakat.

Berbasis Regulasi, Bukan Sekadar Wacana

Penguatan HAM kesehatan ini tidak berdiri di ruang kosong. Pemerintah mengacu pada sejumlah regulasi penting, seperti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, serta Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

Selain itu, arah kebijakan juga merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional HAM (RANHAM). Melalui kerangka ini, pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecepatan atau kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari sejauh mana hak pasien dihormati.

Kepala Kantor Wilayah Hak Asasi Manusia Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menekankan bahwa pendekatan berbasis HAM harus hadir dalam setiap lini pelayanan.
“Pelayanan kesehatan bukan hanya soal tindakan medis, tetapi juga bagaimana negara hadir menghormati martabat warganya,” ujarnya dalam forum tersebut.

Dari Teori ke Praktik di Lapangan

Namun, tantangan terbesar justru muncul saat teori bertemu realitas. Tidak semua prinsip HAM mudah diterapkan, terutama ketika tenaga kesehatan harus bekerja dalam tekanan tinggi.

Karena itu, kegiatan ini tidak berhenti pada pemaparan materi. Para ASN diajak berdiskusi, bahkan mengkritisi praktik yang selama ini berjalan. Mereka membahas bagaimana menghadapi pasien rentan, memastikan akses setara, hingga menghindari perlakuan diskriminatif.

Di sisi lain, pendekatan ini membuka perspektif baru. Petugas kesehatan mulai melihat bahwa pelayanan yang baik bukan hanya cepat, tetapi juga menghargai kondisi psikologis dan sosial pasien.

Mendorong Layanan Lebih Inklusif dan Manusiawi

Selanjutnya, penguatan HAM kesehatan diarahkan untuk menciptakan layanan yang inklusif. Artinya, siapa pun—tanpa memandang latar belakang ekonomi, usia, atau kondisi fisik—berhak mendapatkan pelayanan yang sama.

Pendekatan ini juga mendorong empati sebagai bagian dari standar pelayanan. Tenaga kesehatan tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga memahami kebutuhan pasien secara lebih utuh.

Akibatnya, interaksi antara petugas dan masyarakat menjadi lebih hangat. Kepercayaan publik pun perlahan tumbuh, terutama ketika masyarakat merasa dihargai, bukan sekadar dilayani.

Peran Pemerintah Daerah Jadi Penentu

Kehadiran Diky Chandra Negara dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan HAM bukan agenda sampingan. Pemerintah daerah mulai menempatkannya sebagai bagian penting dari reformasi pelayanan publik.

Lebih jauh, sinergi antara pemerintah dan ASN menjadi kunci. Regulasi yang kuat tidak akan berdampak tanpa implementasi yang konsisten di lapangan.

Karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Sebaliknya, ia menjadi titik awal perubahan budaya kerja di sektor kesehatan.

Menuju Standar Baru Pelayanan Publik

Ke depan, penguatan HAM kesehatan berpotensi menjadi standar baru pelayanan publik di Tasikmalaya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memperkuat rasa keadilan di tengah masyarakat.

Jika dijalankan secara konsisten, dampaknya akan terasa luas. Masyarakat tidak hanya mendapatkan layanan medis, tetapi juga merasakan perlakuan yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat besar. Namun, dari ruang-ruang pelayanan yang lebih ramah dan adil, kepercayaan publik bisa tumbuh—dan itulah fondasi utama pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. (Red)


 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Petugas kepolisian memasang garis polisi di lokasi Penemuan Mayat Cibeureum, Perum Bumi Kersanagara, Tasikmalaya.

    Geger, Mayat Pria 56 Tahun Ditemukan di Cibeureum

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 140
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penemuan Mayat Cibeureum menggegerkan warga Perum Bumi Kersanagara, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Selasa (17/02/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Peristiwa penemuan jenazah pria lanjut usia ini langsung menyita perhatian masyarakat. Kasus mayat ditemukan di Cibeureum tersebut memicu kerumunan warga yang ingin mengetahui kondisi di lokasi kejadian. Korban diketahui bernama Danil (56). Berdasarkan […]

  • Terpidana Korupsi

    Kejari Bandung Tangkap Terpidana Korupsi Setelah 12 Tahun Buron

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Kejari Bandung menangkap terpidana korupsi yang buron 12 tahun dan mengeksekusinya ke Lapas Banceuy. albadarpost.com, LENSA – Kejaksaan Negeri Bandung menuntaskan pelarian panjang seorang terpidana korupsi. Setelah 12 tahun buron, Syaf Mulyana—mantan Ketua Lembaga Kajian Ekonomi Bandung—akhirnya ditangkap dan dieksekusi ke Lapas Banceuy. Penangkapan ini menegaskan upaya penegak hukum membersihkan praktik korupsi yang masih menggerus […]

  • Perjusami Saka Bhayangkara

    Polsek Banjarsari Lepas Kontingen Perjusami Akbar

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 26
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Perjusami Saka Bhayangkara kembali menjadi wadah pembinaan karakter bagi generasi muda di Kabupaten Ciamis. Sebanyak 21 anggota Kontingen Saka Bhayangkara Polsek Banjarsari resmi diberangkatkan untuk mengikuti Perjusami Akbar Polres Ciamis yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026. Pelepasan kontingen dilaksanakan di halaman Mapolsek Banjarsari, Jumat (10/7/2026), sebagai bagian dari pembinaan kepemimpinan, kedisiplinan, dan […]

  • Learning Loss

    Nilai TKA Rendah, Salah Siswa?

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Nilai TKA rendah mencerminkan learning loss dan kesenjangan struktural pendidikan yang belum tertangani secara sistemik. Ujian sebagai Alarm, Bukan Vonis albadarpost.com, PERSPEKTIF – Rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali memantik perdebatan publik. Namun, persoalan ini tidak sesederhana angka rapor nasional. Nilai ujian yang rendah bukan vonis atas kemampuan siswa, melainkan alarm atas masalah struktural […]

  • reintroduksi banteng jawa

    Reintroduksi Banteng Jawa: Mandat Negara, Regulasi Konservasi, dan Celah Pertanggungjawaban

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 181
    • 0Komentar

    BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pusat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran bukan sekadar proyek konservasi. Program ini berdiri di atas kerangka hukum yang mengikat, dengan konsekuensi administratif dan pidana bagi pihak yang melanggar. Reintroduksi banteng jawa, menurut otoritas kehutanan, adalah implementasi langsung kewajiban negara […]

  • Jam Malam Media Sosial

    Inggris Batasi Media Sosial Remaja, Patut Jadi Contoh?

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 14
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Ketika banyak negara masih mencari cara terbaik melindungi anak di ruang digital, Inggris memilih langkah yang berbeda. Mengutip Reuters dan keterangan resmi Pemerintah Inggris, pemerintah berencana menerapkan pengaturan bawaan (default) yang membatasi akses media sosial bagi remaja berusia 16 hingga 17 tahun mulai pukul 00.00 hingga 06.00. Kebijakan yang dikenal sebagai […]

expand_less