Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Literasi Tasikmalaya Tumbuh dari Puisi Siswa dan Guru

Literasi Tasikmalaya Tumbuh dari Puisi Siswa dan Guru

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
  • visibility 27
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHLiterasi Tasikmalaya mendapat ruang baru melalui karya sastra. Murid dan guru MTs Negeri 3 Tasikmalaya meluncurkan buku antologi puisi dalam sebuah seminar pada Selasa, 15 September 2026, yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Chandra Negara.

Kegiatan tersebut bukan sekadar peluncuran sebuah buku. Lebih jauh, antologi puisi itu memperlihatkan bahwa budaya literasi sekolah dapat tumbuh melalui ruang yang sederhana: siswa dan guru membaca, menulis, lalu berani menunjukkan karya kepada publik.

Di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan layar digital, hadirnya karya dalam bentuk buku memberi pesan berbeda. Menulis masih memiliki tempat, terutama ketika sekolah mampu menyediakan ruang bagi siswa untuk menuangkan gagasan dan perasaannya.

Antologi Puisi Jadi Ruang Suara Pelajar

Puisi sering dianggap sebagai karya sederhana karena bentuknya pendek dan bahasanya tidak selalu rumit. Padahal, proses di balik sebuah puisi membutuhkan keberanian untuk memilih kata, menyusun gagasan, sekaligus menyampaikan sesuatu yang personal.

Hal itu membuat antologi puisi karya murid dan guru MTs Negeri 3 Tasikmalaya memiliki nilai tersendiri dalam penguatan literasi Tasikmalaya.

Buku tidak hanya menjadi hasil akhir. Proses menulis juga menjadi bagian penting karena siswa belajar mengolah pengalaman menjadi bahasa.

Pada saat yang sama, kehadiran guru sebagai bagian dari karya menciptakan ruang kolaborasi. Sekolah tidak hanya menempatkan literasi sebagai kegiatan membaca buku, tetapi juga memberi kesempatan kepada warga sekolah untuk menghasilkan karya.

Pendekatan seperti ini relevan bagi pendidikan. Sebab, kemampuan literasi tidak berhenti pada memahami teks. Siswa juga perlu belajar menyampaikan gagasan secara tertulis dan bertanggung jawab terhadap karya yang dibuat.

Diky Chandra Dorong Budaya Literasi Terus Berkembang

Ddilansir dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Chandra Negara hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas murid serta guru.

Ia berharap kegiatan literasi semacam itu terus dikembangkan sebagai wadah bagi generasi muda untuk berkarya, berkreasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri melalui tulisan.

Pesan tersebut menjadi penting karena budaya literasi membutuhkan ruang praktik. Ajakan membaca tentu penting, tetapi siswa juga membutuhkan kesempatan untuk menulis, berdiskusi, menyunting, kemudian mempublikasikan hasil karyanya.

Dengan demikian, literasi sekolah Tasikmalaya dapat berkembang melalui pengalaman nyata, bukan hanya melalui slogan.

Apresiasi dari pemerintah kota juga memberi sinyal bahwa karya siswa memiliki tempat dalam ekosistem pendidikan dan kebudayaan daerah.

Namun, apresiasi tentu bukan tujuan akhir.

Yang lebih penting adalah keberlanjutan kegiatan setelah buku diluncurkan.

Literasi Tidak Cukup Berhenti di Acara Peluncuran

Sebuah buku antologi dapat menjadi pencapaian penting bagi sekolah. Akan tetapi, tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan menulis tidak berhenti setelah acara selesai.

Sekolah dapat menjadikan momentum tersebut sebagai awal untuk membangun kebiasaan literasi yang lebih rutin.

Misalnya, siswa dapat memperoleh ruang untuk menulis secara berkala. Karya terbaik dapat dibaca dalam forum sekolah, dimuat dalam majalah sekolah, atau dikembangkan menjadi publikasi lain.

Guru pun memiliki peran penting sebagai pendamping. Mereka dapat membantu siswa memperbaiki tulisan tanpa mematikan gaya personal yang menjadi kekuatan karya sastra.

Langkah semacam itu akan membuat antologi puisi Tasikmalaya tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Karya tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju budaya menulis yang lebih konsisten.

Apalagi, minat membaca dan menulis tidak tumbuh hanya karena satu seminar. Kebiasaan membutuhkan latihan berulang serta lingkungan yang mendukung.

Dari Sekolah, Literasi Kota Bisa Dibangun

Penguatan literasi Tasikmalaya sebenarnya tidak harus selalu dimulai dari program besar.

Sekolah merupakan salah satu titik paling dekat untuk membangun kebiasaan tersebut. Ketika siswa memperoleh kesempatan membaca, menulis, berdiskusi, dan menerbitkan karya, proses literasi menjadi lebih terasa.

Dalam konteks ini, MTs Negeri 3 Tasikmalaya memberikan satu contoh bahwa karya sastra bisa menjadi bagian dari aktivitas pendidikan.

Karya siswa juga dapat menjadi jendela untuk melihat cara generasi muda memandang lingkungan mereka. Tema yang mereka pilih, kata-kata yang digunakan, hingga pengalaman yang dituangkan dapat memperlihatkan perspektif yang mungkin tidak muncul dalam pelajaran formal.

Karena itu, buku antologi bukan hanya kumpulan tulisan.

Ia juga dapat menjadi catatan kecil tentang suara generasi pada zamannya.

Di tingkat kota, pendekatan tersebut bisa diperluas melalui kolaborasi antarsekolah, komunitas literasi, perpustakaan, pegiat sastra, dan pemerintah daerah.

Semakin banyak ruang berkarya tersedia, semakin besar pula kemungkinan munculnya penulis muda dari Tasikmalaya.

Karya Sastra Sekolah Perlu Mendapat Ruang Lebih Panjang

Ada satu catatan yang patut diperhatikan.

Program literasi akan lebih berdampak apabila sekolah tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Peluncuran buku memang memberikan motivasi, tetapi ekosistem literasi membutuhkan kesinambungan.

Siswa perlu terus membaca. Mereka juga perlu terus menulis.

Guru membutuhkan ruang untuk membimbing. Sementara itu, sekolah perlu menyediakan kesempatan agar karya tidak hanya tersimpan di rak perpustakaan.

Dengan begitu, budaya literasi Tasikmalaya dapat bergerak dari acara menuju kebiasaan.

Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan sebagai pendukung. Karya siswa dapat dikenalkan melalui media sekolah, laman resmi, atau kanal digital lain yang dikelola secara bertanggung jawab.

Namun, digitalisasi sebaiknya menjadi alat, bukan pengganti proses membaca dan menulis itu sendiri.

Antologi Hari Ini, Kebiasaan Menulis Esok Hari

Peluncuran buku antologi puisi karya murid dan guru MTs Negeri 3 Tasikmalaya menjadi kabar positif bagi dunia pendidikan di Kota Tasikmalaya.

Kehadiran Wakil Wali Kota Rd. Diky Chandra Negara menambah perhatian terhadap kegiatan tersebut. Lebih penting lagi, kegiatan ini menunjukkan bahwa ruang literasi dapat lahir dari lingkungan sekolah dan berkembang melalui karya nyata.

Meski demikian, keberhasilan literasi tidak cukup diukur dari berapa banyak buku yang berhasil diluncurkan.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah buku itu terbit, siswa semakin berani membaca, menulis, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya baru.

Sebab, satu buku mungkin selesai diluncurkan dalam sehari. Tetapi budaya literasi hanya tumbuh ketika setelah acara usai, anak-anak masih ingin membuka halaman berikutnya—lalu menulis halaman mereka sendiri. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less