Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 6 Titik Kebakaran Garut dalam Sehari, Satu Nyaris Ancam SPPG

6 Titik Kebakaran Garut dalam Sehari, Satu Nyaris Ancam SPPG

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHKebakaran Garut kembali menjadi perhatian setelah enam titik kebakaran lahan ditangani dalam satu hari, Senin, 14 September 2026. Lokasinya tersebar di Kecamatan Banyuresmi, Tarogong Kaler, dan Leles.

Dari enam kejadian tersebut, kebakaran di Bukit Tegal Malaka, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, menjadi yang paling luas dengan area terdampak sekitar 3 hektare. Sementara itu, kebakaran di Lingkar Leles nyaris mencapai bangunan SPPG atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Rangkaian kejadian ini ditangani petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Garut bersama unsur terkait dan masyarakat.

Enam Titik Kebakaran Muncul dari Pagi hingga Malam

Berdasarkan laporan Damkar Garut, kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 10.45 WIB di Pasir Hayam, Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi.

Api membakar lahan sekitar 3.500 meter persegi. Pada lokasi tersebut, laporan petugas menyebut sisa pembakaran sampah yang terbawa angin kencang sebagai penyebab kebakaran.

Petugas bergerak cepat sehingga api berhasil dikendalikan sebelum merembet ke permukiman warga.

Lima menit kemudian, sekitar pukul 10.50 WIB, laporan berikutnya datang dari Perumahan Otista Village, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi.

Kebakaran melanda semak dan lahan kebun di belakang perumahan dengan luas sekitar 100 meter persegi. Api kembali dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Situasi lebih serius terjadi sekitar pukul 12.58 WIB di Bukit Tegal Malaka, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler.

Area terbakar diperkirakan mencapai sekitar 3 hektare. Penanganannya berlangsung kurang lebih tiga jam dengan melibatkan Damkar, BPBD, TNI, Polri, BKSDA, PMI, serta warga.

Tim gabungan berupaya mencegah api meluas menuju kawasan warung dan area wisata.

Untuk titik ini, penyebab kebakaran tidak boleh disimpulkan tanpa keterangan resmi. Fokus penanganan petugas adalah mengendalikan kobaran dan mencegah penjalaran api.

Sore hingga Malam, Api Kembali Muncul

Rangkaian kebakaran lahan Garut belum berhenti pada siang hari.

Sekitar pukul 16.00 WIB, petugas menangani kebakaran di Kampung Sengkeu, Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi.

Lahan sekitar 100 meter persegi terbakar di kawasan dekat jalan. Petugas melakukan pemadaman sebelum api mencapai kawasan vila di sekitar lokasi.

Kemudian, sekitar pukul 17.12 WIB, kebakaran kembali dilaporkan dari Perum Grand Tunas Regency, Desa Margaluyu, Kecamatan Leles.

Luas area yang terbakar sekitar 40 meter persegi. Pada lokasi tersebut, laporan Damkar menyebut sisa pembakaran di sekitar kawasan perumahan sebagai penyebab kebakaran.

Menjelang malam, sekitar pukul 19.10 WIB, petugas kembali bergerak ke Jalan Nangkaleah Baru atau Lingkar Leles, Desa Margaluyu.

Api membakar kawasan kebun bambu kering seluas sekitar 60 meter persegi.

Lokasi ini menjadi perhatian karena kobaran api nyaris mencapai bangunan SPPG atau dapur MBG.

Petugas berhasil mengendalikan api sebelum bangunan tersebut ikut terdampak.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa ukuran lahan yang terbakar bukan satu-satunya indikator risiko. Kebakaran dengan luas relatif kecil tetap dapat menjadi ancaman serius apabila berada dekat permukiman atau fasilitas penting.

Kebakaran Lahan Garut Melonjak Tajam

Enam kejadian dalam sehari tersebut terjadi ketika risiko kebakaran lahan di Garut memang sedang tinggi.

Data resmi Disdamkarmat Kabupaten Garut menunjukkan hingga 16 Agustus 2026 terdapat 163 kejadian kebakaran lahan. Angka itu meningkat tajam dibandingkan 21 kejadian sepanjang 2025, atau bertambah 142 kejadian dengan kenaikan mencapai 676,2 persen.

Pada periode yang sama, total seluruh kejadian kebakaran di Garut telah mencapai 338 kasus. Dari jumlah tersebut, 163 merupakan kebakaran lahan dan 175 lainnya masuk kategori kebakaran nonlahan.

Data tersebut memberikan konteks penting terhadap enam kejadian pada 14 September.

Artinya, persoalan kebakaran lahan di Garut bukan sekadar kejadian sporadis yang muncul dalam satu hari. Ada tren peningkatan yang perlu direspons melalui pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan cepat.

Pemkab Garut juga telah menetapkan Keputusan Bupati Garut Nomor 285 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Daerah Kabupaten Garut Tahun 2026. Keputusan tersebut ditetapkan pada 30 Juni 2026.

Jangan Anggap Remeh Api di Lahan Kering

Kondisi lahan kering dapat membuat api lebih mudah berkembang. Angin juga dapat mempercepat penjalaran ketika api sudah muncul.

Namun, faktor tersebut tidak berarti setiap kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan penyebab yang sama.

Dalam laporan enam kejadian tersebut, hanya lokasi tertentu yang memiliki keterangan penyebab. Karena itu, penyebab kebakaran di titik lain perlu tetap menunggu informasi resmi.

Hal ini penting agar pemberitaan tidak berubah menjadi spekulasi.

Di sisi pencegahan, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Pembakaran sampah, rumput, atau material kering sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terlebih ketika kondisi lingkungan mudah terbakar.

Sumber api juga harus benar-benar dipastikan padam sebelum ditinggalkan.

Apabila terlihat asap atau kobaran api di lahan terbuka, laporan secepatnya dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

Enam Titik dalam Sehari Jadi Peringatan

Enam kejadian kebakaran dalam sehari menunjukkan betapa cepatnya risiko dapat muncul di berbagai wilayah Garut.

Di Tegal Malaka, petugas harus bekerja sekitar tiga jam untuk mengendalikan kebakaran dengan area sekitar 3 hektare. Di Lingkar Leles, kobaran api bahkan nyaris mencapai bangunan SPPG.

Sementara itu, empat lokasi lainnya dapat ditangani sebelum api berkembang menuju kawasan yang lebih berisiko.

Kecepatan respons menjadi salah satu kunci dalam situasi seperti ini.

Namun, pencegahan tetap berada di garis paling depan.

Ketika kondisi lahan kering dan kebakaran lahan sedang meningkat, sumber api sekecil apa pun perlu diperlakukan serius. Bukan karena setiap api pasti menjadi bencana besar, tetapi karena tidak ada yang bisa memastikan seberapa cepat api akan membesar setelah bertemu material kering dan angin.

Enam titik kebakaran dalam sehari bukan sekadar angka dalam laporan Damkar. Ini adalah peringatan bahwa ketika lahan mengering, kelalaian kecil dapat berubah menjadi persoalan besar. Sebelum petugas memadamkan api, kewaspadaan masyarakat harus menjadi benteng pertama. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less