Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 558 Kebakaran di Garut, Sisa Pembakaran Jadi Penyebab Terbesar

558 Kebakaran di Garut, Sisa Pembakaran Jadi Penyebab Terbesar

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
  • visibility 54
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Garut mencatat 558 kejadian kebakaran sepanjang 2026 hingga Minggu ke-4 Oktober. Dari data penyebab yang tercatat, sisa pembakaran menjadi faktor paling dominan dengan persentase 36,56 persen.

Data kebakaran Garut tersebut memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran tidak hanya berkaitan dengan korsleting listrik. Aktivitas yang meninggalkan sisa pembakaran justru berada di posisi tertinggi dalam daftar penyebab yang tercatat.

Dikutip dari data Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pemadam Kebakaran, sebanyak 532 dari 558 kejadian atau 95,34 persen telah tertangani. Sementara itu, 26 kejadian atau 4,66 persen tercatat belum tertangani.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebakaran masih menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian di berbagai wilayah Kabupaten Garut.

Sisa Pembakaran Jadi Penyebab Tertinggi

Dalam data penyebab kebakaran, sisa pembakaran mencapai 36,56 persen, menjadi persentase tertinggi dibandingkan penyebab lain yang tercatat.

Korsleting listrik berada di urutan berikutnya dengan 19,18 persen. Kemudian, kebocoran gas atau selang mencapai 5,20 persen, sedangkan tungku atau kompor berada di angka 4,84 persen.

Selain itu, puntung rokok, obat nyamuk, dan korek gas tercatat sebesar 3,58 persen. Kebakaran akibat ODGJ atau sengaja dibakar mencapai 1,61 persen.

Sementara itu, bahan mudah terbakar atau meledak tercatat 0,54 persen.

Namun, ada satu angka yang juga perlu mendapat perhatian. Sebanyak 27,60 persen penyebab kebakaran masih tercatat belum diketahui.

Dengan demikian, data tersebut tidak bisa dibaca sebagai gambaran bahwa seluruh sumber kebakaran telah teridentifikasi. Sebaliknya, masih terdapat bagian kasus yang memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebabnya.

Leles Catat Kejadian Kebakaran Tertinggi

Dari sebaran wilayah, Leles menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran tertinggi, yakni 33 kejadian.

Pamengpeuk dan Tarogong Kaler masing-masing mencatat 32 kejadian. Kemudian Banyuresmi mencapai 31 kejadian, disusul Limbangan dengan 29 kejadian.

Garut Kota tercatat 27 kejadian. Selanjutnya Karangpawitan mencapai 22 kejadian, Cikelet 21 kejadian, sedangkan Cilawu dan Tarogong Kidul masing-masing mencatat 20 kejadian.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa kejadian kebakaran tidak terkonsentrasi pada satu kawasan saja. Karena itu, langkah pencegahan perlu berjalan secara luas, baik di lingkungan permukiman maupun kawasan lahan terbuka.

Kebakaran Lahan Capai 335 Kejadian

Dari total 558 kejadian, 335 merupakan kebakaran lahan. Sementara itu, kebakaran nonlahan tercatat sebanyak 223 kejadian.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi kebakaran lahan terhadap keseluruhan kejadian yang tercatat sepanjang periode tersebut.

Untuk kebakaran lahan, Leles kembali berada di posisi tertinggi dengan 28 kejadian. Pamengpeuk mencatat 27 kejadian, sedangkan Blok Limbangan mencapai 25 kejadian.

Berikutnya, Banyuresmi mencatat 24 kejadian dan Tarogong Kaler 23 kejadian.

Kondisi tersebut membuat aktivitas yang menggunakan api di sekitar lahan terbuka perlu mendapat perhatian. Api yang terlihat kecil dapat menyebar ketika bertemu material kering atau vegetasi yang mudah terbakar.

Agustus dan September Jadi Periode dengan Angka Tinggi

Jika dilihat berdasarkan bulan, Agustus mencatat 151 kejadian kebakaran, terdiri atas 122 kejadian lahan dan 29 kejadian nonlahan.

Pada September, jumlah kejadian mencapai 132 kasus, dengan 107 kejadian lahan dan 25 kejadian nonlahan.

Sementara hingga Minggu ke-4 Oktober, tercatat 13 kejadian. Rinciannya, sembilan merupakan kebakaran lahan dan empat kejadian nonlahan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran lahan memberikan porsi besar terhadap total kejadian yang tercatat sepanjang tahun berjalan.

Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama ketika masyarakat melakukan aktivitas yang melibatkan api di sekitar permukiman, kebun, lahan terbuka, maupun area dengan material yang mudah terbakar.

Pencegahan Dimulai dari Api yang Dianggap Sepele

Data kebakaran Garut 2026 memperlihatkan bahwa pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada instalasi listrik.

Korsleting listrik memang menyumbang 19,18 persen dari penyebab yang tercatat. Namun, sisa pembakaran berada jauh di atasnya dengan 36,56 persen.

Pada saat yang sama, masih terdapat 27,60 persen penyebab yang belum diketahui.

Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang melibatkan api. Pengawasan saat membakar sesuatu, memastikan api benar-benar padam, serta menjaga jarak dari material mudah terbakar merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko.

Pemeriksaan instalasi listrik juga tetap penting. Begitu pula dengan penggunaan kompor, gas, korek api, dan sumber api lainnya.

558 kebakaran bukan sekadar angka dalam laporan. Ketika sisa pembakaran menjadi faktor terbesar yang tercatat, api kecil yang dianggap sepele dapat menjadi awal dari persoalan besar—terutama ketika pengawasan berhenti sebelum api benar-benar padam. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less