Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Pangandaran Berdoa

5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Pangandaran Berdoa

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHKabar lima jurnalis yang belum ditemukan di Selat Sunda mengundang solidaritas insan pers di Pangandaran. Doa bersama untuk para pewarta tersebut digelar di Pos 5 Sunset, depan Hotel Grand Tirta, Minggu (20/9/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB itu menjadi ruang bagi insan pers dan sejumlah unsur yang hadir untuk bersama-sama mendoakan lima jurnalis yang mengalami musibah ketika menjalankan tugas jurnalistik memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dikutip dari Kodim 0625/ Pangandaran, Dandim 0625/Pangandaran Letkol Czi Citra Kurniawan, S.Hub.Int., M.H.I., turut hadir. Kehadirannya menunjukkan kepedulian terhadap para jurnalis yang sedang menghadapi musibah saat menjalankan tugas profesinya.

Sementara itu, lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang masih berstatus belum ditemukan setelah operasi SAR selama 10 hari dihentikan pada 17 September 2026. Pemantauan tetap dilakukan dan operasi dapat dibuka kembali apabila muncul informasi atau tanda baru mengenai keberadaan mereka.

Doa Bersama di Tepi Pantai Pangandaran

Minggu malam di Pos 5 Sunset memiliki suasana berbeda.

Para peserta tidak berkumpul untuk membahas agenda pemberitaan. Mereka datang untuk mendoakan rekan-rekan seprofesi yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Doa bersama tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis.

Harapan yang disampaikan juga sederhana. Para peserta ingin kelima jurnalis segera ditemukan dan proses pencarian dapat memberikan titik terang.

Karena itu, kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda komunitas pers. Momentum itu menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap keselamatan jurnalis ketika menjalankan pekerjaan di lapangan.

Pemberitaan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat bahwa doa bersama digelar oleh insan pers di Pangandaran pada Minggu malam, 20 September 2026.

Dandim Pangandaran Turut Menunjukkan Solidaritas

Kehadiran Dandim 0625/Pangandaran menjadi bagian dari dukungan terhadap para jurnalis yang sedang mengalami musibah.

Letkol Czi Citra Kurniawan hadir bersama Polres Pangandaran, Ketua DPRD Pangandaran dan unsur lain dalam suasana doa bersama tersebut. Kehadiran itu sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap keselamatan pekerja media yang menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.

Bagi jurnalis, pekerjaan tidak selalu berlangsung di ruang redaksi.

Wartawan dapat berada di jalan, kawasan bencana, wilayah pesisir, hingga lokasi yang memiliki risiko keselamatan. Karena itu, aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas jurnalistik.

Kasus lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda kembali menjadi pengingat mengenai risiko tersebut.

D'Arrian Collections

Lima Jurnalis Hilang Saat Meliput Anak Krakatau

Rombongan lima jurnalis dan tiga awak kapal sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada 7 September 2026.

Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas gunung api.

Menurut laporan ANTARA, komunikasi dengan rombongan terputus sekitar pukul 15.04 WIB pada hari yang sama. Sebelum komunikasi terputus, salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan titik lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB.

Lima jurnalis tersebut terdiri atas M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Tiga orang lainnya merupakan awak kapal.

Tim SAR kemudian melakukan pencarian selama 10 hari.

Dalam operasi tersebut, sejumlah objek sempat ditemukan di area pencarian. Namun, setelah pemeriksaan, temuan tersebut tidak terhubung dengan speedboat Arupadatu I yang membawa rombongan.

Operasi SAR akhirnya dihentikan pada 17 September setelah pencarian tidak menemukan tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah unsur terkait.

Solidaritas Pers Menjaga Harapan

Bagi komunitas pers, hilangnya lima jurnalis bukan sekadar sebuah berita.

Ada rekan kerja yang menunggu. Ada keluarga yang berharap. Ada pula sesama jurnalis yang memahami risiko ketika seseorang meninggalkan rumah untuk menjalankan tugas.

Itulah sebabnya doa bersama di Pangandaran memiliki arti penting.

Kegiatan tersebut tidak menggantikan proses pencarian. Namun, doa menjadi bentuk dukungan moral ketika keluarga dan rekan-rekan masih menunggu kepastian.

Di sisi lain, peristiwa ini juga mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi perhatian dalam setiap aktivitas jurnalistik, terutama ketika liputan berlangsung di kawasan dengan potensi bahaya alam.

Jurnalis memang dituntut berada dekat dengan peristiwa. Namun, kedekatan dengan sumber berita tidak boleh menghilangkan perhatian terhadap keselamatan diri dan tim.

Malam itu, Pangandaran tidak sedang mengejar sebuah berita.

Para insan pers justru berkumpul untuk mendoakan rekan yang belum kembali.

Ketika sebuah liputan membawa lima jurnalis pergi tanpa kabar, yang tersisa bukan hanya berita tentang kehilangan. Ada doa, solidaritas, dan harapan yang terus dijaga agar mereka menemukan jalan pulang. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less