Khutbah Idul Adha: Saat Manusia Sibuk Terlihat Hebat
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Khutbah Idul Adha.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tema: “Idul Adha Mengajarkan Taat, Saat Semua Ingin Terlihat Hebat”
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab dunia hari ini semakin ramai, tetapi hati manusia justru sering semakin kosong.
Hari ini kita berkumpul di lapangan dan masjid untuk merayakan Idul Adha. Kita mendengar takbir berkumandang. Kita melihat hewan kurban mulai disiapkan. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang:
Masihkah manusia rela taat kepada Allah ketika dunia terus mengajarkan untuk terlihat hebat di depan manusia?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Zaman sekarang, banyak orang lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan kejujuran.
Lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan rasa syukur.
Lebih sibuk mempercantik tampilan hidup daripada memperbaiki isi hati.
Bahkan kadang ibadah pun perlahan berubah menjadi pertunjukan.
Sedekah difoto.
Kurban direkam drone.
Doa diunggah.
Tangisan dibuat status.
Padahal Allah tidak pernah meminta manusia terlihat paling suci.
Allah hanya meminta manusia taat.
Karena itu, kisah kurban bukan hanya soal menyembelih hewan.
Tetapi soal menyembelih ego.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat dalam.
Yang Allah lihat bukan mahalnya sapi.
Bukan besarnya kambing.
Bukan ramai atau tidaknya pujian manusia.
Yang Allah lihat adalah:
- ikhlas atau tidak,
- jujur atau tidak,
- taat atau hanya ingin dipuji.
Jamaah rahimakumullah,
Kadang manusia modern terlalu sibuk ingin terlihat berhasil.
Padahal belum tentu hidupnya tenang.
Rumah makin besar.
Tetapi hati makin sempit.
Media sosial makin ramai.
Tetapi obrolan keluarga makin sepi.
Makanan makin mewah.
Tetapi rasa syukur makin tipis.
Karena itu, Idul Adha datang seperti alarm yang membangunkan manusia.
Bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling dipandang.
Tetapi siapa yang paling siap tunduk kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Di beberapa rumah hari ini, mungkin ada anak kecil yang bahagia hanya karena bisa makan sate bersama keluarganya. Ada panitia masjid yang tangannya masih bau asap dan darah sejak pagi. Ada ibu-ibu yang meniup kuah gulai panas sambil membungkus daging untuk tetangga.
Sederhana.
Tetapi justru di situlah kadang nilai Idul Adha terasa hidup.
Bukan di kemewahan.
Tetapi di keikhlasan.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Idul Adha mengajarkan satu hal penting:
Kadang yang paling berat dalam hidup bukan kehilangan harta.
Tetapi melepaskan ego.
Nabi Ibrahim AS diuji bukan karena Allah membenci beliau.
Justru karena Allah ingin menunjukkan:
bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada apa pun di dunia.
Hari ini mungkin kita tidak diminta menyembelih anak seperti Nabi Ibrahim.
Tetapi kita diminta:
- menyembelih kesombongan,
- menyembelih iri hati,
- menyembelih sifat rakus,
- dan menyembelih kebiasaan pura-pura bahagia demi penilaian manusia.
Karena itu, jangan biarkan Idul Adha hanya berhenti di suara takbir dan asap sate.
Biarkan Idul Adha masuk ke dalam hati.
Biarkan ia membersihkan sesuatu yang selama ini diam-diam membuat hidup terasa sesak.
Allah SWT berfirman:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Semoga Allah menerima ibadah kurban kita, membersihkan hati kita, dan menjadikan kita manusia yang lebih ikhlas dalam menjalani hidup.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ اللّٰهِ،
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
(Redaksi)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar