Kaget! Begini Hasil Cek Kesehatan Pegawai BPBD Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 18 Mei 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Satu persatu staf dan karyawan menunggu hasil screening di Aula BPBD kabupaten Tasikmalaya, Senin (18/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya di lingkungan BPBD memunculkan temuan yang mengejutkan. Mayoritas peserta screening diketahui mengalami kolesterol tinggi dan kadar asam urat di atas batas normal.
Temuan tersebut muncul setelah tim kesehatan melakukan pemeriksaan langsung ke kantor BPBD Kabupaten Tasikmalaya pada Senin (18/5/2026).
Ironisnya, kondisi itu justru ditemukan pada petugas yang sehari-hari dituntut selalu siap menghadapi situasi darurat dan bencana.
Kepala Tim Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Dede Subekti, menyebut hasil screening menjadi sinyal serius yang tidak bisa dianggap sepele.
“Banyak yang hasil ceknya kolesterol dan asam urat tinggi. Kalau dibiarkan, ini bom waktu. Apalagi tugas mereka di lapangan berat dan butuh kondisi fisik prima,” ujar Dede.
Kalimat itu langsung membuat suasana pemeriksaan berubah lebih sunyi. Sebagian pegawai tampak kembali melihat hasil pemeriksaan mereka. Ada yang mengernyit pelan. Ada juga yang hanya tertawa kecil sambil bercanda soal kebiasaan makan malam terlalu larut.
Namun dari raut wajah beberapa peserta, kekhawatiran tetap terlihat.
Pola Makan dan Kurang Istirahat Jadi Pemicu Utama
Menurut Dede, pola hidup menjadi faktor terbesar penyebab tingginya kasus kolesterol dan asam urat di lingkungan kerja BPBD.
Aktivitas lapangan yang padat membuat sebagian pegawai sulit menjaga pola makan dan waktu istirahat. Jadwal tugas yang tidak menentu juga sering membuat mereka mengonsumsi makanan cepat saji atau kopi berlebihan demi menjaga stamina saat bertugas.
Selain itu, kurang olahraga dan kebiasaan makan malam setelah tugas lapangan ikut memperburuk kondisi kesehatan.
“Pola makan dan minim istirahat sangat berpengaruh. Kalau terus dibiarkan, risiko penyakit serius bisa meningkat,” jelasnya.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas kesehatan melakukan pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat kepada para pegawai dan staf BPBD.
Hasil screening kemudian langsung diberikan kepada peserta agar mereka mengetahui kondisi tubuh masing-masing sejak dini.
Beberapa pegawai tampak cukup terkejut ketika angka kolesterol mereka melewati batas normal. Ada yang langsung bertanya soal makanan pantangan. Ada pula yang mulai membahas kebiasaan makan gorengan saat lembur malam.
Suasana seperti itu terasa sederhana. Tetapi cukup menggambarkan bagaimana penyakit gaya hidup sering datang tanpa disadari.
Dinkes Minta BPBD Lebih Serius Jaga Pola Hidup
Melihat hasil pemeriksaan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mendorong BPBD agar lebih rutin mengadakan screening kesehatan bagi pegawai.
Selain itu, lingkungan kerja juga diminta mulai memperhatikan pola konsumsi dan kebiasaan hidup sehat.
Peserta yang terindikasi memiliki gangguan kesehatan langsung diarahkan untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lanjutan di puskesmas.
Langkah tersebut penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat sebelum kondisi berkembang menjadi penyakit kronis.
Dede mengingatkan bahwa pekerjaan di bidang kebencanaan membutuhkan fisik yang kuat dan stamina stabil. Karena itu, kesehatan petugas menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan bencana.
“Jangan sampai yang seharusnya jadi penolong saat darurat justru tumbang karena penyakit gaya hidup,” katanya.
Pernyataan itu terasa cukup menohok.
Sebab selama ini masyarakat sering melihat petugas BPBD sebagai sosok yang selalu sigap turun ke lapangan saat banjir, longsor, atau bencana terjadi. Namun di balik kesiapan itu, banyak dari mereka ternyata menyimpan risiko kesehatan yang perlahan menumpuk.
Penyakit Gaya Hidup Kini Mulai Mengintai Pekerja Lapangan
Kasus kolesterol tinggi dan asam urat kini tidak hanya menyerang pekerja kantoran dengan aktivitas minim gerak. Pekerja lapangan pun mulai menghadapi risiko serupa akibat pola hidup yang tidak teratur.
Jadwal kerja panjang, tekanan pekerjaan, hingga kurang tidur menjadi kombinasi yang memicu gangguan kesehatan tanpa disadari.
Kondisi itu mulai banyak ditemukan di lingkungan kerja yang memiliki mobilitas tinggi, termasuk instansi penanganan bencana.
Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan rutin masih sering dianggap sepele oleh sebagian pekerja. Banyak orang baru memeriksakan diri ketika tubuh mulai memberikan keluhan serius.
Padahal dalam banyak kasus, penyakit seperti kolesterol tinggi berkembang perlahan dan tidak selalu memunculkan gejala sejak awal.
Karena itu, langkah jemput bola yang dilakukan Dinkes Tasikmalaya dinilai menjadi bentuk pencegahan penting sebelum kondisi kesehatan pegawai semakin memburuk.
Dan pagi itu di aula BPBD Tasikmalaya, angka-angka kecil di hasil pemeriksaan ternyata membawa pesan besar: tubuh yang terlihat kuat belum tentu benar-benar aman dari ancaman penyakit.
Kadang ancaman terbesar bagi petugas bencana bukan selalu banjir atau longsor di luar sana. Tetapi pola hidup yang diam-diam menggerogoti tubuh mereka sendiri setiap hari. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar