Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Syariat Dipakai untuk Menghakimi, Adab Justru Menghilang

Ketika Syariat Dipakai untuk Menghakimi, Adab Justru Menghilang

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
  • visibility 151
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Syariat dan adab semestinya berjalan beriringan. Namun belakangan, banyak orang terlihat lebih sibuk membawa dalil untuk menyalahkan sesama dibanding memperbaiki akhlak sendiri. Media sosial penuh ceramah keras, potongan ayat, hingga kalimat penghakiman yang dilontarkan seolah-olah surga sudah berada di tangan mereka.

Ironisnya, sebagian orang begitu lantang membicarakan dosa orang lain, tetapi lupa bahwa Islam juga mengajarkan kasih sayang, kelembutan, dan adab.

Hari ini, agama kadang berubah menjadi panggung untuk merasa paling benar.

Rajin Mengoreksi Orang, Lupa Mengoreksi Hati

Kita sering menemukan orang yang sangat mudah menulis ‘haram’ di kolom komentar, tetapi sulit mengucapkan maaf kepada keluarganya sendiri

Fenomena ini mudah ditemukan di media sosial. Ada yang sibuk mengomentari pakaian orang lain, ada yang gemar menghakimi pilihan hidup orang lain, bahkan ada yang merasa wajib mengukur tingkat keimanan seseorang hanya dari potongan video berdurasi beberapa detik.

Padahal, Rasulullah SAW justru dikenal sebagai pribadi yang lembut.

Beliau tidak berdakwah dengan caci maki. Beliau juga tidak menjadikan agama sebagai alat mempermalukan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)

Namun hari ini, sebagian orang justru lebih bangga terlihat keras daripada berakhlak baik.

Seolah-olah nada tinggi menjadi ukuran ketakwaan.

Dalil Dipakai seperti Palu

Di ruang digital, potongan ayat dan hadis kadang dipakai bukan untuk mengajak, tetapi untuk memukul.

Kalau ada orang berbeda pandangan, langsung dicap sesat.
>Kalau ada yang belum berhijrah, langsung dihina.
>Kalau ada yang salah, langsung dipermalukan ramai-ramai.

Padahal Allah SWT berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)

Ayat itu sering dibaca, tetapi sayangnya jarang benar-benar dipahami.

Banyak orang hafal dalil, tetapi lupa cara menjaga hati ketika berbicara kepada manusia lain.

Padahal tujuan syariat bukan untuk membuat manusia saling membenci.

Agama Bukan Tempat Memelihara Kesombongan

Satirnya, ada orang yang marah besar ketika agamanya dihina, tetapi santai saat dirinya menghina orang lain atas nama agama.

Ada yang merasa paling islami karena penampilannya berubah, tetapi lisannya justru makin tajam kepada sesama.

Ada juga yang rajin membahas neraka orang lain, namun lupa bertanya apakah dirinya sendiri sudah pantas masuk surga.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Masalahnya, kesombongan tidak selalu muncul lewat harta atau jabatan. Kadang ia tumbuh diam-diam melalui rasa paling benar dalam urusan agama.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Syariat Tanpa Adab Akan Kehilangan Cahaya

Islam tidak hanya berbicara tentang halal dan haram. Islam juga mengajarkan cara menghormati manusia, menjaga lisan, dan menahan ego.

Karena itu, ulama terdahulu sangat menekankan pentingnya adab sebelum ilmu.

Imam Malik bahkan pernah berkata:

“تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ”
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Sebab ilmu tanpa adab sering melahirkan manusia yang gemar menghakimi.

Sementara adab tanpa ilmu bisa membuat manusia kehilangan arah.

Keduanya harus berjalan bersama.

Media Sosial Membuat Semua Orang Merasa Jadi Hakim

Hari ini, media sosial memberi panggung besar bagi siapa saja untuk berbicara. Masalahnya, tidak semua orang siap menjaga lisannya ketika diberi ruang.

Akibatnya, kolom komentar berubah seperti ruang sidang.
Semua merasa punya hak mengadili.
Semua merasa paling benar.
Dan semua merasa paling suci.

Padahal belum tentu Allah menilai manusia berdasarkan seberapa keras ia berbicara tentang agama.

Bisa jadi Allah justru melihat seberapa lembut ia memperlakukan sesama.

Jangan jadikan syariat sebagai senjata untuk menyalahkan orang lain, sebab agama yang kehilangan kasih sayang hanya akan melahirkan manusia yang merasa suci sambil perlahan kehilangan hati.

وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • dampak macet

    Kemacetan Kronis dan Beban Mental Warga Jabar

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Kemacetan harian di Jawa Barat berdampak pada kesehatan mental warga dan perlu diperlakukan sebagai isu publik serius. albadarpost.com, LIFESTYLE – Kemacetan lalu lintas selama ini sering dipandang sebagai persoalan waktu dan kenyamanan. Warga mengeluh terlambat bekerja, bensin boros, dan produktivitas menurun. Namun di Jawa Barat, kemacetan harian mulai menunjukkan dampak yang lebih dalam. Ia tidak […]

  • Bupati Tasikmalaya Dr Cecep Nurul Yakin saat memberikan pernyataan tentang Sekolah Maung SMAN 1 Singaparna dan pendidikan unggulan.

    Bupati Tasikmalaya Soroti Sekolah Maung, Sebut Sejalan dengan Program Presiden

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bupati Tasikmalaya Dr. Cecep Nurul Yakin memberikan apresiasi terhadap keberadaan Sekolah Maung di SMAN 1 Singaparna. Program pendidikan unggulan tersebut dinilai memiliki arah yang sejalan dengan konsep sekolah berkualitas yang saat ini didorong pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurut Cecep, Sekolah Maung menjadi salah satu contoh pengembangan pendidikan yang […]

  • Guru membimbing siswa yang kehilangan motivasi belajar di kelas dengan pendekatan personal dan interaktif

    Motivasi Belajar Siswa Turun? Ini 5 Cara Guru Mengatasinya dengan Cepat!

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Motivasi belajar siswa menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan. Namun, tidak sedikit murid yang mengalami penurunan semangat belajar, bahkan kehilangan arah. Kondisi ini sering disebut sebagai krisis motivasi belajar siswa, penurunan semangat belajar, hingga hilangnya minat akademik. Oleh karena itu, guru perlu memahami strategi efektif untuk mengatasi masalah ini agar proses pembelajaran […]

  • Perpres 111/2025

    Pemkab Garut Sosialisasikan Perpres 111/2025

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 41
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Perpres 111/2025 menjadi materi sosialisasi yang diunggah melalui akun resmi Pemerintah Kabupaten Garut. Dalam unggahan tersebut, Pemkab Garut menjelaskan sejumlah poin mengenai ancaman nonmiliter yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029, termasuk pentingnya peran keluarga dan pendampingan generasi muda. Unggahan itu dikemas dalam beberapa […]

  • Ilustrasi 4 Sifat Wajib Rasul: Sidiq Amanah Tabligh Fathonah sebagai teladan kepemimpinan Islam.

    Sidiq Amanah Tabligh Fathonah: Teladan Kepemimpinan

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 220
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Empat Sifat Wajib Rasul—yakni Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah—menjadi fondasi utama dalam memahami karakter nabi dan rasul dalam Islam. Empat sifat rasul ini bukan sekadar konsep teologis, melainkan teladan kepemimpinan dan akhlak mulia yang relevan sepanjang zaman. Melalui sifat jujur, terpercaya, menyampaikan kebenaran, serta cerdas dan bijaksana, para rasul menunjukkan standar moral […]

  • Guru sedang membimbing siswa di kelas dengan penuh perhatian seperti orang tua kedua di sekolah

    Peran Guru sebagai Orang Tua Kedua yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 164
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di ruang kelas, peran guru sering kali lebih dari sekadar pengajar. Banyak siswa melihat guru orang tua kedua yang tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memberi perhatian, nasihat, dan bimbingan hidup. Karena itu, konsep guru sebagai orang tua kedua di sekolah, peran guru dalam mendidik karakter siswa, dan tanggung jawab guru […]

expand_less