Buya Hamka: Perjalanan Sulit yang Membentuk Sosok Besar
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

Buya Hamka. (Sumber: Wikipedia).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Keteladanan Buya Hamka tidak lahir dalam perjalanan yang selalu mudah. Sejak muda, ulama sekaligus sastrawan bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu menghadapi pergulatan keluarga, menempuh perjalanan untuk memperluas pengetahuan, dan mencari jalan pengabdian. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup tokoh yang kemudian dikenal luas melalui pemikiran, karya sastra, dan dakwahnya.
Kisah pembentukan karakter itu kembali menjadi perhatian menjelang penayangan film HAMKA: AWAL MULA (VOL 3). Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menilai perjalanan Hamka menghadirkan pelajaran tentang peran keluarga, ketangguhan menghadapi kesulitan, dan pentingnya menjaga kemabruran haji melalui perilaku sehari-hari.
Pernyataan itu ia sampaikan setelah menyaksikan film tersebut bersama keluarga besar MUI di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Namun, nilai penting kisah Hamka tidak berhenti pada pesan moral. Riwayat hidupnya menunjukkan bagaimana pengalaman, pergaulan intelektual, dan kebiasaan membaca ikut membentuk pemikirannya.
Keluarga dan Konflik Menjadi Bagian Perjalanan
Hamka lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, merupakan ulama terkemuka yang berperan dalam pembaruan pendidikan Islam di Minangkabau.
Sejak kecil, Hamka mengenal pendidikan agama. Ia belajar di Diniyah School dan Sumatera Thawalib, tetapi ketertarikannya tidak terbatas pada pelajaran keagamaan. Ia juga gemar membaca sastra dan cerita rakyat Minangkabau, minat yang kelak ikut mewarnai perjalanan kepengarangannya.
Kehidupan keluarganya tidak selalu berjalan mulus. Perceraian orang tuanya menjadi salah satu pengalaman penting dalam masa pertumbuhannya. Perbedaan pandangan dengan ayahnya juga mewarnai perjalanan Hamka dalam menentukan arah hidup.
Kisah tersebut memberi perspektif bahwa pembentukan karakter tidak berlangsung melalui satu jalur yang sederhana. Keluarga dapat menjadi sumber nilai dan pendidikan, tetapi dinamika di dalamnya juga dapat menghadirkan pergulatan yang menuntut kedewasaan.
Dalam konteks masa kini, pelajaran itu relevan bagi orang tua maupun anak muda. Pendidikan karakter membutuhkan arahan dan ketegasan, tetapi juga ruang dialog agar perbedaan dapat dihadapi tanpa memutus hubungan.
Merantau untuk Memperluas Wawasan
Salah satu fakta penting dalam perjalanan intelektual Hamka ialah keputusannya merantau ke Pulau Jawa pada 1924. Di Yogyakarta dan kota-kota lain, ia berkenalan dengan pemikiran serta gerakan Islam yang berkembang saat itu.
Hamka belajar dari sejumlah tokoh pergerakan, antara lain H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, dan Haji Fachruddin. Perjumpaan dengan lingkungan baru memperluas wawasannya tentang Islam, masyarakat, dan gerakan sosial.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Pergaulan, perjalanan, membaca, dan berdialog dengan orang yang memiliki pandangan berbeda juga dapat memperkaya pemahaman seseorang.
Meski demikian, merantau saja tidak otomatis menjadikan seseorang berpengetahuan luas. Pengalaman baru membutuhkan kemauan untuk menyimak, menimbang gagasan, dan mengolahnya menjadi pemahaman yang matang.
Hamka juga dikenal sebagai pembelajar mandiri. Ia mendalami berbagai bidang, termasuk agama, sastra, sejarah, filsafat, dan politik. Keluasan minat tersebut membantu menjelaskan mengapa kiprahnya tidak terbatas pada satu bidang.
Bagi generasi muda, perjalanan ini menyampaikan pesan yang lebih konkret daripada sekadar anjuran untuk tidak menyerah: perluas lingkungan belajar, bangun kebiasaan membaca, dan gunakan pengetahuan untuk memahami persoalan masyarakat.
Perjalanan ke Makkah dan Lahirnya Pengalaman Baru
Pada 1927, Hamka berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan tersebut juga memberinya kesempatan memperdalam bahasa Arab dan memperoleh pengalaman yang kemudian memengaruhi karya sastranya.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa pengalaman Hamka selama berada di Makkah menjadi salah satu sumber inspirasi bagi novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Karya tersebut memperlihatkan hubungan antara pengalaman hidup, pengamatan sosial, dan kreativitas seorang penulis.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa perjalanan ke Tanah Suci bagi Hamka tidak hanya berkaitan dengan ibadah. Pengalaman itu juga menjadi bagian dari proses intelektual dan kesusastraannya.
Kisah tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan bermakna ketika seseorang mampu mengambil pelajaran darinya. Pengalaman tidak selalu langsung mengubah kehidupan, tetapi dapat memperluas cara pandang dan memengaruhi keputusan pada masa berikutnya.
Kemabruran Haji Harus Terlihat dalam Kehidupan
Dalam pandangannya terhadap film tersebut, Amirsyah menyoroti pentingnya menjaga kemabruran haji sepanjang hayat. Pesan itu mengajak umat Islam melihat ibadah bukan sebagai pencapaian yang berhenti ketika rangkaian ritual selesai, melainkan sebagai komitmen untuk menjaga perilaku baik.
Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan hubungan yang baik dengan sesama merupakan bagian dari nilai yang perlu dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi orang yang telah menunaikan haji. Setiap orang dapat mempraktikkannya melalui tindakan nyata, mulai dari memenuhi tanggung jawab keluarga hingga memperlakukan orang lain secara adil.
Dengan demikian, keteladanan tidak cukup diukur melalui pengetahuan agama atau penghormatan terhadap tokoh tertentu. Nilai yang diyakini perlu tercermin dalam keputusan dan tindakan, terutama ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak mudah.
Film Biografi dan Pelajaran bagi Generasi Muda
Film HAMKA: AWAL MULA (VOL 3) disutradarai Fajar Bustomi dan dibintangi Vino G. Bastian. Berdasarkan informasi resmi Cinema XXI, ceritanya menyoroti masa muda Hamka di Maninjau, konflik keluarga, perjalanan ke Makkah, serta pencarian tujuan hidup. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.
Film biografi dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tokoh sejarah kepada generasi baru. Namun, penonton tetap perlu membedakan penggambaran dramatik di layar dari fakta sejarah yang dapat ditelusuri melalui sumber tepercaya.
Mengenal Hamka juga sebaiknya tidak berhenti pada menonton film atau mengagumi perjalanan hidupnya. Pembaca dapat melanjutkannya dengan menelusuri karya, pemikiran, dan kontribusinya bagi masyarakat.
Pada akhirnya, kebesaran Buya Hamka tidak terbentuk dalam satu malam. Ia tumbuh melalui proses belajar, pengalaman hidup, perjumpaan dengan berbagai pemikiran, dan keberanian untuk terus mengembangkan diri.
Sebab, sosok besar tidak lahir karena hidup selalu mudah, melainkan karena setiap pengalaman diolah menjadi ilmu, dan setiap ilmu diperjuangkan agar memberi manfaat bagi sesama. (Red)
- Penulis: redaktur
