Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Sebelum TNI Berdiri, Ada Jejak Santri dalam Perjuangan Republik

Sebelum TNI Berdiri, Ada Jejak Santri dalam Perjuangan Republik

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA — Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak lahir dari satu kelompok saja. Sebelum menjadi institusi militer nasional seperti sekarang, perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk para santri, kiai, pemuda, dan laskar perjuangan.

Di antara jejak tersebut terdapat Laskar Hizbullah dan Sabilillah, dua kelompok yang memiliki keterkaitan kuat dengan lingkungan pesantren. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Namun, penting untuk membedakan antara kontribusi santri dalam perjuangan kemerdekaan dan proses institusional pembentukan TNI. Santri bukan satu-satunya unsur pembentuk TNI dan tidak tepat jika TNI disebut lahir hanya dari kalangan santri.

Dari BKR hingga TNI

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi kebutuhan untuk membangun kekuatan pertahanan nasional.

Proses tersebut berlangsung secara bertahap. Badan Keamanan Rakyat (BKR) kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), sebelum mengalami perubahan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan akhirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Artinya, pembentukan TNI merupakan proses sejarah yang melibatkan berbagai kekuatan dan pengalaman perjuangan rakyat Indonesia.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI juga menjelaskan bahwa pertahanan negara merupakan upaya bersama seluruh bangsa. Dalam penjelasan historisnya, perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan berbagai kelompok rakyat dan kekuatan bersenjata.

Karena itu, kontribusi kelompok seperti Hizbullah dan Sabilillah lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari spektrum perjuangan rakyat yang ikut membentuk pengalaman pertahanan Republik, bukan sebagai satu-satunya sumber lahirnya TNI.

Jejak Hizbullah dari Lingkungan Pesantren

Keterlibatan santri dalam perjuangan bersenjata memiliki akar sejak masa pendudukan Jepang.

Pada 1944, Laskar Hizbullah dibentuk dan para anggotanya yang berasal dari kalangan santri mendapatkan latihan militer. Salah satu lokasi pelatihan yang dikenal dalam sejarahnya adalah Cibarusah, dekat Bogor.

Tujuan awal latihan tersebut berkaitan dengan kepentingan pertahanan pada masa pendudukan Jepang. Namun, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pengalaman dan jaringan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjuangan menghadapi ancaman terhadap Republik.

Sementara itu, Sabilillah juga menjadi salah satu laskar yang memiliki hubungan erat dengan kalangan ulama dan pesantren.

Kedua kelompok tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pesantren tidak sepenuhnya berada di luar dinamika perjuangan bersenjata. Sebagian santri dan kiai justru mengambil bagian ketika kemerdekaan menghadapi ancaman.

Resolusi Jihad dan Pertempuran Surabaya

Salah satu episode penting terjadi menjelang Pertempuran Surabaya.

Pada 22 Oktober 1945, Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan. Seruan tersebut kemudian menjadi salah satu konteks yang mendorong mobilisasi kalangan santri dan masyarakat dalam menghadapi ancaman Sekutu dan NICA.

Dalam pertempuran Surabaya, Hizbullah yang beranggotakan santri dan Sabilillah yang beranggotakan kalangan kiai menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang terlibat.

Karena itu, hubungan antara santri dan sejarah perjuangan Republik bukan sekadar simbolik.

Ada individu, laskar, jaringan pesantren, serta ulama yang benar-benar terlibat dalam dinamika mempertahankan kemerdekaan.

Namun, fakta tersebut tetap harus dibaca secara proporsional. Pertempuran Surabaya maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan merupakan gerakan luas yang melibatkan banyak kelompok masyarakat, bukan hanya laskar santri.

Santri Bukan “Pendiri TNI”, tetapi Punya Jejak Sejarah

Di sinilah pentingnya menempatkan sejarah secara tepat.

Mengatakan “TNI didirikan oleh santri” merupakan penyederhanaan yang tidak akurat. Begitu pula dengan klaim bahwa TNI merupakan kelanjutan langsung dari satu laskar tertentu.

TNI terbentuk melalui proses kelembagaan dan politik-militer yang panjang setelah kemerdekaan. Di dalam proses tersebut terdapat warisan dari berbagai organisasi, laskar, pasukan, dan unsur rakyat yang sebelumnya terlibat dalam perjuangan.

Dalam konteks itu, Hizbullah dan Sabilillah dapat dipahami sebagai salah satu bagian dari jejak kekuatan rakyat yang ikut berjuang mempertahankan Republik.

Perspektif tersebut justru membuat kontribusi santri terlihat lebih kuat karena tidak membutuhkan klaim berlebihan.

Dari Medan Perjuangan ke Refleksi Hari TNI

Memperingati Hari TNI tidak hanya berarti mengenang institusi militer yang berdiri setelah kemerdekaan.

Momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana kemerdekaan dipertahankan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Santri dan kiai merupakan salah satu bagian dari sejarah tersebut. Mereka hadir melalui pendidikan pesantren, jaringan sosial, laskar perjuangan, serta keterlibatan dalam berbagai episode mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah ini menunjukkan bahwa pertahanan Indonesia sejak awal bukan hanya persoalan senjata. Di belakang perjuangan terdapat keberanian, organisasi, solidaritas masyarakat, dan kesadaran untuk mempertahankan negara yang baru merdeka.

Santri bukan satu-satunya jalan menuju lahirnya TNI. Namun, jejak mereka dalam perjuangan Republik merupakan bagian yang tidak layak dihapus dari sejarah. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less